Taiwan, Senin (7/11), mengumumkan rencana untuk mendirikan 25 lagi pusat pembelajaran bahasa Mandarin di luar negeri tahun depan, untuk memperluas jangkauan diplomasi lunaknya di luar negeri.
Taipei saat ini mengoperasikan 43 pusat semacam itu di luar negeri, termasuk 23 yang didirikan tahun ini, karena berusaha untuk meningkatkan pengaruh budayanya bahkan ketika China meningkatkan tekanan ekonomi, militer, dan diplomatiknya terhadap pulau itu.
Hanya 14 negara yang mempertahankan hubungan resmi dengan Taiwan, setelah China bersikeras mengklaim bahwa demokrasi berpemerintahan sendiri itu sebagai bagian dari wilayahnya dan akan diambil suatu hari nanti, bahkan secara paksa jika perlu.
Tetapi banyak negara mempertahankan hubungan tidak resmi dengan Taiwan dan dukungan Barat telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir karena China mengambil sikap yang lebih agresif terhadap pulau itu di bawah Presiden Xi Jinping.
Menteri Luar Negeri Taiwan, Tung Chen-yuan, mengatakan 25 fasilitas "Pusat Pembelajaran Mandarin Taiwan" baru itu akan diluncurkan di Eropa dan Amerika Serikat tahun depan.
"Kami menyediakan lebih banyak bahan pelajaran tentang budaya Taiwan dan saya yakin mereka (para siswa) akan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang Taiwan," katanya dalam sebuah sidang di parlemen, Senin.
Mendirikan pusat bahasa di Eropa dan Amerika Serikat adalah bagian dari "strategi nasional" Taiwan dengan fokus pada pengajaran orang dewasa, tambahnya.
China mendirikan ratusan Institut Konfusius, dinamai sesuai nama filsuf China kuno, di lebih dari 150 negara dalam waktu kurang dari dua dekade, untuk melayani lonjakan keingintahuan tentang negara berpenduduk terbanyak dan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.
Disajikan sebagai tanggapan China untuk organisasi seperti Goethe-Institut Jerman atau British Council, mereka menawarkan pelajaran bahasa dan program pertukaran budaya.
Tetapi ketika hubungan dengan Beijing memburuk dan Xi telah mengambil pendekatan kebijakan luar negeri yang lebih tegas, semakin banyak kritik di Barat yang mengatakan bahwa lembaga tersebut telah menjadi ancaman.
Puluhan Institut Konfusius telah ditutup di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan beberapa negara Eropa dalam beberapa tahun terakhir di bawah pengawasan yang semakin ketat.
Pada bulan Juni, Menteri Pendidikan Jerman Bettina Stark-Watzinger memperingatkan bahwa pusat-pusat bahasa itu "digunakan oleh Partai Komunis untuk tujuan politik".
Kementerian Dalam Negeri Jerman mengatakan setiap kerja sama antara universitas Jerman dan Institut Konfusius "sangat kritis dari segi keamanan" dan berisiko "secara diam-diam membatasi kebebasan akademik".
Perdana Menteri baru Inggris Rishi Sunak sebelumnya telah berjanji untuk menutup semua 30 Institut Konfusius di Inggris. [ab/uh]
Forum