Tautan-tautan Akses

AS

Tiga Tahun Setelah Menang, Trump Hadapi Jalan Terjal Menuju Pemilu 2020


Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington, D.C., 11 Oktober 2019. (Foto: dok).

Jumat ini, 8 November, merupakan ulang tahun ketiga terpilihnya Donald Trump dalam pemilu 2016 sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat. Trump tetap merupakan kekuatan dalam politik Amerika, tetapi ulang tahun ketiga kenaikannya ke tampuk kekuasaan terjadi pada saat ia menghadapi ancaman paling buruk pada masa kepresidenannya: penyelidikan pemakzulan yang dipimpin oleh fraksi Demokrat di Kongres atas upayanya menekan Ukraina agar menyelidiki saingan politiknya, Joe Biden.

Tiga tahun telah berlalu sejak suatu malam pada bulan November 2016 ketika Donald Trump mengejutkan dunia dengan pemilihannya sebagai presiden ke-45 Amerika.

Dalam pidato kemenangannya, Trump di antaranya menyerukan persatuan, “Kepada semua warga dari Partai Republik maupun Partai Demokrat dan independen di seluruh negara ini, saya katakan sudah waktunya bagi kita untuk menjadi bangsa yang bersatu.”

Namun, seruan awal untuk persatuan itu memudar sejak lama.

Dalam salah satu pidatonya, dia pernah mengatakan, “Semakin banyak hal yang kita capai, orang Demokrat semakin benci dan marah.”

Trump kini mengandalkan basis pendukungnya yang setia untuk, pertama bertahan menghadapi pemakzulan, dan kemudian membawanya ke pemilihan ulang tahun depan.

Dalam sebuah kampanye baru-baru ini, Presiden Trump mengatakan, "Yang dipertaruhkan dalam pertarungan ini adalah kelangsungan hidup demokrasi Amerika itu sendiri. Jangan menipu diri sendiri. Itulah yang mereka inginkan. Mereka menghancurkan negara ini, tetapi kita tidak akan pernah membiarkannya terjadi.”

Penyelidikan pemakzulan di DPR difokuskan pada dugaan adanya upaya Trump untuk menekan Ukraina agar menyelidiki saingan politiknya, Joe Biden.

Biden telah menjadikan Trump sebagai isu dalam upayanya untuk memenangkan nominasi presiden dari Partai Demokrat tahun depan, seperti diungkapkannya dalam salah satu kampanye belum lama ini.

“Dia berbicara tentang akan terjadi perang saudara. Ini adalah orang yang jiwanya terganggu. Dia kacau. Saya khawatir tentang apa yang akan dilakukannya. Bukan soal saya atau keluarga saya, tapi saya khawatir tentang apa yang akan dilakukannya tahun depan pada masa kepresidenannya,” jelas Joe Biden.

Seperti dalam banyak hal selama kepresidenan Trump, penyelidikan pemakzulan dilakukan sesuai garis partai, kata analis John Fortier dari Bipartisan Policy Center, lembaga kajian bipartisan di Washington, D.C.

“Bagi Demokrat, mereka percaya presiden telah melakukan sesuatu yang salah dan mereka berpikir mereka akan menunjukkan lebih banyak bukti dan saya kira harapan mereka adalah bahwa hal itu akan mengubah opini publik terhadap presiden dan mungkin membiarkannya disingkirkan. Partai Republik, saya kira, melihat kejadian serupa pada masa lalu dan menganggap pemakzulan ini bisa menjadi bumerang bagi Partai Demokrat atau setidaknya tidak akan berhasil,” kata John Fortier.

Jajak pendapat menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump hanya sedikit di atas 40 persen, yang secara historis lemah bagi seorang presiden yang berkuasa untuk melawan pemakzulan dan pada saat yang sama berusaha untuk memenangkan pemilihan kembali.

Tetapi meremehkan pengaruh Trump pada basis politiknya berbahaya, kata ahli strategi Partai Republik John Feehery. “Apakah para pakar di Washington tidak bisa melihat segala hal tentang Trump? Tentu saja. Mereka tidak paham tentang daya tarik nyata orang ini yang sangat mendalam. Tetapi, salah satu alasan mengapa mereka mendukungnya adalah karena dia menepati janjinya dan dia membuat perekonomian berjalan,” jelasnya.

Bahkan, jika Trump akhirnya dimakzulkan oleh DPR yang dikontrol oleh Partai Demokratik, ia kemungkinan akan selamat dari sidang pemakzulan di Senat yang dikuasai oleh Partai Republik, kata analis William Galston dari Brookings Institution, suatu lembaga kajian kebijakan di Washington, D.C.

“Saya percaya sejak awal pembicaraan tentang pemakzulan, yang dimulai lebih dari setahun yang lalu, bahwa jika Demokrat ingin menyingkirkan Presiden Trump dari jabatannya, maka itu harus melalui proses pemilihan pada tahun 2020. Tidak ada yang saya lihat sejauh ini bisa membuat saya berubah pikiran sedikit pun,” komentarnya.

Tiga tahun memasuki kepresidenan Donald Trump yang penuh gejolak, warga Amerika kini mempersiapkan diri untuk menghadapi prospek terjadinya pertempuran partisan atas pemakzulan dan mungkin pemilihan yang paling sengit diperebutkan dalam ingatan kita. [lt/uh]

XS
SM
MD
LG