Tautan-tautan Akses

Puluhan Ribu Berunjuk Rasa di Lahore Pakistan 


Para pendukung Gerakan Demokratik Pakistan (PDM), mengibarkan bendera dalam unjuk rasa anti-pemerintah di Lahore, Ibu Kota Pakistan, Minggu, 13 Desember 2020. (Foto: Arif Ali/AFP)
Para pendukung Gerakan Demokratik Pakistan (PDM), mengibarkan bendera dalam unjuk rasa anti-pemerintah di Lahore, Ibu Kota Pakistan, Minggu, 13 Desember 2020. (Foto: Arif Ali/AFP)

Presiden aliansi partai-partai oposisi di Pakistan memperingatkan akan terjadinya konfrontasi antara masyarakat dan militer, apabila militer menghalangi mereka mencapai Ibu Kota Pakistan, Islamabad, untuk berunjuk rasa.

“Jangan halangi rakyat," katanya. Dia menambahkan bahwa dia meramalkan akan adanya anarki, apabila status quo dibiarkan.

Maulana Fazlur Rehman berada di Lahore pada Minggu (13/12), berpidato di depan Gerakan Demokratik Pakistan (PDM). Aliansi itu beranggotakan 11 partai oposisi yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan. PDM mengumumkan akan berpawai di ibu kota, apabila Khan tidak mengundurkan diri pada akhir Januari.

Rehman, pemimpin sebuah partai politik Islamis bernama Jamiat e Ulema e Islam, kerap mengkritik pemerintahan sekarang ini sejak pemerintahan itu terpilih pada 2018. Upaya Rehman untuk membangun aliansi oposisi pernah mengalami hambatan, hingga akhirnya PDM terbentuk pada September.

Puluhan ribu orang berdatangan dari seluruh negara itu untuk berpartisipasi dalam sebuah unjuk rasa di kota terbesar kedua di Pakistan itu. Kota itu dianggap penting dalam politik Pakistan.

Gagasan menciptakan Pakistan dari India Britania pertama kali muncul di Lahore pada 1940. Pada 1967, salah satu parpol terbesar di negara itu, Partai Rakyat Pakistan, dibentuk di kota yang sama. Partai yang berkuasa sekarang ini, Pakistan Tehreek e Insaaf, muncul sebagai partai nasional arus utama setelah sebuah kampanye yang sukses di Lahore pada 2011. [vm/ft]

Recommended

XS
SM
MD
LG