Tautan-tautan Akses

Sri Lanka Jual Mayoritas Saham Pelabuhan kepada Perusahaan China


Menteri Pelabuhan dan Perkapalan Sri Lanka Mahinda Samarasinghe (tengah) bertukar hadiah dengan Wakil Presiden Eksekutif China Merchants Port Holdings, Dr. Hu Jianhua, dalam acara penandatanganan perjanjian pelabuhan Hambantota.

Sri Lanka telah menandatangani persetujuan $1,1 milyar dengan perusahaan China untuk menjual mayoritas sahamnya dalam sebuah pelabuhan laut-dalam yang kontroversial guna mengurangi utang, dan mengatakan Sri Lanka telah menanggapi keprihatinan bahwa China dapat menggunakan pelabuhan itu untuk tujuan militer.

Persetujuan tersebut yang ditandatangani setelah berbulan-bulan perundingan kembali setelah tentangan kuat terhadap proyek itu.

Sementara para pengritik dalam negeri memperingatkan bahwa penyerahan kekuasaan mayoritas kepada China mengancam keamanan nasional. Negara tetangga India mengeluh mengenai China memperoleh akses ke pelabuhan strategis di negara tetangga dekatnya di Samudera Hindia.

Dibangun dengan pinjaman besar dari China tahun 2010, pelabuhan Hambantota dipandang sebagai kunci bagi parakarsa Jalur Sutera Beijing yang ambisius yang bertujuan untuk menghubungkan jalan-jalan dan pelabuhan di seluruh Asia dan Eropa dan bagi usahanya untuk meningkatkan kehadiran di Samudera Hindia.

Kabinet Sri Lanka menyetujui kesepakatan ini hari Selasa setelah tertunda enam bulan sejak kerangka perjanjian ditandatangani dan segera menuai kecaman dan protes publik. Pelabuhan tersebut mengalami kerugian besar sejak mulai beroperasi pada tahun 2011.

Pemerintah Sri Lanka mengatakan berdasarkan persetujuan itu, angkatan laut Sri Lanka akan menangani keamanan pelabuhan Hambantota dan tidak akan ada angkatan laut asing yang akan diizinkan menggunakannya sebagai pangkalan. [gp]

XS
SM
MD
LG