Tautan-tautan Akses

Sensus Australia: Lebih Banyak Migran Dari Asia Dibanding Eropa


Seorang fotografer tengah memotret keluarga di Pusat belanja World Square yang terletak di Sydney, Australia, June 26, 2017. (Picture taken June 26, 2017).

Sensus nasional baru di Australia menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya lebih banyak migran yang tiba dari Asia dibanding Eropa, menunjukkan demografi negara itu berubah cepat. Diantara temuan tersebut adalah hampir separuh dari seluruh orang Australia lahir di luar negeri atau memiliki orang tua yang lahir di negara lain.

Australia bukan lagi negara warga kulit putih semata dan tidak pernah seragam ini secara budaya. Lebih banyak warga kini tinggal di kota-kota dibanding sebelumnya. Sensus nasional yang diselenggarakan setiap lima tahun memberi gambaran mendalam tentang bagaimana negara itu berubah.

David Kalisch, pejabat Biro Statistik Australia, yang melakukan survei dan diumumkan hari Selasa (27/6) mengatakan, “Sensus itu menunjukkan Australia kini lebih beragam secara kultural dibanding sebelumnya, dimana hampir separuh warga Australia dilahirkan di negara lain atau salah seorang dari orang tuanya dilahirkan di negara lain. Australia kini berkembang, terutama di kota-kota, dimana lebih dari dua per tiga warga Australia tinggal.”

Untuk pertama kali lebih banyak migran yang tiba di Australia berasal dari Asia, terutama India dan China dibanding Eropa. Sensus tahun 2016 mengungkapkan bahwa 40 persen penduduk yang lahir di luar negeri, berasal dari Asia, dibanding tahun 2001 dimana hanya seperempat penduduk atau 25 persen yang dilahirkan di Asia.

Peneliti sosial Rebecca Huntley mengatakan Australia sedang mengalami perubahan mendasar. “Kita adalah bangsa migran.Yang menarik untuk dikaji adalah susunan komunitas migran itu, dan kita mendapati kita telah menjadi lebih banyak penduduk keturunan asia dibanding keturunan Inggris," jelasnya.

Sejak tahun 2001 hampir 1,3 juta migran baru pindah ke Australia, termasuk 163 ribu migran dari India dan lebih dari 190 ribu migran dari China. Bahasa Mandarin terus menjadi bahasa kedua yang paling sering digunakan di Australia setelah bahasa Inggris, demikian menurut Liz Allen, pakar demografi di Universitas Nasional Australia.

“Bahasa Mandarin dan bahasa Arab saat ini benar-benar tampil, dan menurut saya hal ini tidak mengejutkan banyak orang di seluruh Australia. Hal ini mencerminkan perubahan susunan masyarakat ke India dan China, dan menjauhi sumber-sumber migrasi yang lebih tradisional selama ini,” kata Liz Allen.

Pembantaian di Lapangan Tiananmen tahun 1989 mendorong pemerintah Australia memberikan visa permanen pada 42 ribu siswa China. Ini adalah bagian dari gelombang migrasi China terbesar ke Australia sejak pencarian emas besar-besaran tahun 1800an.

Sensus itu diselenggarakan Agustus 2016 lalu, tetapi masalah komputer mengakibatkan situs resmi badan itu mati selama dua hari. Meskipun ada masalah, para ahli statistik berkeras data sensus itu akurat dan dapat dipercaya. [em/ii]

XS
SM
MD
LG