Tautan-tautan Akses

Sementara diplomat-diplomat Amerika dan Turki melanjutkan pembicaraan guna menyelesaikan perselisihan tentang larangan visa baru-baru ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meningkatkan retorikanya terhadap Amerika. Hubungan bilateral diperkirakan semakin tegang dengan adanya kasus pengadilan mengenai sanksi terhadap Iran yang melibatkan warga Turki.

Presiden Erdogan hari Minggu (22/10) melancarkan serangan tajam terhadap negara-negara Barat yang merupakan sekutu Turki.

Erdogan mengatakan, Turki akan menghormati aliansi strategis dengan mitranya asalkan negara-negara itu menghormati undang-undang. Turki menuduh beberapa mitranya di NATO berkomplot melawannya dan menawarkan perlindungan bagi orang-orang yang dituduhnya terlibat kudeta tahun lalu.

Erdogan secara khusus menarget Amerika. Ia mengatakan, “Amerika katanya adalah tempat lahir demokrasi. Ini tidak mungkin benar, (apa yang terjadi) ini bukan demokrasi.”

Menurut Erdogan, jika Amerika mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi 13 pengawalnya di negara yang didatanginya atas undangan, ia meminta maaf karena akan menyatakan bahwa negara tersebut tidak beradab.

Jaksa Amerika menuduh pengawal Erdogan menyerang pemrotes damai di luar kedutaan besar Turki saat Erdogan berkunjung ke Washington Mei lalu. Serangan tajam presiden Turki itu terjadi ketika diplomat kedua negara melanjutkan upaya menyelesaikan larangan visa yang diberlakukan kedua negara.

Amerika menerapkan pembatasan visa menyusul penangkapan dua pegawai lokal misi diplomatiknya di Turki atas tuduhan terorisme. Langkah itu membuat Turki membalas dengan juga menerapkan pembatasan visa.

Departemen Luar Negeri Amerika menilai produktif pembicaraan hari Kamis.

Kolumnis politik Semih Idiz dari situs Al Monitor mengatakan, retorika Erdogan yang semakin tajam terhadap Amerika harus dilihat dalam konteks yang lebih luas mengenai pentingnya hubungan bilateral kedua pihak.

"Erdogan pandai menyampaikan kata-kata tajam pada saat tak terduga dan sensitif. Tetapi kita harus ingat bahwa Erdogan baru-baru ini ke New York dan mengadakan pertemuan yang sangat akrab dengan Donald Trump yang menyebutnya teman istimewa. Jadi, Turki tahu semua masalahnya dengan Amerika, dan tahu bahwa itu harus dilakukan dengan hati-hati," kata Idiz.

Pengamat berpendapat retorika keras Erdogan antara lain dimotivasi oleh politik dalam negeri. Sikap keras anti-Amerika sejalan dengan nasionalis Turki yang dipersiapkan Erdogan untuk pemilihan presiden dan pemilu 2019.

Dukungan Amerika yang berkelanjutan terhadap milisi Kurdi Suriah yang memerangi ISIS, juga terus membuat Turki marah, menuduh milisi tersebut terkait pemberontakan bersenjata di Turki. [ka/jm]

XS
SM
MD
LG