Tautan-tautan Akses

Sekolah untuk Murid Berkebutuhan Khusus Kongo Kekurangan Sumber Daya


Suasana di dalam kelas di Sekolah Pendeta Kim, Lingwala, Kinshasa, Kongo, 10 Agustus 2020, di tengah pandem COVID-19. (Foto: Arsene Mpiana / AFP)

Sebuah sekolah di Kongo yang telah menyediakan pendidikan gratis selama lebih dari 40 tahun bagi anak-anak dan remaja yang berkebutuhan khusus, berjuang keras untuk tetap beroperasi. Sekolah itu mengalami kesulitan setelah pandemi virus corona mengakibatkan sumbangan dana jauh berkurang dan sebagian guru berhenti mengajar.

Kepala sekolah untuk murid berkebutuhan khusus di Kongo, Fernand Blaise Kondani, mengatakan, krisis COVID-19 secara global telah berdampak besar terhadap keuangan sekolah.

Dalam tahun-tahun sebelumnya, tunjangan untuk membayar gaji guru didapat dari sebuah organisasi di Perancis. Namun kini, gaji para guru tersebut tidak dibayar secara rutin.

Kepala sekolah Fernand Blaise mengatakan. "Organisasi itu juga memiliki masalah di sana, lebih serius dibandingkan dengan di sini, di Kongo. Jadi itulah sebabnya kami mengalami sedikit kesulitan, Namun kami tetap terus bertahan."

Institusi pendidikan tersebut, yang dibuka di ibu kota Kongo, Brazzaville, pada tahun 1975, bergantung sepenuhnya pada sumbangan dana dari Prancis. Kini sekolah kebutuhan khusus itu menghadapi tantangan terbesarnya, yaitu berupaya agar tetap beroperasi.

Sejak pandemi yang mengakibatkan krisis ekonomi terjadi, sekolah itu melihat adanya penurunan pemasukan uang dalam jumlah besar. Setelah sebagian guru berhenti mengajar, sekolah itu kini bergantung pada sukarelawan yang bersedia untuk meneruskan pelajaran di kelas.

Suasana di ruang kelas di Sekolah Pendeta Kim, Lingwala, Kinshasa, Kongo, di tengah pandemi COVID-19, 10 Agustus 2020. (Foto: Arsene Mpiana / AFP)
Suasana di ruang kelas di Sekolah Pendeta Kim, Lingwala, Kinshasa, Kongo, di tengah pandemi COVID-19, 10 Agustus 2020. (Foto: Arsene Mpiana / AFP)

Beberapa murid mendaftar untuk belajar membaca dan menulis dalam Bahasa Perancis dan sebagian lagi diajari keterampilan khusus seperti bertukang kayu.

Charvy Matingou, seorang siswa mengatakan, "Sekolah khusus ini memberikan sesuatu yang tidak saya miliki. Saya tidak dapat membaca atau menulis. Kini saya dapat menulis kata-kata dan orang lain dapat membacanya. Demikian halnya dengan pekerjaan. Saya tidak tahu apa apa sebelumnya. Saya belajar tentang keterampilan bertukang kayu. Saya telah melakukannya selama empat tahun di sini."

Di sekolah, murid-murid itu diajarkan cara meningkatkan keterampilan, seperti misalnya perempuan diajari menjahit pakaian dan laki-laki mendapat keterampilan mengolah kayu.

Kondani mengatakan, donasi sekecil apa pun akan sangat membantu.

Ia menambahkan, "Jadi jika orang-orang beritikad baik dapat menolong kami bahkan dengan memberi kami sebuah jarum, ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah." [lj/uh]

XS
SM
MD
LG