Tautan-tautan Akses

AS

Presiden Trump Bersiap untuk Berpidato di Kongres AS


Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Ruang Kabinet, Gedung Putih, Washington, D.C., 1 Februari 2019. (Foto: dok).

Presiden Amerika Donald Trump pekan ini akan menyampaikan pidato kenegaraannya di hadapan Kongres yang sangat berbeda dan lebih agresif daripada setahun sebelumnya. Wartawan VOA Michael Bowman melaporkan, pidato pada hari Selasa besok (5/2) akan disampaikan selagi tenggat waktu pendanaan pemerintah lainnya membayang, sepekan setelah pimpinan intelijen Amerika mengemukakan laporan yang bertentangan dengan pernyataan-pernyataan presiden mengenai Suriah, Korea Utara dan Iran.

Sudah sembilan tahun sejak ketua DPR Nancy Pelosi memimpin acara pidato kenegaraan presiden Amerika Serikat, yang dikenal dengan sebutan State of the Union. Sementara dia dengan antusias menyambut baik agenda mantan Presiden Barack Obama pada tahun 2010, sekarang ini anggota Demokrat dari California itu terus bersikap sebaliknya terhadap tuntutan utama Presiden Donald Trump.

Nancy Pelosi menegaskan, “Tidak akan ada dana tembok apapun dalam legislasi.”

Trump juga bergeming, dan mengatakan pembatas fisik harus didirikan di sepanjang perbatasan Amerika Serikat-Meksiko.

Trump mengemukakan,“Kalau tidak ada tembok, tidak akan efektif. Ia (Pelosi) tidak bersikap serius. Apabila tidak ada tembok, tidak akan berhasil. Dan kami akan membangun tembok itu sekarang juga.”

Sebuah komite bipartisan dari kedua majelis di Kongres hanya memiliki waktu kurang dari dua pekan untuk menyusun suatu proposal keamanan di perbatasan sebagai bagian dari paket anggaran belanja yang harus disahkan menjadi undang-undang pada pertengahan bulan ini, atau bila tidak, shutdown atau penutupan sebagian kegiatan pemerintah, akan dimulai lagi.

Senator Ben Cardin dari partai Demokrat mengatakan, "Trump Shutdown membuka mata. Setelah 35 hari, lebih banyak lagi warga Amerika yang mengapresiasi dengan lebih baik kerja keras yang dilakukan para pegawai federal dalam mendukung keamanan nasional dan ekonomi kami, layanan kesehatan masyarakat, dan kehidupan sehari-hari.”

Sementara itu pemimpin partai Republik yang mayoritas di Senat, Mitch McConnell mengemukakan,“Saya mendukung apapun yang efektif, yang berarti menghindari shutdown dan menghindari munculnya perasaan presiden bahwa ia harus mendeklarasikan keadaan darurat nasional. Bagaimana cara melakukan itu, seperti Anda semua tahu persis, cukup menantang.”

Sejauh ini, Trump telah mengisyaratkan ia mungkin akan melangkahi Kongres dan memerintahkan pembangunan pembatas perbatasan setelah menetapkan situasi darurat nasional. Para legislator dari kedua partai akan menyimak dengan seksama pidato presiden untuk menemukan petunjuknya lebih jauh. Para anggota Kongres juga menginginkan rincian mengenai masalah-masalah internasional yang mendesak.

Presiden Trump sebelumnya mengatakan, “Kita telah menang melawan ISIS.”

Pekan lalu, alasan Trump menarik pasukan Amerika dari Suriah mendapat pukulan dari pimpinan intelijennya sendiri.

Dan Coats, direktur Intelijen Nasional Amerika, mengemukakan, "ISIS berniat bangkit kembali dan masih memimpin ribuan anggota di Irak dan Suriah.”

Dan sementara presiden Trump bersiap-siap untuk mengadakan pertemuan puncak lagi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, direktur CIA Gina Haspel memperingatkan, “Rezim Korea Utara berkomitmen membuat misil bersenjata jarak jauh yang dapat menjadi ancaman langsung bagi Amerika Serikat.”

Presiden Trump juga memiliki kabar baik ekonomi untuk digembar-gemborkan. Lebihd ari 300 ribu lapangan kerja baru tercipta bulan lalu, dan tingkat pengangguran bertahan pada angka empat persen saja. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG