Tautan-tautan Akses

Terkait ISIS, 2 Militan Filipina Ditangkap


ARSIP – Para prajurit membagi-bagikan foto anggota kelompok ekstrimis Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, yang kepalanya dihargai oleh pemerintah AS sebesar $5 juta, Butig, Lano del Sur, Filipina Selatan, 1 Februari 2017 (foto: Reuters/Marconi B. Navales)

Dua militan Muslim ditangkap bersama senjata, bahan peledak dan bendera hitam gaya ISIS di satu provinsi di Filipina utara. Menurut polisi hari Senin, lokasi itu jauh dari wilayah militan Muslim biasanya di selatan yang bergolak.

Kepala polisi Filipina Jenderal Oscar Albayalde mengatakan penangkapan dua militan itu pada hari Kamis di kota Baggao, provinsi Cagayan, di ujung utara pulau Luzon, bukan merupakan indikasi bahwa gerilyawan yang terkait ISIS itu telah memperluas kekuatan mereka jauh melampaui kubu mereka selama ini di selatan.

Kedua militan, Altero Bello dan Greg Bello, adalah anggota kelompok jihadis terkait ISIS bernama Syuful Khilafa Fi Luzon, yang didirikan tahun 2016, tetapi tidak memiliki catatan keterlibatan dalam serangan di mana pun di wilayah utara yang mayoritas penduduknya pemeluk Katolik Roma, menurut laporan polisi.

"Dalam pandangan kami, kelompok-kelompok ini hanya ingin dikenal dan sejauh ini tidak melancarkan permusuhan atau melakukan kekejaman di wilayah tersebut," ujar Albayalde pada jumpa pers di ibukota Filipina, Manila.

Beberapa kelompok kecil Muslim bersenjata di selatan, kubu minoritas Muslim, mulai menjanjikan dukungan bagi kelompok ISIS pada tahun 2015 dan memilih pemimpin yang ditunjuk ISIS, Isnilon Hapilon, pada tahun 2016.

Hapilon memimpin ratusan militan yang mengibarkan bendera hitam, termasuk para pejuang asing, dalam pengepungan yang menghancurkan kota Marawi di Filipina selatan yang dimulai pada Mei 2017. Pasukan Filipina yang didukung Amerika mengakhiri serangan itu setelah lima bulan.

Hapilon dan beberapa pemimpin militan lokal maupun asing lainnya tewas dalam pertempuran itu dan kelompok-kelompok mereka sulit untuk pulih sejak itu di tengah berlanjutnya serangan militer, ujar para pejabat.

Kesepakatan perdamaian antara pemerintah dan kelompok pemberontak Muslim terbesar, Front Pembebasan Islam Moro, mulai mengubah pejuang Muslim menjadi administrator wilayah otonomi lima provinsi mereka sendiri tahun ini. Para pejabat berharap perjanjian perdamaian itu akan membantu memerangi penyebaran ekstremisme dan kemiskinan yang bisa membantu kelompok ISIS mendapat pijakan di wilayah tersebut. [ka]

Recommended

XS
SM
MD
LG