Tautan-tautan Akses

AS

Reaksi Orang Tua AS atas Aturan China Batasi Waktu Main Video Game


Seorang pekerja mengamati komputer yang menampilkan video game "Glorious Mission Online" di sebuah perusahaan pembuat game di Shanghai, China. (Foto: Reuters/ Aly Song)

Raleigh Smith Duttweiler sedang melipat pakaian di rumahnya di Ohio, sementara ketiga anaknya bermain video game Minecraft di lantai atas. Saat itu dia mendengar berita di NPR tentang peraturan baru China yang melarang remaja dan anak-anak di bawah usia 18 main video game selama lebih dari tiga jam per minggu.

“Wah, itu ide yang bagus,” kata Duttweiler yang bekerja sebagai humas dari sebuah organisasi nirlaba. “Insting saya sebagai orang Amerika mengatakan, wah ini semacam pelanggaran hak dan pemerintah harusnya tidak campur tangan mengatur apa yang boleh dan tak boleh dilakukan di rumah.

“Tetapi di sisi lain," tambahnya, "Memang tidak baik kalau anak-anak kebanyakan main video game, seperti juga anak-anak saya. Dan saya pikir akan jauh lebih mudah untuk menghentikan mereka bukan dengan cara 'bertengkar dengan Ibu' melainkan dengan mengatakan 'nanti polisi datang.'"

"Game for Peace", game buatan Tencent pesaing video game PUBG di China. (Foto Ilustrasi REUTERS/Florence Lo)
"Game for Peace", game buatan Tencent pesaing video game PUBG di China. (Foto Ilustrasi REUTERS/Florence Lo)

Bagi keluarga Duttweiler dan banyak keluarga lain di luar China, berita hari Senin (30/8) tentang campur tangan pemerintah secara ketat - yang menurut para regulator diperlukan untuk mencegah adiksi pada apa yang digambarkan sebagai “candu spiritual” itu - menekankan lagi tantangan dalam hal pengendalian video game di rumah, khususnya di masa pandemi ini.

Pemerintah China mengatakan aturan baru tersebut merupakan tanggapan terhadap keprihatinan yang semakin besar bahwa video games berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental anak-anak, kekhawatiran yang juga dirasakan para orang tua dan pakar di AS.

Paul Morgan adalah ayah dari dua remaja, dan juga seorang profesor di Penn State yang mempelajari penggunaan alat-alat elektronik. Dia melihat ada kekurangan dalam peraturan tersebut, tetapi ia mengakui memang sulit mengendalikan anak-anak dan video game. “Benda elektronik ini ada di mana-mana,” kata Morgan. “Sangat sulit untuk menjauhkan anak-anak dari alat-alat ini.”

Tetapi, kata Morgan, dampak negatif akibat penggunaan video game yang berlebihan biasanya terjadi pada pengguna berat, kemungkinan karena kurangnya waktu tidur dan olahraga. Larangan ini tidak mengatur soal penggunaan media sosial, yang disebut-sebut berbahaya khususnya bagi anak perempuan. Tapi sebaliknya, ada kelompok masyarakat yang bisa merasakan manfaatnya, misalnya pelajar difabel, yang bisa berinteraksi sosial melalui video game.


Shira Weiss adalah humas untuk klien teknologi, termasuk perusahaan video game. Dia merasa ada manfaat dari video game karena anak kembarnya yang berusia 12 tahun bisa tetap berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Tetapi dia ingin bisa membatasi seberapa sering mereka memainkan video game yang bermuatan kekerasan.

“Saya pikir aturan di China itu bagus,” kata Weiss. “Main video game tak dilarang, tetapi ada batasan waktunya." Sambil bergurau ia mengatakan, "Bisa gak aturan itu diberlakukan di rumah saya?"

Michael Gural-Maiello, yang bekerja di bidang pengembangan bisnis sebuah perusahaan teknik dan punya putra usia 11 tahun, berpendapat orang tualah yang seharusnya mengatur penggunaan video game ini. “Saya kira tidak pada tempatnya jika pemerintah mengatur orang tua tentang bagaimana anak mereka harus menghabiskan waktu," katanya.

“China punya catatan buruk dalam bidang teknologi secara umum. Saya jauh lebih khawatir kalau putra saya menggunakan aplikasi China yang bisa mencuri data ketimbang kalau dia memainkan Mario Kart.” tambahnya. [jm/ka/er]

Lihat komentar (3)

XS
SM
MD
LG