Tautan-tautan Akses

Sekolah Kembali Dibuka di Banyak Negara di Dunia


Anak-anak di Wuhan, China saat kembali ke sekolah (foto: ilustrasi).

Anak-anak kembali ke sekolah di banyak bagian dunia hari Selasa (1/9). Ini adalah eksperimen massal untuk menjembatani ketidaksetaraan dan menghidupkan kembali ekonomi di tengah pandemi yang berkepanjangan. Siswa diharuskan memakai masker, bahkan pada saat jam istirahat.

Sementara banyak sekolah di Amerika dibuka kembali secara daring atau perpaduan daring dan tatap muka, di Eropa dan banyak bagian lain dunia sekolah kembali dibuka dengan kelas tatap muka. Pemerintah berusaha menunjukkan bahwa hidup tetap berjalan meskipun ada virus yang telah menulari sedikitnya 25 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan lebih dari 800 ribu orang.

Anak-anak mencium orangtua dan berangkat ke sekolah di Prancis. Sambil malu-malu, siswa menyapa guru mereka di Israel. Di Inggris, siswa duduk berjauhan di dalam kelas. Di Rusia, siswa harus menyanitasi tangan sebelum masuk kelas. Ruang kelas tampak sangat berbeda dari biasanya, dengan pelindung plastik di sekitar meja dan tanda peringatan tentang adanya virus ditempel di mana-mana di sekolah.

Di Italia, Elisa Scinnimanco melepas anaknya, Benedetta, ke sekolah. "Ada rasa takut, tetapi kita harus bertanggung jawab, menerapkan langkah kebersihan untuk mencegah dan menghindari penularan."

Di Inggris, orangtua akan didenda jika menolak anak-anak mereka kembali ke sekolah. Pihak sekolah melakukan langkah-langkah untuk mengurangi kontak antar anak.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan, walaupun ancaman virus tetap nyata, penutupan sekolah telah merusak kesehatan jiwa dan perkembangan sosial anak-anak, terutama anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, penyandang difabel, atau keluarga yang bertindak kasar terhadap anak. Menurut pakar medis, risiko membuka sekolah tergantung pada seberapa luas penularan COVID-19 dalam komunitas itu dan langkah keamanan yang diambil.

Pembukaan kembali sekolah memang melegakan bagi banyak keluarga yang mengatakan bahwa belajar secara daring adalah tugas yang sulit. Seorang ibu di Yordania mengungkapkan, "Sebagian guru menguasai pembelajaran daring, tetapi sebagian lainnya, tidak. Beban ada pada orang tua."

Orang tua mempersiapkan anak untuk lingkungan sekolah yang baru. Seorang siswa di Yordania, Reem Osama, mengatakan, "Ibu menyuruh saya agar tidak memberikan tisu atau makanan atau air kepada siapa pun dan tidak dekat dengan siapa pun, supaya tidak tertular virus corona."

Sekolah tetap ditutup di sebagian besar Afrika dan beberapa negara Asia. Tetapi di Wuhan, kota di China di mana virus corona pertama kali muncul tahun lalu, sekolah dibuka lagi hari Selasa.

Kembali ke Amerika, Kota New York, sistem sekolah terbesar, menunda awal tahun ajaran baru 11 hari menjadi 21 September.[ka/lt]

XS
SM
MD
LG