Tautan-tautan Akses

Ribuan Orang di Italia Demo Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan


Seorang perempuan mengikuti unjuk rasa untuk memperingati Hari Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, di Milan, Italia, Sabtu, 25 November 2023. (Foto: Luca Bruno/AP Photo)
Seorang perempuan mengikuti unjuk rasa untuk memperingati Hari Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, di Milan, Italia, Sabtu, 25 November 2023. (Foto: Luca Bruno/AP Photo)

Puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan di kota-kota utama di Italia, Sabtu (25/11), untuk memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. Peringatan itu digelar pada saat pria yang diduga membunuh mantan pacarnya sedang diekstradisi dari Jerman.

Pembunuhan Giulia Cecchettin, mahasiswi berusia 22 tahun, yang diduga dilakukan oleh mantan pacarnya, telah memicu kemarahan di seluruh Italia. Di negara itu, rata-rata satu perempuan tewas setiap tiga hari.

Tersangka pembunuhan, Filippo Turetta yang berusia 21 tahun, mendarat di bandara Venesia sekitar tengah hari pada Sabtu (25/11). Dia kemudian segera dibawa ke sebuah penjara di Kota Verona di sebelah utara untuk menjalani pemeriksaan terkait penyelidikan terhadap kematian Cecchettin, media Italia melaporkan.

Cecchettin menghilang setelah bertemu Turetta untuk makan burger di sebuah pusat perbelanjaan dekat Venesia, beberapa hari sebelum dia menerima gelar bidang teknik biomedis. Kasus itu menarik perhatian warga Italia.

Tubuh Cecchettin ditemukan pada 18 November. Saat ditemukan, tubuhnya ditutupi dengan kantong hitam di selokan di kaki pegunungan Alpen. Turetta ditangkap sehari kemudian di Jerman.

Pembunuhan picu kemarahan

Pembunuhan Cecchettin memantik gelombang duka dan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Italia di mana banyak perempuan mengatakan sikap patriarki masih sangat mengakar.

Data dari Kementerian Dalam Negeri Italia menunjukkan 106 perempuan sudah terbunuh di Italia tahun ini, 55 di antaranya diduga dibunuh oleh pasangan atau mantan pasangan.

Televisi pemerintah, RAI TV, melaporkan bahwa dalam beberapa hari sejak jenazah Cecchettin ditemukan, panggilan telepon ke saluran siaga nasional untuk perempuan yang takut akan keselamatannya di tangan laki-laki, melonjak menjadi 400 per hari dari 200. Para penelepon termasuk orang tua dari para pemudi.

"Roma telah diserang..kami ada 500.000," kata para aktivis dari Non Una Di Meno, asosiasi anti-kekerasan terhadap feminis yang menyelenggarakan pawai di ibu kota Italia.

Seorang perempuan menunjukkan foto Giulia Cecchettin yang diduga dibunuh oleh mantan pacarnya, dalam demo memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, di Milan, Italia, Sabtu, 25 November 2023. (Foto: Luca Bruno/AP Photo)
Seorang perempuan menunjukkan foto Giulia Cecchettin yang diduga dibunuh oleh mantan pacarnya, dalam demo memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, di Milan, Italia, Sabtu, 25 November 2023. (Foto: Luca Bruno/AP Photo)

Banyak demo-demo di seluruh Italia digelar untuk mengenang Cecchettin dan kisahnya yang menarik perhatian.

"Kekerasan oleh laki-laki menyentuh saya secara pribadi dan kita semua, dalam segala usia," kata Aurora Arleo, seorang mahasiswi berusia 24 tahun dari Ladispoli, dekat Roma, yang mengikuti unjuk rasa.

“Kita juga bersatu atas nama Giulia, karena kisahnya mengejutkan kita, dan saya berharap ini akan mengubah sesuatu.”

Sejumlah pria tunjukkan dukungan

Ribuan laki-laki dari segala usia juga menanggapi seruan untuk mengikuti inisiatif melawan kekerasan gender.

"Saya pikir penting untuk berada di sini hari ini," kata Leonardo Sanna, 19 tahun, yang mengikuti demo di Roma bersama sejumlah kawan perempuannya.

"(Demo) ini bukan yang pertama bagi saya, tetapi saya yakin kematian Giulia mengubah sebagian persepsi di antara para anak muda dan saya berharap hal ini tidak hanya berlangsung singkat."

Pada awal pekan ini, parlemen Italia menyetujui langkah-langkah baru untuk memberantas kekerasan terhadap perempuan, menyusul dukungan bulat dari kedua kamar tersebut.

Di antara langkah-langkah baru itu yang sedang dilakukan adalah kampanye untuk mengatasi seksisme, budaya maskulinitas atau machismo dan kekerasan psikologis dan fisik terhadap perempuan.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan masih menjadi salah satu pelanggaran hak asasi manusia yang paling banyak terjadi di dunia. Menurut data terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), secara global, lebih dari 700 juta perempuan – hampir satu dari tiga – pernah menjadi sasaran kekerasan fisik dan seksual oleh pasangan intim, kekerasan seksual non-pasangan, atau keduanya, setidaknya sekali dalam hidup mereka. [ft/ah]

XS
SM
MD
LG