Tautan-tautan Akses

Sekjen NATO Akui Penarikan Afghanistan 'Berisiko' 


Sejumlah tentara NATO memeriksa lokasi serangan di Kabul, Afghanistan, 25 Maret 2020.
Sejumlah tentara NATO memeriksa lokasi serangan di Kabul, Afghanistan, 25 Maret 2020.

Tidak ada jaminan bahwa pemerintah dan pasukan keamanan Afghanistan akan berhasil, atau bahkan bisa bertahan, begitu pasukan terakhir AS dan koalisi meninggalkan negara itu. Hal itu adalah penilaian blak-blakan dari pejabat tinggi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO).

“Tentu, kita harus menghadapi kenyataan, banyak ketidakpastian,” kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg dalam pernyataan virtual, Senin (7/6), menjelang pertemuan di Pentagon dan Gedung Putih.

"Keputusan untuk meninggalkan (Afghanistan) membawa risiko," katanya.

Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi pasukan Amerika di Timur Tengah dan Asia Selatan, penarikan AS mendekati separuhnya, dengan pasukan terakhir AS, kontraktor sipil dan peralatan paling lambat akan keluar dari Afghanistan pada awal September.

Penarikan NATO sendiri, yang melibatkan sekitar 7.000 tentara, juga "sesuai target," kata Stoltenberg, yang membela keputusan untuk menarik pasukan setelah hampir dua dekade memerangi Taliban dan kelompok teroris seperti al-Qaida dan ISIS.

"Kita harus ingat pada satu sisi, ini adalah perkembangan bertahap," kata Stoltenberg.

"Beberapa tahun yang lalu, kita memiliki 100.000 lebih tentara dalam operasi tempur besar. Selama bertahun-tahun, kita telah mampu membangun, melatih pasukan keamanan Afghanistan sehingga mereka sekarang bertanggung jawab atas keamanan di negara mereka sendiri."

Namun sejumlah keraguan muncul mengenai kemampuan pasukan keamanan Afghanistan untuk berfungsi tanpa dukungan yang substansial dari pasukan AS dan NATO.

Sejak pasukan AS mulai ditarik bulan lalu, pasukan Taliban telah merebut sekurangnya tujuh distrik, sebagian tanpa perlawanan.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg memberikan keterang pers usai pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden di Gedung Putih, Washington DC, Senin, 7 Juni 2021. (Foto: AP)
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg memberikan keterang pers usai pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden di Gedung Putih, Washington DC, Senin, 7 Juni 2021. (Foto: AP)

Laporan yang pekan lalu dirilis Tim Pemantau Sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Afghanistan memperingatkan, para komandan Taliban semakin memposisikan pasukannya untuk merebut apa yang tidak bisa mereka dapatkan melalui negosiasi “ketika tingkat kepergian pasukan asing tidak lagi bisa merespons secara efektif.”

Para komandan senior militer AS juga telah menyuarakan keprihatinan mengenai “kemampuan militer Afghanistan untuk bertahan” begitu pasukan dan kontraktor AS meninggalkan negara itu.

Namun, Sekjen NATO Senin menekankan meskipun pasukan NATO meninggalkan Afghanistan, aliansi akan terus memberikan dukungan keuangan serta akan mempertahankan kehadiran sipil di Kabul untuk memberi nasihat kepada pasukan keamanan Afghanistan dan membantu membangun kapasitas mereka.

"Kita tidak mengakhiri dukungan untuk Afghanistan," kata Stoltenberg, dan menambahkan NATO juga terus mencari cara untuk memberikan pelatihan tambahan bagi pasukan operasi khusus Afghanistan.

"Kita bisa melatih pasukan Afghanistan di negara lain, dan kita mencari cara untuk memberikan dukungan semacam itu," katanya.

Namun, rencana-rencana itu kurang spesifik, dan masih banyak yang harus dimatangkan. [my/ka]

XS
SM
MD
LG