Tautan-tautan Akses

AS

Seniman Berjuang Pertahankan Pertunjukan


Teater Broadway di New York juga harus mengalami penutupan selama kebijakan lockdown terkait pandemi Covid-19 di sana (ilustrasi).

Seiring terus meningkatnya jumlah kasus virus corona di Amerika, para produser teater mencari cara untuk tetap menghubungkan karya seni mereka dengan penonton sehingga seniman dapat tetap bekerja.

“Benar-benar memilukan. Saya tahu orang-orang yang sedang berada di tengah produksi atau beberapa pertunjukan yang sedianya siap dipertunjukkan. Mereka hanya sempat melangsungkan pertunjukan satu malam. Malam pembukaan itu sekaligus menjadi malam penutupan pertunjukan.”

Demikian pernyataan aktor Michael Barrett Austin kepada VOA.

Pandemi virus corona atau Covid-19 menimbulkan dampak sangat buruk pada industri teater. Ketika kasus virus mematikan ini di Amerika terus meningkat, banyak produksi Broadway dan teater di daerah-daerah yang ditangguhkan hingga musim semi 2021, bahkan mungkin lebih lama lagi.

Direktur Kreatif Cal Shakes, Eric Ting, mengatakan, “Penonton teater di Amerika kebanyakan orang tua, sehingga mereka masuk dalam kategori berisiko tinggi. Ini saat ketika penonton merasa mereka ingin datang ke teater, tanpa risiko meninggal.”

Banyak teater di daerah, seperti yang terdapat di San Fransisco Bay Area, adalah teater nirlaba yang dijalankan dengan anggaran sangat kecil. Mereka mengandalkan strategi/kepiawaian untuk melanjutkan sesuai yang ada dalam pepatah “pertunjukan harus jalan terus!”

“Karena kami teater nirlaba, kami lebih didorong oleh misi. Jadi dari perspektif kami, ini bukan soal berapa banyak tiket yang dapat dijual atau berapa besar berita tentang pertunjukan kami, tetapi lebih pada soal pengalaman bagi penonton kami,” tambahnya.

Elizabeth Carter adalah produser pertunjukan modern “King Lear.” Ia mempekerjakan perempuan dan warga kulit berwarna untuk memerankan tokoh laki-laki, dan mengatakan baginya, penangguhan pertunjukan ini bukan opsi yang dipertimbangkannya. “Ada George Flyod dan suatu kebangkitan yang benar-benar mengangkat diskusi soal ras. Ini sungguh hal yang sangat pedih bagi saya.”

Hal ini bukan tanpa tantangan, Carter mengarahkan seluruh pemain dari laptopnya. “Semua harus meningkatkan diri. Mereka semua punya layar hijau dan lampu, semua hal yang ada di rumah mereka. Saya mengatakan kita bangun pesawat sambil menerbangkannya.”

Jim Kleinmann yang mengelola festival teater berskala besar mengalihan seluruh operasinya lewat Zoom, dan menyebutnya sebagai “Playground Zoom Fest.” “Ini masih soal berbagi energi menciptakan sesuatu yang dapat dilihat. Jika aktor lupa kata-kata yang harus diucapkannya, atau jika ada masalah teknis, atau latar belakang virtual tidak bekerja; maka ini sama seperti ketika lampu mati atau suara tidak terdengar. Pertunjukan tetap jalan terus kan?”

Semua orang mengakui dunia maya bukan pengganti pertunjukan live.

“Pengalaman melangsungkan pertunjukan live, apakah dalam konser, atau drama, atau tari; kita menyebut hal itu sebagai nafas kolektif, yaitu ketika setiap orang tiba-tiba menarik nafas sejenak karena melihat semua hal yang sama, dan merasakan pengalaman yang sama. Kita tidak dapat menyelaraskan semua itu lewat Zoom,” kata Ting.

Semoga saja platform baru untuk memproduksi pertunjukan ini akan memperpanjang peluang komunitas ini hingga aman untuk berkumpul kembali. [em/ii]

XS
SM
MD
LG