Tautan-tautan Akses

Presiden Afsel Desak Negara-Negara Kaya Agar Tidak Menimbun Vaksin COVID-19


Presiden Afsel, Cyril Ramaphosa di Johannesburg, Afrika Selatan, 24 April 2020. (Foto: dok).

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Selasa (26/1) mengatakan negara-negara kaya jangan menyimpan cadangan vaksin COVID-19 secara berlebihan, dan bahwa dunia perlu bekerja sama untuk memerangi pandemi.

Ramaphosa mengemukakan dalam pertemuan virtual Forum Ekonomi Dunia bahwa mereka yang menimbun vaksin perlu mengeluarkannya “agar negara-negara lain dapat memilikinya.”

“Negara-negara kaya di dunia keluar dan mendapatkan vaksin dalam jumlah besar,” kata Ramaphosa. “Beberapa negara malah mendapat hingga empat kali lipat daripada apa yang dibutuhkan populasinya … dengan mengesampingkan negara-negara lain.”

Pemimpin Afrika Selatan itu mengatakan dunia tidak aman jika sejumlah negara memvaksinasi rakyat mereka, sementara yang lainnya tidak.

Perusahaan farmasi AS Moderna, Senin (25/1) menyatakan vaksin COVID-19-nya tampaknya menghasilkan antibodi penetralisir virus terhadap varian baru virus corona yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan.

Dalam suatu pernyataan, Moderna mengemukakan perusahaan itu melakukan penelitian untuk memastikan vaksin dua dosisnya dapat memberikan perlindungan terhadap galur-galur baru virus yang dideteksi sejauh ini.

Perusahaan itu menyatakan akan melanjutkan strategi klinisnya “untuk secara proaktif mengatasi pandemi sementara virus terus berubah,” yang mencakup uji efektivitas dosis penguat tambahan vaksin COVID-19-nya.

Kemunculan beberapa varian virus corona belakangan ini, yang tampak lebih mudah menular dan kemungkinan lebih mematikan untuk kasus galur yang pertama kali diidentifikasi di Inggris, telah membuat vaksinasi menjadi isu utama bagi para pejabat kesehatan.

Para ilmuwan pekan lalu menyatakan bahwa meskipun varian Inggris dikaitkan dengan tingkat mortalitas yang lebih tinggi, diyakini juga bahwa vaksin yang ada sekarang ini masih efektif untuk melawannya. Namun, varian Afrika Selatan yang lebih mudah menular mungkin mengurangi efektivitas vaksin yang ada sekarang ini, kata para ilmuwan.

Kabar dari Moderna ini muncul sementara jumlah kasus virus corona di seluruh dunia mendekati 100 juta.

Kementerian Kesehatan Indonesia, Selasa (26/1) mengumumkan jumlah kasus di negara itu telah melampaui 1 juta. Tonggak ini tercatat beberapa pekan setelah Indonesia meluncurkan upaya memvaksinasi dua pertiga dari 270 juta rakyatnya.

Di AS, peraturan baru mulai berlaku hari Selasa (26/1) yang mewajibkan semua pelaku perjalanan berusia dua tahun ke atas, termasuk warga negara AS, untuk menunjukkan hasil negatif tes COVID-19 atau bukti sembuh dari penyakit itu sebelum mereka diizinkan menaiki penerbangan menuju AS.

Presiden Joe Biden hari Senin (25/1) memberlakukan kembali larangan masuk bagi pelancong asing yang baru saja berada di Brazil, Inggris dan banyak negara Eropa.

Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki, Senin (25/1) mengatakan dalam konferensi pers, “dengan memburuknya pandemi dan menyebarnya lebih banyak varian menular, ini bukan waktunya untuk mencabut larangan terhadap perjalanan internasional.”

Para pejabat kesehatan di negara bagian Minnesota, Senin (25/1) juga menyatakan telah mendeteksi kasus varian virus corona Brazil yang pertama di AS pada seorang pasien yang baru saja kembali dari perjalanan ke negara itu. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG