Tautan-tautan Akses

Sekjen PBB: Ketimpangan Distribusi Vaksin COVID adalah Hal ‘Bodoh’ 


Jarum suntik Vaksinasi COVID-19 dengan vaksin Sinovac di Lhoknga, Aceh, 2 Oktober 2021. ( CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)

“Tidak memiliki distribusi vaksin yang merata bukan hanya masalah tidak bermoral, tetapi juga masalah kebodohan,” kata Sekjen PBB hari Kamis (7/10) mengenai ketimpangan ketersediaan vaksin di antara negara-negara kaya dan miskin.

António Guterres yang frustrasi mengatakan upaya negara-negara maju untuk mendorong rakyat mereka akan divaksinasi “satu, dua atau tiga kali akan berantakan” jika daerah-daerah lain di dunia masih belum divaksinasi dan varian-varian baru COVID bermunculan.

PBB dan Organisasi Kesehatan Dunia mencari dana 8 miliar dolar untuk menerapkan strategi mereka memvaksinasi 40 persen populasi setiap negara pada akhir tahun ini dan 70 persen pada pertengahan 2022.

Rencana ini akan membuat negara-negara kaya bertukar waktu pengiriman vaksin dengan negara-negara miskin dan juga akan membuat negara-negara kaya memenuhi komitmen donasi vaksin mereka untuk COVAX, suatu prakarsa global untuk akses yang adil ke vaksin COVID-19.

“Kita masih dapat mencapai target-target untuk tahun ini dan tahun mendatang, tetapi ini akan membutuhkan level komitmen politik, aksi dan kerja sama, melampaui apa yang telah kita lihat hingga kini,” kata Dirjen WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Sementara itu di AS, sebuah studi yang hasilnya dimuat hari Kamis di jurnal medis Pediatrics menyatakan, lebih dari 120 ribu anak-anak keturunan minoritas di AS telah kehilangan pengasuh utama mereka, termasuk orang tua atau kakek-nenek yang bertanggung jawab atas kebutuhan anak tersebut, karena pandemi COVID-19.

Kajian ini merupakan kolaborasi antara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Imperial College London, Harvard University, Oxford University, dan the University of Cape Town, Afrika Selatan. Studi ini didanai sebagian oleh National Institute on Drug Abuse (NIDA) , bagian dari National Institutes of Health, serta Imperial College London.

Direktur NIDA Dr. Nora D. Volkow mengatakan, “Kita harus mengatasi banyak ketidaksetaraan mendasar dan kesenjangan kesehatan yang membuat orang-orang nonkulit putih menghadapi risiko lebih besar terjangkit COVID-19 dan meninggal karena COVID-19, yang membuat anak-anak nonkulit putih berisiko lebih besar kehilangan orang tua atau pengasuh mereka dan menghadapi efek negatif terkait pada tumbuh kembang mereka.”

Hampir satu bulan setelah mengumumkan rencana menyeluruh untuk mewajibkan jutaan orang Amerika mendapatkan vaksin COVID-19, Presiden AS Joe Biden bepergian ke Chicago hari Kamis (7/10) untuk membahas kemajuan mengenai mandat vaksin tersebut.

Presiden Joe Biden berbicara tentang vaksinasi COVID-19 setelah meninjau lokasi konstruksi Clayco Corporation untuk pusat data Microsoft di Elk Grove Village, Illinois, 7 Oktober 2021.
Presiden Joe Biden berbicara tentang vaksinasi COVID-19 setelah meninjau lokasi konstruksi Clayco Corporation untuk pusat data Microsoft di Elk Grove Village, Illinois, 7 Oktober 2021.

Dalam komentar yang dilontarkan di Clayco, sebuah perusahaan konstruksi nasional, Biden mengatakan bahwa mandatnya efektif dan bahwa jutaan orang Amerika telah divaksinasi sejak hal itu diumumkan.

"Kita tahu bahwa tidak ada jalan lain untuk mengalahkan pandemi selain membuat mayoritas besar rakyat Amerika divaksinasi … Kita belum sampai ke sana. Kita harus mengalahkan hal ini,” ujarnya.

Biden juga mengatakan mandat itu baik untuk perekonomian dan telah mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Sewaktu mengakhiri pernyataannya, Biden meminta agar lebih banyak lagi perusahaan yang memberlakukan mandat tersebut.

Johns Hopkins Coronavirus Resource Center Jumat mengatakan telah mencatat 237 juta infeksi COVID dan hampir 5 juta kematian akibat COVID di seluruh dunia. Ditambahkan pula bahwa 6,4 miliar vaksin telah diberikan sejauh ini. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG