Serangan ransomware terhadap perusahaan pengolahan daging terbesar di dunia mengacaukan produksi di berbagai penjuru hanya beberapa pekan setelah insiden serupa menyebabkan penutupan jaringan pipa minyak AS.
Namun perusahaan Brasil JBS SA, Selasa malam (2/6) menyatakan telah membuat “kemajuan signifikan” dalam menangani serangan siber dan memperkirakan “sebagian besar” pabriknya beroperasi pada hari Rabu.
JBS adalah produsen daging sapi, babi dan ayam terbesar kedua di AS. Jika produksi dihentikan bahkan selama satu hari saja, AS akan kehilangan hampir seperempat kapasitas pemrosesan daging sapinya, atau setara dengan 20 ribu ekor sapi potong, kata Trey Malone, asisten profesor pertanian di Michigan State University.
Joan Ruskamp, operator ladang penggemukan sapi di Nebraska mengatakan kepada TV KHGI bahwa konsumen akan segera merasakan dampaknya. Di fasilitas JBS Nebraska di Grand Island saja, ada 5.000 ekor sapi yang diproses setiap hari, kata Ruskamp.
Penutupan tersebut mencerminkan realitas bahwa pabrik pengolahan daging modern sangat terotomatisasi, untuk alasan keamanan makanan yang dihasilkan maupun para pekerjanya.
Komputer mengumpulkan data pada berbagai tahap proses produksi, dan pemesanan, penagihan, pengiriman serta fungsi-fungsi lainnya semuanya elektronik. [uh/ab]