Tautan-tautan Akses

Senyawa Ganja Setop Virus Corona dalam Tabung Reaksi, Tapi Bisakah Jadi Obat COVID?


Botol minyak ganja yang diekstraksi ditampilkan saat konferensi pers di Kementerian Kesehatan Thailand di Bangkok, Thailand, Rabu, 7 Agustus 2019. (Foto: AP)

Sejumlah uji laboratorium pada senyawa ganja atau cannabidiol (CBD) dalam melawan virus corona menunjukkan hasil yang menjanjikan. Namun para peneliti mengingatkan bahwa penelitian awal yang diperkirakan dapat membantu mencegah atau mengobati COVID-19 itu masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut melalui uji klinis yang ketat.

Sejauh ini banyak ditemukan perawatan COVID potensial lainnya yang juga menjanjikan ketika bekerja di dalam tabung reaksi, dari hidroksiklorokuin hingga berbagai obat yang digunakan untuk mengobati kanker dan penyakit lainnya. Namun, pada akhirnya gagal menunjukkan mengobati pasien COVID-19 setelah diteliti dalam uji klinis.

"Temuan kami tidak mengatakan ini akan berhasil pada pasien. Temuan kami membuat kasus yang signifikan untuk uji klinis," kata Marsha Rosner dari University of Chicago. Ia adalah kepala tim peneliti yang menemukan kecenderungan CBD dapat membantu mengekang SARS-CoV-2 dalam sel yang terinfeksi dalam suatu percobaan laboratorium.

Seorang petani tani merawat tanaman ganja miliknya di daerah Hhohho utara negara itu di Swaziland. (Foto: Reuters)
Seorang petani tani merawat tanaman ganja miliknya di daerah Hhohho utara negara itu di Swaziland. (Foto: Reuters)

Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan dosis kecil senyawa ganja CBD yang sangat murni yang mendekati apa yang diterima pasien dalam obat oral untuk epilepsi parah. Rosner dan rekannya menemukan bahwa senyawa ganja CBD tidak mencegah virus corona menginfeksi sel dalam tabung reaksi.

Sebaliknya, senyawa ganja CBD segera beraksi ketika virus memasuki sel. Senyawa ganja tersebut menghalangi jalannya virus dengan membuat salinan dirinya sendiri sebagian melalui efek pada interferon protein inflamasi. Mereka menemukan efek serupa pada tikus yang terinfeksi, menurut laporan Science Advances.

Ketika mereka mengamati sekelompok orang dewasa dengan epilepsi parah, para peneliti menemukan bahwa mereka yang menggunakan senyawa ganja CBD yang disetujui. memiliki tingkat infeksi COVID-19 yang lebih rendah. Namun jika melihat ke belakang, terdapat sejumlah kecil pasien tidak memberikan informasi yang meyakinkan. Hanya uji klinis acak yang bisa melakukan itu, kata Rosner.

Sebuah tim terpisah baru-baru ini melaporkan dalam Journal of Natural Products bahwa dosis tinggi cannabigerol (CBG) dan cannabidiolic acid (CBDA) mencegah virus corona membobol sel.

Produk CBD telah tersedia secara luas dalam berbagai bentuk dan telah disebut-sebut - seringkali tanpa bukti dari uji klinis - sebagai pengobatan untuk rasa sakit dan penyakit lainnya.

Uji coba CBD kecil pada manusia yang terinfeksi COVID-19 sedang berlangsung.

Kotak produk ganja dipajang di pameran dagang The Cannabis World Congress & Business Exposition (CWCBExpo) di New York City, New York, 30 Mei 2019. (Foto: Reuters)
Kotak produk ganja dipajang di pameran dagang The Cannabis World Congress & Business Exposition (CWCBExpo) di New York City, New York, 30 Mei 2019. (Foto: Reuters)

Uji coba tahap awal di Rabin Medical Center, juga di Israel, bertujuan untuk menguji efek CBD pada pasien yang sakit parah atau kritis. Namun, pemimpin studi Dr. Moshe Yeshurun mengatakan kepada Reuters bahwa mengumpulkan peserta saat ini sangat sulit karena gelombang virus corona akibat varian omicron menyebabkan "sebagian besar terdiri dari pasien dengan penyakit ringan hingga sedang."

Tim Rosner sedang menjajaki kemungkinan uji klinis yang kemungkinan akan fokus pada kasus COVID tanpa gejala atau ringan. Sementara itu, dia khawatir bahwa laporan media yang melebih-lebihkan potensi cannabinoid akan mengarahkan orang untuk mengobati sendiri dengan CBD, berhenti menggunakan masker dan menghindari vaksin.

"Kami akan senang untuk dapat mengatakan secara khusus" bahwa dosis cannabinoid tertentu sangat membantu, katanya, tetapi pada titik ini, "antibodi yang diinduksi vaksin dan obat antibodi jauh lebih efektif dalam memblokir infeksi,” tukasnya. [ah/rs]

XS
SM
MD
LG