Tautan-tautan Akses

Thailand dan Filipina Perkuat Kerjasama Militer


Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, kanan, dan PM Thailand Prayuth Chan-ocha berjalan berdampingan seusai konfersi pers bersama di wisma pemerintah di Bangkok, Thailand, 21 Maret 2017 (foto: AP Photo/Sakchai Lalit)

Guna menanggulangi kejahatan lintas batas, termasuk perdagangan narkoba, Thailand dan Filipina sepakat hari Selasa untuk memperkuat kerjasama militer.

Pemimpin junta Thailand dan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, sepakat hari Selasa untuk memperkuat kerjasama militer dan bekerjasama untuk menanggulangi kejahatan lintas batas, termasuk perdagangan narkoba.

Duterte telah menghadapi kritik terkait sifat kampanye penanggulangan narkoba yang banyak menumpahkan darah, sementara junta Thailand berada di bawah tekanan dari Barat untuk memulihkan demokrasi hampir tiga tahun setelah mereka mengambil alih kekuasaan dnengan alasan untuk mengakhiri ketidakstabilan.

“Terkait masalah-masalah keamanan, Thailand dan Filipina bersedia untuk memperkuat kerjasama militer antara dua negara oleh karena keprihatinan kita tentang berkaitan dengan tantangan penanggulangan terorisme dan semua bentuk kejahatan transnasional,” demikian pernyataan PM Thailand Prayuth Chan-ocha setelah selesainya pertemuan.

Duterte juga mengacu secaa spesifik pada kampanye anti narkoba. Lebih dari 8.000 orang telah tewas sejak ia menjabat tahun lalu dan memulai kampanye pemberantasan narkoba.

Perselisihan di Laut China Selatan

Oleh karena Filipina menjadi ketua pertemuan regional ASEAN tahun ini, Duterte menekankan perlunya blok tersebut untuk menyelesaikan kerangka kerja pedoman perilaku untuk memastikan semua pihak mengikuti proses legal dan diplomatik dalam menyelesaikan pertikaian teritorial di Laut China Selatan.

Meskipun Filipina bergerak ke arah penyelesaian permasalahan dengan China terkait perairan yang dipermasalahkan di bawah Duterte, namu gesekan-gesekan masih ada.

Filipina berencana untuk melayangkan protes keras kepada China setelah Beijing mengumumkan persiapan pembangunan stasiun pemantauan lingkungan di beting yang menjadi lokasi perselisihan di Laut China Selatan, ungkap seorang menteri kabinet hari Selasa.

China telah menempatkan rudal-rudal dan radarnya pada pulau-pulau buatan di bagian lain dari Laut China Selatan, dimana kawasan tersebut juga diklaim oleh Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam.

Thailand tidak memiliki klaim teritorial di wilayah Laut China Selatan, namun sebaga salah satu negara besar yang menjadi anggota ASEAN, negara tersebut memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap blok tersebut. [ww]

XS
SM
MD
LG