Tautan-tautan Akses

Sidang Pencemaran Nama Baik Veteran Paling Terkenal Australia Dimulai


Ben Roberts-Smith (kiri) saat bertemu dengan Ratu Elizabeth II, di Buckingham Palace, London, 15 November 2011. (Foto: dok)
Ben Roberts-Smith (kiri) saat bertemu dengan Ratu Elizabeth II, di Buckingham Palace, London, 15 November 2011. (Foto: dok)

Sidang terhadap tiga surat kabar Australia yang dituduh mencemarkan nama baik veteran perang paling terkenal di Australia mulai berlangsung, Senin (7/6).

Ben Roberts-Smith, penerima penghargaan bergengsi Victoria Cross, menggugat The Sydney Morning Herald, The Age dan The Canberra Times di Pengadilan Federal di Sydney atas artikel yang diterbitkan mereka pada 2018.

Veteran itu menuding ketiga media berita tersebut keliru menggambarkannya sebagai penjahat yang melanggar aturan moral dan hukum sewaktu menjadi bagian dari militer Australia dalam perang di Afghanistan.

Mantan anggota Resimen Dinas Udara Khusus (SAS) itu menolak semua tuduhan terhadapnya sementara Nine Entertainment, yang memiliki ketiga surat kabar itu pada tahun 2018, mengandalkan kebenaran sebagai pembelaannya.

Pengacara Roberts-Smith, Bruce McClintock, menggambarkan kliennya yang berusia 42 tahun sebagai pemimpin yang berani, sangat terorganisir, dan disiplin yang mempertaruhkan nyawanya dalam pertempuran sesuai dengan moto SAS “Who Dares Wins '' selama penugasannya antara 2009 dan 2012.

"Ini adalah kasus tentang keberanian, pengabdian pada tugas, pengorbanan diri," kata McClintock kepada pengadilan itu. Menurutnya, reputasi kliennya diruntuhkan oleh kebohongan dan kecemburuan orang-orang yang benci terhadapnya.

Banyak tentara lain memiliki kecemburuan yang luar biasa terhadap penghargaan-penghargaan militer yang diterima Roberts-Smith, termasuk Victoria Cross, yang dipandang sebagai penghargaan tertinggi dan paling bergengsi Australia, kata pengacara itu.

McClintock membaca kutipan pernyataan resmi Roberts-Smith mengenai Victoria Cross-nya yang memuji veteran perang itu karena keberaniannya selama baku tembak yang intens di provinsi Kandahar pada 2010 tanpa memedulikan keselamatan dirinya.

Roberts-Smith menghadapi para pemberontak dari jarak dekat, membunuh beberapa dari mereka, agar bisa mengambil posisi perlawanan yang kuat, kata McClintock, sambil menyimpulkan bahwa itu adalah wujud keberanian yang mencolok.

Roberts-Smith juga menyangkal tuduhan-tuduhan suka melakukan intimidasi, dan tuduhan bahwa salah satu pemberontak musuh yang terbunuh dalam patrolinya berusia 13 atau 14 tahun. “Klien saya akan memberikan bukti bahwa korban adalah pria dewasa,'' kata McClintock.

Roberts-Smith, yang merupakan eksekutif di Seven West Media, saingan Nine, diperkirakan akan menjadi saksi pertama yang dipanggil dalam persidangan selama 10 pekan ini.

Sebuah laporan militer Australia tentang kejahatan perang yang dirilis November lalu menemukan bukti bahwa sejumlah anggota pasukan elite Australia secara tidak sah membunuh 39 tahanan, petani, dan warga sipil Afghanistan.

Kepala Staf Angkatan Darat Australia Jenderal Angus Campbell mengatakan laporan itu mencantumkan beberapa pelanggaran, termasuk keharusan bagi para anggota patroli baru untuk menembak seorang tahanan sebagai pembunuhan pertama mereka dalam praktik yang disebut sebagai blooding.

Campbell mengatakan para tentara itu kemudian menempatkan senjata dan radio komunikasi di tangan musuh untuk mendukung klaim palsu bahwa para tahanan itu tewas dalam aksi baku tembak. Ia mengatakan laporan itu merekomendasikan agar 19 tentara yang menjadi tersangka diselidiki oleh polisi atas kemungkinan tuduhan-tuduhan itu, termasuk pembunuhan. Campbell tidak mengatakan apakah Roberts-Smith adalah salah satu di antara para tersangka.

Campbell bereaksi terhadap laporan tersebut dengan meminta pernyataan dari lebih dari 3.000 anggota pasukan khusus yang pernah bertugas di Afghanistan.

Tetapi Menteri Pertahanan baru Peter Dutton April membatalkan keputusan itu, dengan mengatakan: “Kita seharusnya tidak menghukum 99 persen untuk dosa yang dilakukan 1 persen''.

Sekitar 39.000 tentara Australia bertugas di Afghanistan dan 41 di antara mereka tewas. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG