Tautan-tautan Akses

Taliban Larang Perempuan Tanpa Wali atau Muhrim Naik Pesawat


Anak perempuan tiba di sekolah mereka di Kabul pada 23 Maret 2022. (Foto: AFP)
Anak perempuan tiba di sekolah mereka di Kabul pada 23 Maret 2022. (Foto: AFP)

Penguasa Taliban Afghanistan menolak mengizinkan puluhan perempuan di bandara internasional Kabul untuk naik pesawat karena tidak didampingi wali laki-laki. Hal ini disampaikan dua pejabat maskapai penerbangan Afghanistan pada Sabtu (26/3) yang berbicara dengan syarat tidak menyebut nama karena khawatir akan dampaknya.

Mereka mengatakan puluhan perempuan yang tiba di bandara untuk naik pesawat domestik dan internasional pada hari Jumat (25/3) diberitahu bahwa mereka tidak dapat terbang kecuali ditemani seorang wali laki-laki. Sebagian perempuan itu memiliki dwi kewarganegaraan yang ingin kembali ke rumah mereka di luar negeri. Mereka tidak diizinkan naik pesawat Kam Air dan pesawat milik pemerintah Ariana Airlines menuju ke Islamabad, Dubai dan Turki.

Salah seorang petugas mengatakan perintah itu datang dari pemimpin Taliban.

Pada hari Sabtu sebagian perempuan yang bepergian sendirian telah diizinkan terbang menuju provinsi Herat dengan pesawat Ariana Airlines. Namun, ketika izin itu diberikan mereka telah ketinggalan pesawat.

Presiden bandara dan kepala polisi dari gerakan Taliban dan ulama Islam setempat melangsungkan pertemuan dengan pejabat-pejabat maskapai penerbangan. “Mereka masih berupaya menyelesaikan hal ini,” ujar petugas itu.

Masih belum jelas apakah Taliban akan mengecualikan perjalanan udara dari perintah yang dikeluarkan beberapa bulan lalu, yang mengharuskan setiap perempuan yang melakukan perjalanan lebih dari 72 kilometer untuk ditemani kerabat laki-laki.

Perempuan dan gadis Afghanistan melakukan protes di depan Kementerian Pendidikan di Kabul pada 26 Maret 2022, menuntut agar sekolah menengah dibuka kembali untuk anak perempuan. (Foto: AFP)
Perempuan dan gadis Afghanistan melakukan protes di depan Kementerian Pendidikan di Kabul pada 26 Maret 2022, menuntut agar sekolah menengah dibuka kembali untuk anak perempuan. (Foto: AFP)

Pejabat-pejabat Taliban yang dihubungi Associated Press belum menanggapi permohonan komenter.

Sejak mengambil alih kekuasaan pada 15 Agustus lalu, para pemimpin Talihan telah berselisih di antara mereka sendiri ketika melakukan transisi dari masa perang ke pemerintahan. Para petinggi Taliban yang memiliki garis keras, seperti Penjabat Perdana Menteri Mullah Hasan Akhund – yang mengakar kuat ke barisan lama – melawan mereka yang lebih pragmatis, seperti Sirajuddin Haqqani. Sirajuddin Haqqani mengambilalih kepemimpinan jaringan Haqqani yang kuat dari ayahnya, Jalaluddin Haqqani.

Tokoh Haqqani yang lebih tua, yang meninggal dunia beberapa tahun lalu, berasal dari generasi Akhund yang memerintah Afghanistan di bawah kepemimpinan Mullah Mohammad Omar yang sangat keras dan tak tertandingi.

Yang menimbulkan kemarahan banyak warga Afghanistan adalah banyak generasi muda Taliban – seperti Sirajuddin Haqqani – menyekolahkan anak-anak perempuannya di Pakistan. Sementara di Afghanistan, perempuan dan anak perempuan menjadi sasaran kebijakan Taliban yang represif.

Serangan terbaru terhadap hak-hak perempuan di Afghanistan adalah melarang perempuan naik pesawat terbang, yang disampaikan hanya beberapa hari setelah pemerintah yang semua anggotanya laki-laki itu melanggar janjinya sendiri untuk mengizinkan anak-anak kembali ke sekolah setelah kelas enam sekolah dasar.

Langkah ini menimbulkan kemarahan komunitas internasional yang enggan mengakui pemerintahan yang dijalankan Taliban sejak pertengahan Agustus lalu, karena khawatir mereka akan kembali memberlakukan aturan keras sebagaimana tahun 1990an. Penolakan Taliban untuk membuka pendidikan bagi semua anak Afghanistan juga menimbulkan kemarahan sebagian besar warga Afghanistan. Puluhan gadis berdemonstrasi di Kabul, Ibu Kota Afghanistan pada Sabtu untuk menuntut hak mereka untuk kembali ke sekolah. [em/ft]

XS
SM
MD
LG