Tautan-tautan Akses

Serangan Masjid di Selandia Baru Picu Kesedihan dan Perenungan di AS


Para siswa menyalakan lilin saat menggelar doa bersama untuk para korban penembakan hari Jumat (15/3), di luar masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, 18 Maret 2019.

Penembakan massal mematikan di dua masjid di Selandia Baru telah memicu kesedihan dan menghidupkan kembali dialog serta perenungan mengenai cara menghadapi kebencian dan xenofobia (ketakutan akan orang asing) di berbagai komunitas di seluruh penjuru dunia, termasuk di Amerika Serikat.

Wartawan VOA Michael Bowman melaporkan dari Washington, di mana menghentikan penyebaran pesan kebencian dalam era digital kembali menjadi topik pembahasan.

Warga, mulai dari di Selandia Baru hingga Pakistan, sampai di Amerika Serikat, terkejut, berduka, dan memiliki perasaan rentan yang sama.

Warga Michigan, Hala Ajrouche, mengemukakan, “Selalu ada perasaan takut. Apakah hal seperti itu akan terjadi di tengah komunitas kita?”

Lelaki bersenjata yang dituduh melakukan serangan di Selandia Baru itu memposting manifesto antiimigran yang penuh kebencian. Ia juga diduga membuat gerakan tangan khas nasionalis kulit putih sewaktu hadir di pengadilan. Apa yang semua tak terbayangkan akan terjadi di Selandia Baru tragisnya adalah sesuatu yang nampak biasa di Amerika, yang telah menghadapi penembakan massal yang diilhami kebencian di sebuah gereja warga kulit hitam di South Carolina dan di sebuah sinagog di Pennsylvania.

Mantan rabi di sinagog Tree of Life, Chuck Diamond mengatakan,“Kalau kita menggabungkan kebencian dan senjata, hasilnya akan buruk.”

Nasionalisme kulit putih, yang semula lebih banyak tersembunyi dari pandangan umum, telah kembali muncul secara terbuka di Amerika, di jalan-jalan kota Charlottesville, Virginia, pada tahun 2017 dan di dunia maya sekarang ini.

John Cohen, mantan koordinator kontraterorisme di Departemen Keamanan Dalam Negeri, mengemukakan, “Mereka meyakini bahwa orang-orang kulit putih keturunan Eropa superior daripada orang nonkulit putih. Ada peningkatan pernyataan terbuka mengenai keyakinan supremasi kulit putih. Ini mulai keluar dari bayang-bayang.”

Sementara itu, mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri Jeh Johnson dalam acara televisi ABC This Week, mengatakan, “Ini adalah isu yang juga mencakup media sosial. Sekarang ini di media sosial, sedikit sekali pembatas bagi masuknya pesan-pesan kebencian, dan bagi standar untuk menyingkirkan pesan itu dari media sosial. Jadi ini merupakan kewajiban para penyedia layanan media sosial, penyedia layanan internet, untuk waspada bila ada konten berisi ujaran kebencian.”

PresidentDonald Trump segera mengecam serangan di Selandia Baru. “Ini hal yang sangat, sangat mengerikan. Saya menyampaikan kepada perdana menteri bahwa Amerika Serikat mendukung mereka, seratus persen,” kata Presiden Trump.

Pada saat bersamaan, presiden meremehkan nasionalisme kulit putih sebagai ancaman yang mulai meningkat. Ia mengatakan ia belum melihat manifesto tersangka pelaku yang dikabarkan memuji-muji Trump sebagai “simbol identitas kulit putih dan tujuan bersama yang baru.”

Trump menuai kritik pedas karena sama-sama menyalahkan kelompok pendukung supremasi kulit putih dan demonstran tandingan atas kekerasan yang terjadi di Charlottesville. Ia juga berbicara dengan nada menghina para imigran gelap dan negara asal mereka. Penjabat kepala staf Trump, Mick Mulvaney, menyatakan, “Presiden bukan pendukung supremasi kulit putih.” Ia juga membahas tentang tulisan pelaku penembakan di Selandia Baru.

Mulvaney dalam acara televisi Fox News Sunday mengatakan, “Menurut saya tidak adil menganggap orang ini sebagai pendukung Donad Trump. Ia adalah orang yang kacau, orang jahat.”

Di tengah-tengah kesedihan setelah serangan di Selandia Baru, Hussein Ajrouceh, pemuda di Michigan Islamic Institute mengemukakan saran untuk menghadapi kebencian sebagai berikut.

“Saya mendapati bahwa balas dendam bukanlah caranya. Cinta, itulah caranya. Kebajikan, kebaikan, semua yang sama sekali berlawanan dengan kebencian,” jelasnya. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG