Tautan-tautan Akses

Terorisme, Brexit Dominasi Kampanye Pemilu Inggris

  • Henry Ridgwell

Dua orang polisi (mengendarai sepeda) memeriksa tempat pemungutan suara yang akan digunakan untuk melaksanakan pemilihan umum Inggris, Bermondsey Village Hall di area Jembatan London, London, Kamis, 8 Juni 2017. (AP Photo / Markus Schreiber)

Rakyat Inggris pergi ke TPS hari ini, Kamis (8/6) dalam sebuah pemilihan lebih cepat yang diminta pada bulan April oleh Perdana Menteri Theresa May. Kata May, dia menginginkan mandat yang kuat untuk dibawa ke Brussels saat negosiasi dimulai dalam beberapa hari mendatang mengenai keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Namun harapannya untuk memenangkan suara mayoritas telah memudar, karena partai oposisi utama Partai Buruh tampaknya akan mengejar ketinggalan itu. Seperti yang dilaporkan wartawan VOA Henry Ridgwell, kampanye tersebut telah dibayangi oleh serangkaian serangan teror.

Theresa May dicemooh pendukung oposisi pada hari Rabu saat ia melakukan lawatan ke sebuah pasar di London. Akhir yang tidak menyenangkan untuk kampanye yang sulit. Setelah tiga serangan dalam dua bulan, May telah menempatkan pertempuran melawan teror pada puncak agenda partai Konservatif.

"Dan jika, jika undang-undang hak asasi manusia menghalangi kita untuk melakukannya, kita akan mengubah undang-undang tersebut sehingga kita dapat melakukannya," kata Ketua Partai Konservatif Inggris, Theresa May.

Janji tersebut mendapat kecaman dari pemimpin Partai Buruh yang beroposisi, Jeremy Corbyn.

"Cara Anda menghadapi ancaman terhadap demokrasi bukan dengan mengurangi demokrasi, tapi dengan menghadapi ancaman tersebut. Itu artinya mendanai kepolisian dan dinas keamanan kita dengan layak."

Jajak pendapat awal menunjukkan Partai Konservatif yang berkuasa berada pada jalur untuk meraih kemenangan besar. Tapi keunggulan itu telah menipis menjadi beberapa poin dalam beberapa hari ini.

Setelah menyerukan penyelenggaraan pemilu dini, Theresa May sekarang berjuang menyelamatkan muka.

Profesor ilmu politik di London School of Economics, Iaian Begg mengatakan, "Jika dia tampil tidak lebih baik dari David Cameron pada tahun 2015, itu akan dianggap sebagai kekalahan yang cukup besar baginya. Jeremy Corbyn tampaknya melakukan hal yang jauh lebih baik dari yang diperkirakan kebanyakan orang."

Corbyn membutuhkan suara besar dari pemilih muda untuk berpeluang. Fokusnya pada layanan publik telah mendapat dukungan. Tapi dia menghadapi pertanyaan soal keamanan nasional.

Posisi ketiga dalam pemilihan ini adalah Demokrat Liberal - yang menentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Analis mengatakan prioritas negara itu sudah berubah.

"Perekonomian, layanan kesehatan nasional dan pemimpin partai adalah isu utama. Bahkan dalam konteks Brexit ini, isu Eropa sudah tidak setinggi dulu," jelas Iain Begg.

Dukungan untuk Partai Kemerdekaan Inggris (UKIP) yang ekstrem kanan telah runtuh. Para pelaku jajak pendapat mengatakan bahwa dengan Brexit telah diputuskan, banyak pemilih UKIP telah beralih ke Konservatif.

Theresa May mengatakan bahwa dia membutuhkan kemenangan besar untuk memberinya kekuatan yang lebih besar dalam negosiasi Brexit yang akan datang.

"Kita langsung memasuki diskusi terbesar, negosiasi terbesar yang dihadapi oleh pemerintah Inggris dalam satu generasi, mungkin sejak Perang Dunia Kedua," kata Kevin Schofield, editor Politicshome.com.

Jajak pendapat menunjukkan kemenangan besar untuk Partai Konservatif kemungkinan akan meningkatkan dukungan untuk kemerdekaan Skotlandia. Setelah Brexit, Partai Nasional Skotlandia yang berkuasa menuntut referendum kedua untuk melepaskan diri dari Inggris.

"Orang Skotlandia, kebanyakan dari mereka tidak menginginkan referendum begitu cepat, mereka merasa mereka telah mengambil keputusan pada tahun 2014," lanjut Kevin.

Terorisme, Brexit, dan potensi pecahnya Inggris adalah tantangan pada masa depan yang cukup menakutkan. Dan masing-masing partai menawarkan jawaban yang sangat berbeda. [as]

XS
SM
MD
LG