Tautan-tautan Akses

Johannes Marliem, saksi kunci mega-skandal e-KTP dikabarkan tewas di Los Angeles, Amerika, Kamis dini hari (10/8).

Beberapa media di Indonesia mengutip media di Amerika memberitakan bahwa Johannes Marliem ditemukan tewas Kamis dini hari setelah terlibat ketegangan dan perundingan dengan aparat keamanan sejak Rabu sore (9/8).

Tetapi hingga laporan ini disampaikan belum ada satu pihak berwenang pun di Amerika yang memastikan bahwa laki-laki yang ditemukan tewas dalam insiden di pemukiman Beverly Grove, Los Angeles, itu adalah Johannes Marliem.

Siapakah sebenarnya sosok Johannes Marliem?

Nama Johannes Marliem disebut-sebut dalam kasus korupsi e-KTP, yang sebagian besar kasusnya masih diselidiki Komisi Pemberantasan Korupsi KPK, sementara sebagian lainnya telah mulai disidang dan divonis pengadilan tindak pidana korupsi Jakarta.

Johannes yang tinggal di Los Angeles, California, dinilai sebagai saksi kunci kasus e-KTP yang melibatkan puluhan politisi senior, termasuk beberapa anggota DPR, seorang menteri kabinet dan dua gubernur. Kasus ini ditengarai telah menimbulkan kerugian negara hingga 2,3 triliun rupiah. Sementara total nilai proyek e-KTP ini mencapai 5,9 triliun rupiah.

Johannes Marliem pada 18 Juli 2017 berbicara pada Koran Tempo lewat fasilitas FaceTime, mengklaim bahwa ia memiliki rekaman pembicaraan dengan sejumlah politisi yang diduga merekayasa kasus e-KTP, termasuk Ketua DPR dan Ketua Partai Golkar Setya Novanto, yang kemudian dinyatakan sebagai salah satu tersangka. Rekaman itu dibuatnya pada setiap pertemuan yang ia ikuti selama empat tahun untuk membahas proyek mega-skandal itu.

Koran Tempo melaporkan rekaman itu berukuran 500 giga bita dan bisa menjadi bukti menyelidiki lebih lanjut skandal korupsi itu. “Hitung saja. Empat tahun dikali berapa pertemuan. Ada puluhan jam rekaman, sekitar 500 GB,” ujar Johannes sebagaimana dilaporkan Koran Tempo pada 19 Juli. Ditambahkannya, “Mau jerat siapa lagi? Saya punya.”

Kepada Koran Tempo, Johannes mengatakan sudah dimintai keterangan oleh penyidik KPK sebanyak dua kali. Pemeriksaan pertama dilakukan di Singapura pada Februari lalu dan pemeriksaan kedua di Amerika pada Juli lalu. KPK belum mengukuhkan pernyataan-pernyataan tersebut.

Johannes Pernah Jadi Donatur Pelantikan Obama

Johannes Marliem diketahui memiliki perusahaan jasa marketing yang berbasis di Minneapolis, Minnesota, yaitu Marliem Consulting. Ia juga merupakan direktur Biomorf Lone LLC, sebuah perusahaan yang berkantor di Amerika dan telah mengerjakan proyek sistem identifikasi sidik jari otomatis (AFIS) untuk e-ID, semacam tanda pengenal.

Yang menarik meskipun keberadaan Johannes Marliem dan istrinya Mai Chie Thor diselimuti kontroversi, nama keduanya masuk dalam daftar donatur Partai Demokrat di Amerika. Sebuah biro analisis catatan publik dan media di Minnesota, Februari 2014 lalu melaporkan meskipun mereka dituntut melakukan penipuan tahun 2008, rumahnya disita tahun 2009 dan divonis bersalah melakukan penipuan tahun 2010; mereka tetap memberikan sumbangan hingga 225 ribu dolar untuk pelantikan Obama tahun 2013, atau lebih dua kali lipat dari sumbangan yang diberikan Alida Rockefeller Messinger, mantan istri Gubernur Mark Dayton ketika itu.

Johannes dan istrinya juga mengumpulkan sumbangan hingga 70 ribu dolar dan memberikan sumbangan pribadi sebesar 2.500 dolar untuk kampanye Obama tahun 2012. Mengingat kasus penipuan yang menjeratnya tahun 2010 tidak dianggap sebagai pelanggaran berat, status kewarganegaraannya sebagai penduduk tetap Amerika tidak terpengaruh. Dan ketika sumbangan Johannes menjadi sorotan, komite pengukuhan Obama telah dibubarkan sehingga tidak bisa dimintai keterangan.

Setahun kemudian Johannes malah menyumbangkan 66 ribu dolar pada Kebun Binatang Como di Saint Paul, Minnesota, untuk mendorong upaya menyelamatkan orangutan di Indonesia dan Malaysia. Sumbangan ini diberitakan luas oleh media setempat pada tahun 2013 itu.

Dua minggu sebelum diberitakan tewas di Los Angeles, Johannes lewat akun Twitter @johannesmarliem masih mengkritisi tulisan wartawan Koran Tempo yang didasarkan pada wawancara lewat FaceTime itu. “To keep everybody hones”, cuitnya pada 23 Juli sambil mention @BudiSetyarso, tampaknya nama wartawan Koran Tempo.

Johannes juga memasang foto screen-shot percakapannya lewat WhatsApp dengan wartawan Koran Tempo. Ini adalah satu-satunya cuitan Johannes terkait wawancarannya dengan media tersebut menyoal skandal e-KTP. Johannes terakhir kali memasang link berita di Twitter pada 9 Agustus lalu, disertai cuitan “makes you rethink your Instagram food pics” merujuk pada artikel tentang fotografi makanan.

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG