Tautan-tautan Akses

AS

Seniman Amerika Joyce Scott Suarakan Ketidakadilan Lewat Seni Manik-manik

  • Deborah Block

Beragam manik-manik di sebuah toko di Pasar Haraj, Baghdad, Iraq. (Foto:dok)

Seni manik-manik sudah dilakukan sejak beberapa abad lalu, dengan kerah manik-manik Mesir kuno, keranjang dekoratif di Ethiopia, dan kalung-kalung yang dikenakan beberapa suku asli Amerika.

BALTIMORE, MARYLAND - Joyce Scott melanjutkan seni ini dengan menciptakan keping manik-manik yang kerap memusatkan perhatian pada ketidakadilan sosial dan politik.

“Guru pertama yang mengajarkan karya manik-manik ini adalah ibu saya, dan saya belajar padanya sejak usia lima tahun. Karya manik-manik ini sangat menenangkan, salah satu bentuk meditasi,” kata Joyce Scott.

Di rumahnya di Baltimore, Maryland, studio Scott penuh dengan segala bentuk manik-manik, dan bahan-bahan lain yang bisa dipadukan dalam karya seninya, seperti logam, kaca, kancing dan foto-foto.

“Gaya saya adalah improvisasi, dan saya sangat suka perubahan sehingga tidak membiarkan diri saya terikat pada satu bentuk untuk waktu lama,” kata Scott.

Scott tidak mempergunakan sistem tertentu, sebaliknya ia melakukan improvisasi ketika membuat karya manik-maniknya.

Untuk menghasilkan kalung dengan beragam dimensi dan hiasan dinding berskala besar, Scott belajar teknik jahitan peyote dari penduduk asli Amerika. Hiasan dinding ini adalah tentang Harriet Tubman, seorang tokoh Amerika keturunan Afrika yang membantu membebaskan para budak.

“Saya benar-benar menyukai gagasan untuk tidak konvensionil dan membuat karya yang sangat besar dengan jahitan peyote ini, dan ini saya kembangkan sambil melangkah maju,” ujarnya. Karya seni Scott kerap menyorot soal rasisme, seksisme dan juga sterotip.

“Di seluruh dunia, orang-orang yang berkulit coklat dan hitam menggunakan pemutih kulit untuk membuat kulit mereka lebih terang, karena mereka mendapat informasi bahwa kulit yang lebih putih lebih indah, atau lebih menguntungkan ketika mencari pekerjaan, atau lebih cantik sehingga orang tertarik pada Anda,” kata Scott.

Scott mendapatkan inspirasi dari negara-negara yang dikunjunginya. Ia mengatakan bepergian keliling dunia membuatnya berpikir tentang kesulitan hidup warga asli pada masa penjajahan.

“Karya manik-manik ini lebih tentang perjalanan seseorang yang telah memilih rute-rute ini. Jadi ia pergi ke Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, dan ia melihat jalan-jalan,” tambahnya.

Karya seni Joyce Scott telah mengundang banyak pujian dan ditampilkan di museum-museum di seluruh Amerika, termasuk di Smithsonian American Art Museum di Washington DC. Dan ia merasa karyanya masih belum selesai.

“Saya terus belajar hal baru, menemukan hal baru, bermain dengan hal-hal baru,” kata Scott. [em/al]

XS
SM
MD
LG