Tautan-tautan Akses

Raja Inggris Mencoba Menjembatani Perbedaan di Antara Berbagai Keyakinan


Raja Inggris Charles III dan Ratu Camilla saling memandang saat berdiri di balkon Istana Buckingham setelah penobatan mereka, di London, Sabtu, 6 Mei 2023. (Foto: via AP)
Raja Inggris Charles III dan Ratu Camilla saling memandang saat berdiri di balkon Istana Buckingham setelah penobatan mereka, di London, Sabtu, 6 Mei 2023. (Foto: via AP)

Raja Charles III baru saja dinobatkan sebagai raja Inggris beberapa waktu yang lalu. Charles disebut ingin menampilkan citra kerajaan yang lebih merangkul semua umat beragama, alih-alih hanya agama Kristen seperti yang selama ini melekat pada kerajaan berusia 1.000 tahun itu.

Pada masa ketika agama memicu ketegangan di seluruh dunia – dari nasionalis Hindu di India hingga pemukim Yahudi di Tepi Barat dan Kristen fundamentalis di Amerika Serikat – Raja Charles III mencoba menjembatani perbedaan di antara berbagai kelompok agama yang membentuk masyarakat Inggris yang semakin beragam.

Mewujudkan cita-cita itu menjadi amat penting dalam upaya raja yang baru untuk menunjukkan bahwa kerajaannya yang berusia 1.000 tahun dengan akar Kristen itu tetap dapat mewakili masyarakat Inggris yang modern dan memiliki keragaman budaya.

Itu adalah sesuatu yang sudah disadari Charles jauh sebelum menjadi raja September lalu.

Sejak tahun 1990-an, Charles ingin dikenal sebagai “pembela agama (the defender of faith),” yang merupakan sebuah perubahan kecil namun sangat simbolik dari gelar tradisional raja sebagai “pembela agama Kristen (defender of the faith).”

Raja Inggris Charles III dan Ratu Camilla melakukan perjalanan dengan Gold State Coach setelah upacara penobatan mereka di Westminster Abbey di London, Sabtu, 6 Mei 2023. (Foto: via AP)
Raja Inggris Charles III dan Ratu Camilla melakukan perjalanan dengan Gold State Coach setelah upacara penobatan mereka di Westminster Abbey di London, Sabtu, 6 Mei 2023. (Foto: via AP)

Bagi David Latchman, ahli genetika dan wakil rektor Birkbeck, University of London, komitmen raja lebih dari sekadar gestur simbolik di negara dengan masalah antisemitisme yang semakin meningkat.

Dalam wawancara dengan Associated Press, Latchman mengatakan: “Ia adalah seorang kepala negara. Tidak peduli apakah kepala negara itu seorang raja, presiden atau apa pun itu, ia harus menjadi seseorang yang memastikan bahwa semua komunitas merasa diterima, merasa menjadi bagian dari suatu negara, dan sebagainya. Dan, kita sudah melihat masalah seputar anti-Semitisme di Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Saya tidak mengatakan bahwa raja akan menjadi pembela utama perlawanan anti-Semitisme, tapi jelas kita memerlukan raja yang sepenuhnya setuju dengan perjuangan itu.”

Secara rata-rata, Inggris menghadapi hampir 1.700 insiden antisemitisme setiap tahun sejak 2016, lebih dari dua kali lipat jumlah insiden lima tahun sebelumnya, menurut data statistik yang disusun oleh Community Security Trust, yang mengampanyekan perlidungan warga Yahudi dari tindakan antisemitisme.

Antisemitisme juga sudah merasuk ke dalam dunia politik.

Partai oposisi, Partai Buruh, sedang memberantas antisemitisme dari dalam partainya sendiri setelah sebuah penyelidikan oleh badan pengawas HAM nasional menemukan bahwa partai itu bertanggung jawab atas “tindakan melanggar hukum berupa pelecehan dan diskriminasi” terhadap warga Yahudi.

Sejarah Inggris menunjukkan sendiri bahaya mengabaikan perilaku seperti itu.

Raja Edward I mengusir warga Yahudi dari kerajaannya pada tahun 1290, dan baru hampir 400 tahun setelahnya mereka secara resmi diizinkan kembali.

Latchman telah mendokumentasikan kisah warga Yahudi di Inggris dengan sebuah koleksi artefak yang memenuhi perpustakaan bertingkat di kediamannya di utara London.

Warga muslim di Inggris juga berjuang melawan tindakan diskriminasi.

Raja Charles III mengenakan Mahkota St Edward saat upacara penobatannya di Westminster Abbey, London, 6 Mei 2023. (Foto: Yui Mok via REUTERS)
Raja Charles III mengenakan Mahkota St Edward saat upacara penobatannya di Westminster Abbey, London, 6 Mei 2023. (Foto: Yui Mok via REUTERS)

Sebuah penelitian tahun 2022 oleh para periset Universitas Birmingham menemukan bahwa lebih dari seperempat masyarakat Inggris memiliki pandangan negatif terhadap umat Islam.

Aliya Amaz, seorang muslim yang bekerja untuk mengedepankan dialog antaragama, bersama perwakilan dari agama-agama lain menyapa Charles di penghujung upacara penobatannya di Katedral Westminster untuk berjanji bersatu dengan sang raja baru untuk bekerja sama memperjuangkan kebaikan bersama.

“Saya rasa akan sangat indah ketika semua orang semakin dekat pada Tuhan. Itu menjadi sebuah cahaya. Cahaya mana pun yang bersinar di dalam masyarakat akan menerangi seluruh masyarakat. Ia menjadi kekuatan sebuah kekompakan, pemersatu masyarakat, mengatasi kegelapan perpecahan," katanya.

Itu adalah pesan yang ingin disampaikan Charles dengan hadirnya perwakilan Budha, Hindu, Yahudi, Islam dan Sikh di upacara penobatannya. [rd/jm]

Forum

Recommended

XS
SM
MD
LG