Tautan-tautan Akses

Studi WHO: Jam Kerja yang Panjang Mematikan


Karyawan bekerja di kantor perusahaan perjalanan online Ctrip.Com International Ltd di kantor pusatnya di Shanghai, selama tur media yang diselenggarakan pemerintah, setelah wabah COVID, China 14 Januari 2021. (Foto: REUTERS/Aly Song)

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengatakan, Senin (17/5), bahwa jam kerja yang panjang membunuh ribuan orang setiap tahun, dan tren ini bisa makin memburuk karena pandemi COVID-19.

Dalam studi global pertama tentang hilangnya nyawa terkait jam kerja yang lebih panjang, makalah di jurnal Environment International menunjukkan bahwa 745 ribu orang meninggal karena stroke dan penyakit jantung terkait dengan jam kerja yang panjang pada 2016.

Angka itu meningkat hampir 30 persen dari 2000.

"Bekerja 55 jam atau lebih per minggu merupakan bahaya kesehatan yang serius," kata Maria Neira, direktur Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim dan Kesehatan WHO, seperti dikutip oleh Reuters.

"Yang ingin kami lakukan dengan informasi ini adalah mempromosikan lebih banyak tindakan, lebih banyak perlindungan terhadap pekerja," katanya.

Seorang karyawan bekerja di kantor Organisasi Tenaga Kerja Yunani (OAED) di pinggiran Kalamaki dekat Athena, Yunani, 15 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Costas Baltas)
Seorang karyawan bekerja di kantor Organisasi Tenaga Kerja Yunani (OAED) di pinggiran Kalamaki dekat Athena, Yunani, 15 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Costas Baltas)

Studi bersama yang dilakukan oleh WHO dan Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) menunjukkan bahwa sebagian besar korban, yaitu 72 persen, adalah laki-laki dan setengah baya atau lebih tua. Seringkali, kematian baru terjadi jauh di kemudian hari, kadang-kadang beberapa dekade kemudian, dari saat menjalani jam kerja.

Studi it juga menunjukkan bahwa orang yang tinggal di Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat - wilayah yang menurut WHO, mencakup Cina, Jepang dan Australia - adalah yang paling terpengaruh.

Secara keseluruhan, studi ini menyatakan bahwa bekerja selama 55 jam atau lebih dalam satu minggu terkait dengan risiko stroke sebesar 35 persen dan risiko penyakit jantung iskemia sebesar 17 persen dibanding dengan jam kerja 35-40 jam per minggu. Studi itu mengambil data dari 194 negara.

Studi tersebut mencakup periode 2000-2016, dan tidak termasuk pandemi COVID-19, tetapi pejabat WHO mengatakan lonjakan pekerja jarak jauh dan perlambatan ekonomi global akibat darurat virus corona mungkin telah meningkatkan risiko.

"Pandemi mempercepat perkembangan yang dapat mendorong tren peningkatan waktu kerja," kata WHO, memperkirakan bahwa setidaknya 9 persen orang bekerja dengan jam kerja yang panjang.

Staf WHO, termasuk ketuanya Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan mereka telah bekerja dengan jam panjang selama pandemic. Neira mengatakan badan PBB ituakan berusaha memperbaiki kebijakannya sehubungan dengan penelitian tersebut.

Pejabat teknis WHO Frank Pega mengatakan pembatasan jam kerja akan bermanfaat bagi pengusaha karena telah terbukti meningkatkan produktivitas pekerja.

“Benar-benar pilihan cerdas untuk tidak menambah jam kerja yang panjang dalam krisis ekonomi.” [na/ft]

XS
SM
MD
LG