Tautan-tautan Akses

Tim Prabowo: Slogan 'Make Indonesia Great Again' dari "Indonesia Raya"


Tim Prabowo-Sandi, (kiri-kanan) Haryadin Mahardika, Hashim Djojohadikusumo, Irawan Ronodipuro, Dian Fatwa saat melakukan konferensi pers di Prabowo-Sandi media center, di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (19/10). (Foto: VOA/Ghita)

Tim pemenangan calon presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto menyoroti persoalan perekonomian di Indonesia yang saat ini dipandang menurun. Hal tersebut bisa dilihat dari harga nominal makanan di Jakarta yang menurut Bank Dunia (World Bank), lebih mahal dibandingkan dengan Singapura.

Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hashim Djojohadikusumo menyoroti permasalahan krusial di Pemerintahan Jokowi-JK, yaitu harga nominal makanan di Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain seperti India dan Singapura. Hashim mengatakan data tersebut bukanlah data sembarangan, karena dipaparkan oleh World Bank. Dalam laporan World Bank disebutkan harga nominal makanan di Jakarta lebih mahal dibandingkan dengan New Delhi dan Singapura.

"Dengan nominal pricing, berarti itu dengan pricing yang berlaku. Saya tanya dua,tiga empat kali, karena saya tidak mau percaya, tapi World Bank katakan demikian. Nominal price harga makanan di Jakarta, lebih tinggi daripada harga makanan di Singapura, dan harga makanan di Jakarta dua kali lipat harga makanan di New Delhi, India. Itu bukan angka kami, itu angka dari World Bank," tandas Hashim.

Hashim Djojohadikusumo Soroti Tingginya Stunting

Dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (19/10), Hasyim lebih jauh mengatakan ia tidak heran jika 38 persen anak Indonesia saat ini mengalami stunting (gagal tumbuh) karena keluarga berpenghasilan rendah tidak mampu untuk membeli makanan yang sehat bagi anak-anaknya.

Data stunting tersebut, kata Hashim lagi-lagi berasal dari World Bank. Menurutnya sejak tahun 2006 Prabowo sudah mendapati bahwa angka stunting yang terjadi pada anak di Indonesia sudah mencapai 30 persen, dan meningkat menjadi 38 persen pada saat ini. Oleh karena itu Prabowo sangat serius dengan pemerataan gizi bagi seluruh anak di Indonesia.

Selain menyoroti masalah perekonomian, Prabowo juga menggulirkan niat “Make Indonesia Great Again”, di mana lewat slogan tersebut Prabowo ingin mengembalikan masa kejayaan Indonesia yang menurut Hashim saat ini mulai pudar. Bahkan Indonesia pada saat sekarang ini dianggap lemah dan tidak disegani oleh negara-negara lain didunia seperti dulu.

"Ya kita pernah disegani juga, tapi sekarang kita merasa bahwa kita agak lemah, suara Indonesia kan gak begitu dianggap. Zaman Pak Harto, Indonesia sebagai ketua Non Blok, kita disegani, kita dianggap negara mayoritas muslim terbesar di dunia. Tahun 55 Bung Karno mengadakan konferensi Non Blok pertama di Bandung, pemimpin dunia semua datang ke Indonesia, menghormati Indonesia sebagai salah satu pemimpin Gerakan Non Blok," tambah Hashim.

Pasangan Capres-Cawapres No. urut 2: Prabowo Subianto (kanan) dan Sandiaga Uno (foto: ilustrasi).
Pasangan Capres-Cawapres No. urut 2: Prabowo Subianto (kanan) dan Sandiaga Uno (foto: ilustrasi).

“Make Indonesia Great Again” Diambil dari Lagu Indonesia Raya

Meski begitu, Hashim menolak jika dikatakan slogan “Make Indonesia Great Again” meniru slogan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meluncurkan slogan “Make America Great Again” pada masa kampanyenya dulu. Slogan tersebut menurutnya diambil Prabowo berdasarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya,yang artinya Great Indonesia, dimana Prabowo ingin Indonesia menuju cita-cita para pendiri bangsa ini.

Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf Bantah Pernyataan Hashim

Ditemui secara terpisah Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Abdul Kadir Karding mengatakan pernyataan tim Prabowo-Sandi tentang harga nominal makanan itu tidak didasarkan pada data yang akurat. Abdul mencontohkan ketika Sandiaga Uno memaparkan harga nasi ayam di Jakarta lebih mahal dibandingkan Singapura, faktanya tidak demikian.

"Saya kira data itu tidak tepat. Dibandingkan dengan makanan apa saja saya kira Jakarta masih jauh lebih murah dibandingkan dengan Singapura. Pak Sandi pernah bilang bahwa harga nasi ayam lebih mahal di Indonesia daripada di Singapura. Kita cek, ternyata jauh kok (lebih murah). Harga ikan dan lainnya juga enggalah, engga seperti yang disampaikan. Kadang-kadang apa yang disampaikan datanya lemah, tidak akurat," tandas Abdul.

Selain itu, pihaknya juga membantah bahwa Indonesia mulai lemah, tidak diakui dan tidak disegani oleh negara lain lain. Faktanya, kata Abdul, Indonesia dihujani pujian dalam pertemuan tahunan IMF-World Bank karena berhasil menyelenggarakan acara dengan baik, seiring dengan upaya menangani serangkaian gempa di Palu dan Lombok secara intensif.

Selain itu Jokowi pun masuk ke dalam daftar 500 tokoh Muslim yang berpengaruh di dunia yang dirils oleh “The Muslim 500.” Menurut Abdul, ini membuktikan bahwa Indonesia masih diakui dan disegani oleh dunia. [gi/em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG