Tautan-tautan Akses

Sebagian Mahasiswa Universitas Vienna Kuliah dari Gereja Selama Pandemi


Mahasiswa mengikuti kuliah melalui video stream di gereja neo-gothic 'Votivkirche' di Wina, Austria, Kamis, 15 Oktober 2020. (Foto: AP)

Pandemi virus corona memaksa institusi-institusi pendidikan tinggi untuk mengubah cara mereka memberikan pengajaran kepada para mahsiswa, tak terkecuali Universitas Vienna di Austria. Akibat pengurangan kapasitas ruang perkuliahan selama pandemi, pihak kampus memutuskan untuk mengalihkan sebagian tempat belajar mahasiswa ke sebuah gereja bergaya neo-gotik di tengah-tengah kampus, langkah yang disambut baik oleh pihak gereja.

Universitas Vienna di Austria menggunakan sebuah gereja sebagai lokasi alternatif pembelajaran jarak jauh selama kampus itu mengurangi separuh kapasitas ruang perkuliahan akibat pandemi virus corona. Hal itu dilakukan agar 90 ribu mahasiswa yang berkuliah di kampus itu bisa tetap belajar tanpa harus melanggar aturan pembatasan sosial dan terhindar dari penularan Covid-19.

Semak Forsythia bermekaran di depan gereja Votivkirche pada hari musim dingin yang cerah di Wina 10 Januari 2014. (Foto: REUTERS/Heinz-Peter Bader)
Semak Forsythia bermekaran di depan gereja Votivkirche pada hari musim dingin yang cerah di Wina 10 Januari 2014. (Foto: REUTERS/Heinz-Peter Bader)

“Saat ini kami hanya menyediakan 40 hingga 50 persen ruang dari kapasitas biasanya di universitas. Jadi kami mulai mencari tempat-tempat alternatif di sekitar kampus di mana para mahasiswa bisa menghabiskan waktu antar-perkuliahan atau hadir ke kelas secara digital. Dan gereja ini terletak persis di tengah-tengah berbagai bangunan di kampus, jadi lokasinya sangat nyaman," kata Wakil Rektor Universitas Vienna, Christa Schnabl, kepada Associated Press.

Gereja Votivkirche itu dibangun dengan gaya neo-gotik di sekitar akhir abad ke-19 dan menampilkan langit-langit melengkung yang tinggi, juga jendela berwarna-warni khas masa itu.

Untuk memfasilitasi lingkungan belajar yang baik, pihak universitas telah memasang sejumlah titik hotspot internet nirkabel atau Wi-Fi di dalam gereja dan meningkatkan infrastruktur broadband-nya. Selain itu, seperti diberitakan AFP, pihak kampus juga menambah lebih banyak steker listrik di seantero gereja, sekaligus memasang beberapa toilet portabel untuk mengakomodasi mahasiswa.

“Agak tidak biasa, tapi harus saya akui ini punya keistimewaan. Saya rasa belajar di sini itu keren, walau agak dingin," kata Tamara, mahasiswi Sastra Inggris asli Vienna kepada Associated Press.

Mahasiswa Universitas Wina yang memakai masker wajah belajar di dalam gereja Votivkirche di tengah wabah Covid-19, di Wina, Austria, 6 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Lisi Niesner)
Mahasiswa Universitas Wina yang memakai masker wajah belajar di dalam gereja Votivkirche di tengah wabah Covid-19, di Wina, Austria, 6 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Lisi Niesner)

Mahasiswa lainnya, Tobias March, lega ia masih bisa ikut perkuliahan dari gereja tersebut.

“Saya memerlukan tempat, tapi aula kuliahnya sudah terlanjur penuh. Makanya saya sangat bersyukur ada tempat bagi saya belajar di sini dan mendengarkan kuliah daring. Suasana di sini relaks dan menyenangkan, saya sangat merekomendasikannya.”

Pihak kampus, yang menjadikan pengalihan sebagian lokasi belajar ke gereja ini sebagai eksperimen, akan mengevaluasi kembali situasi tersebut dalam beberapa pekan ke depan.

Mahasiswa Universitas Wina yang memakai masker wajah belajar di dalam gereja Votivkirche di tengah wabah Covid-19, di Wina, Austria, 6 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Lisi Niesner)
Mahasiswa Universitas Wina yang memakai masker wajah belajar di dalam gereja Votivkirche di tengah wabah Covid-19, di Wina, Austria, 6 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Lisi Niesner)

Di sisi lain, pihak gereja pun tidak menyampaikan keberatan apapun terhadap langkah Universitas Vienna, meski pada malam hari, ketika misa digelar, fungsi gereja sebagai tempat belajar untuk sementara dihentikan. Sebelumnya, Gereja Votivkirche juga pernah digunakan untuk menggelar konser musik.

Wakil Rektor Schnabl sendiri, yang merupakan seorang ahli teologi, mengatakan bahwa ia mendukung proyek tersebut dengan “hati nurani yang bersih.” [rd/em]

XS
SM
MD
LG