Tautan-tautan Akses

Rusia, India, China Menentang Unilateralisme


Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden China Xi Jinping bersiap untuk foto bersama di KTT G20 di Osaka, Jepang, Jumat, 28 Juni 2019.(Foto: Kim Kyung-Hoon/Pool Photo via AP)
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden China Xi Jinping bersiap untuk foto bersama di KTT G20 di Osaka, Jepang, Jumat, 28 Juni 2019.(Foto: Kim Kyung-Hoon/Pool Photo via AP)

Para pemimpin Rusia, India dan China telah mendesak aksi bersama untuk menentang unilateralisme.

Bertemu pada Jumat (28/6) di sela-sela KTT G20 di Osaka, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi berbicara mengenai cara-cara untuk meningkatkan hubungan di antara negara mereka.

Putin menekankan bahwa ketiga negara sepakat mengenai perlunya mengandalkan hukum internasional, menghormati kedaulatan nasional dan menahan diri untuk tidak mencampuri urusan internal negara-negara lain.

Ia menambahkan bahwa mereka mengadakan pertemuan menteri-menteri luar negeri dan para pejabat keamanan senior untuk mengoordinasikan aksi melawan terorisme, perdagangan narkoba dan berbagai tantangan lainnya.

Putin menyatakan bahwa Rusia, China, dan India dengan tegas menentang proteksionisme, tindakan sepihak serta sanksi-sanksi yang bertentangan dengan hukum.

Ini menyusul pertemuan dengan kelompok BRICS yang juga mengikutkan Brazil dan Afrika Selatan.

Presiden Rusia Vladimir Putin setelah itu bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May yang akan mengakhiri jabatannya. Ini adalah pertemuan tingkat tinggi pertama Rusia-Inggris dalam beberapa tahun ini.

Hubungan antara Rusia dan Inggris tegang sejak serangan gas saraf pada 4 Maret 2018 terhadap agen ganda Sergei Skripal dan putrinya di kota Salisbury. Setelah dirawat dalam kondisi kritis selama berminggu-minggu, mereka berdua akhirnya pulih.

Inggris menuduh Rusia meracuni mereka dengan gas saraf Novichok, tuduhan yang dibantah Moskow. Peracunan itu memicu krisis diplomatik besar, dengan Rusia dan negara-negara Barat saling mengusir ratusan diplomat.

May mengatakan sebelum pertemuan tersebut bahwa Inggris akan mendesak agar dua perwira intelijen Rusia yang dituduh terlibat dalam serangan itu diajukan ke pengadilan. [uh/lt]

XS
SM
MD
LG