Tautan-tautan Akses

Regulator AS: Obat Eksperimental Covid-19 Tidak Efektif untuk Pasien di RS


Seorang peneliti menguji obat eksperimental untuk Covid-19 di laboratorium Eli Lily di Indianapolis, Mei 2020. (David Morrison / Eli Lilly melalui AP, File)

Para peneliti pemerintah AS menyatakan sebuah obat terapeutik eksperimental tidak efektif untuk mengobati pasien yang diopname di rumah sakit dengan Covid-19 tahap lanjut.

Institut Nasional bagi Alergi dan Penyakit Menular, Senin (26/1) mengeluarkan pernyataan tidak akan lagi merekrut pasien-pasien baru untuk ambil bagian dalam uji klinis obat eksperimental itu yang disebut bamlanivimab.

Obat itu, yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi berbasis di AS Eli Lilly dan perusahaan bioteknologi berbasis di Kanada AbCellera, merupakan bagian dari satu jenis pengobatan yang dikenal sebagai antibodi monoklonal, yang dibuat untuk bertindak sebagai sel-sel imunitas yang diharapkan para ilmuwan dapat memerangi virus corona. Terapi antibodi ini mirip dengan yang diberikan kepada Presiden AS Donald Trump setelah ia dinyatakan positif terjangkit Covid-19 awal bulan ini.

Kantor pusat Eli Lilly and Co. di Indianapolis, 26 April 2017. (Foto: dok).
Kantor pusat Eli Lilly and Co. di Indianapolis, 26 April 2017. (Foto: dok).


Uji klinis dihentikan sementara awal bulan ini oleh para pemantau independen karena masalah keamanan. Penelitian yang diluncurkan pada Agustus lalu itu bertujuan untuk melibatkan 10 ribu pasien virus corona yang diopname di rumah sakit di AS.

Eli Lilly telah mendaftar ke Badan Pengawasan Makanan dan Obat AS (FDA) untuk mendapat izin darurat agar obat itu digunakan untuk kasus-kasus infeksi Covid-19 ringan hingga sedang berdasarkan hasil awal dari sebuah uji klinis lainnya.

AS sedang mengalami lonjakan dramatis kasus baru Covid-19, dengan lebih dari 66 ribu kasus terkukuhkan pada hari Senin (26/10), menurut data yang dirilis Johns Hopkins Coronavirus Resource Center. Angka infeksi baru itu telah mendorong beberapa kota dan negara bagian ke titik krisis, termasuk di kota El Paso, Texas, di mana jumlah pasien virus corona berlipat tiga menjadi lebih dari 800 pasien selama tiga pekan ini.

Situasi telah begitu menakutkannya di kota perbatasan itu sampai-sampai para pejabat menetapkan larangan keluar rumah yang ketat mulai pukul 10 malam hingga pukul 5 pagi dan perintah tetap tinggal di rumah selama dua pekan. Hakim yang mengeluarkan perintah jam malam itu mengatakan unit-unit perawatan intensif di semua rumah sakit di kota itu telah benar-benar penuh.

Gubernur Texas Greg Abbott telah mengungkapkan rencana untuk menampung antara 50 dan 100 pasien di balai sidang di El Paso, dan bahkan telah menanyakan tentang penempatan pasien nonvirus corona di sebuah rumah sakit angkatan darat AS di daerah itu.

Di negara bagian Utah, satu kelompok yang mewakili rumah sakit-rumah sakit di negara bagian itu telah memperingatkan Gubernur Gary Herbert bahwa fasilitas-fasilitas di sana telah mencapai titik di mana mereka mungkin harus mulai menjatah perawatan, di mana para dokter akan harus menentukan siapa yang dapat tetap tinggal di rumah sakit berdasarkan beberapa faktor seperti usia dan kesehatan secara keseluruhan.

Sementara itu situasi terus membaik di Melbourne, kota terbesar kedua di Australia, yang pada Selasa mencatat hari kedua berturut-turut tanpa kasus baru virus corona. Tonggak awal pada hari Senin merupakan hari pertama bebas Covid-19 sejak 9 Juni lalu.

Melbourne dan negara bagian Victoria telah menghadapi lonjakan besar-besaran kasus baru virus corona, yang mencapai puncaknya pada Agustus lalu sewaktu kasus baru harian meningkat di atas 700.

Perdana Menteri Victoria Daniel Andrews hari Senin mengumumkan bahwa lima juta warga Melbourne akan dapat meninggalkan rumah mereka efektif mulai Selasa tengah malam, dan bahwa semua kafe, restoran, bar, toko-toko dan hotel-hotel akan diizinkan untuk buka kembali. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG