Tautan-tautan Akses

Sudan Selatan menarik duta besarnya dari tujuh negara, tetapi mengatakan penarikan itu tidak ada hubungannya dengan krisis ekonomi negara tersebut.

Krisis yang dipicu oleh perang saudara selama 3,5 tahun itu telah membuat pemerintah Sudan kehabisan uang tunai, dan sebagian besar duta besar negara itu di berbagai belahan dunia sudah hampir enam bulan tidak menerima gaji.

Surat tertanggal 14 Juni yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Deng Alor memberi waktu hingga 60 hari kepada duta besar Sudan Selatan di Inggris, Sudan dan Uganda, dan ketua misi diplomatik di Jerman, India, Eritrea dan Mesir untuk melapor kembali ke Juba.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Mawein Makol Ariik mengukuhkan penarikan duta-duta besar itu tetapi menyangkal bahwa keputusan itu terkait dengan masalah ekonomi. Ariik mengatakan pada VOA, penarikan itu merupakan bagian dari “proses normal” yang dialami semua duta besar.

“Setiap duta besar harus berada di luar negeri untuk waktu tertentu dan kembali ke markas besar untuk bekerja di tanah air,” ujar Aarik hari Rabu (28/6). Ditambahkannya, “orang-orang lain dari markas besar itu juga harus keluar dan berdinas di negara lain. Jadi duta besar yang diketahui kembali, adalah karena masa tugas mereka di luar sudah berakhir.”

Perang yang masih terus berkecamuk telah mengurangi pendapatan pemerintah dari penjualan minyak, sumber pendapatan eksternal utama bagi Sudan Selatan.

Ariik mengakui bahwa krisis ekonomi telah mengimbas operasi di 29 kedutaan besar Sudan Selatan dalam enam bulan terakhir. Ia mengatakan pada akhir Maret lalu beberapa kedutaan besar Sudan Selatan, termasuk di London, telah mendapat ultimatum untuk membayar tunggakan uang sewa atau akan diusir.

Seorang diplomat di Kedutaan Besar Sudan Selatan di London mengatakan sejak itu kantor kedutaan telah dipindahkan ke gedung baru, dan uang sewa untuk bulan Juni, Juli dan Agustus telah dibayar dimuka. [em/ds]

XS
SM
MD
LG