Tautan-tautan Akses

Kota Saint-Louis di Senegal utara kembali tenang, menyusul demonstrasi yang diikuti kekerasan dan penjarahan toko milik warga Mauritania, Senin (29/1).

Kekerasan meletus setelah kematian seorang nelayan Senegal, akibat ditembak oleh anggota penjaga pantai Mauritania. Pemerintah Senegal mengecam pembunuhan itu, namun meminta para pemrotes untuk tetap tenang, dan berjanji untuk menangani masalah ini dengan pejabat Mauritania.

Sejak perjanjian antara dua negara Afrika Barat itu pada 2016 tidak diperpanjang, insiden yang melibatkan nelayan Senegal dan penjaga pantai Mauritania sering terjadi. Moustapha Dieng, Sekretaris Jenderal Serikat Nelayan Senegal, mengatakan ini bukan insiden yang terisolir.

"Ini adalah keempat kalinya nelayan ditembak mati. Dan ada orang lain yang terluka dan tidak akan pernah bisa menangkap ikan lagi.” Dalam sebuah pernyataan tertulis, militer Mauritania mengatakan "kejadian yang tidak diinginkan ini" terjadi karena "perilaku provokatif para nelayan yang mengabaikan perintah penjaga pantai."

Mereka mengatakan, anggota penjaga pantai menembak mesin perahu untuk melumpuhkan perahu mereka, namun satu dari sembilan nelayan terkena peluru. Pernyataan itu menambahkan, kapal penjaga pantai melakukan 62 operasi serupa tahun lalu tanpa insiden.

Isu ini sedang dibahas secara luas di Mauritania, baik di media tradisional maupun sosial. Redaktur surat kabar Alakhbar, Mohamed Diop mengatakan, isu tersebut menarik banyak perhatian. [ps/jm]

XS
SM
MD
LG