Tautan-tautan Akses

AS

Polisi di New York City Siaga pasca Serangan Teror


Polisi melakukan pengamanan ketat parade Halloween di Manhattan, New York (31/10).

Polisi di New York City terus siaga hari Rabu (1/11), sehari setelah seorang pria mengemudikan truk sewaan ke jalur sepeda yang sibuk di kota itu, menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai 11 lainnya.

Empat orang, termasuk dua anak, terluka saat penyerang menabrakkan truk ke bus sekolah. Laporan berita mengutip polisi yang mengatakan, tersangka adalah seorang migran berusia 29 tahun dari Uzbekistan bernama, Sayfullo Saipov.

Polisi menembaknya setelah dia keluar dari truk sambil mengacungkan dua senapan palsu. Sementara dia dalam penyembuhan di rumah sakit, polisi bekerja sepanjang malam, mengumpulkan bukti dari truk sewaan yang digunakan dalam serangan itu.

Polisi juga mengepung sebuah kendaraan yang diyakini milik tersangka di tempat parkir toko peralatan bangunan, Home Depot di Passaic, New Jersey. Penyidik juga menggeledah sebuah masjid di dekat Patterson, New Jersey, tempat penyerang itu beribadah.

"Dia tinggal di sini selama tiga bulan, dan jelas seperti jika kita bertanya kepada banyak orang di sini, tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang mengenali wajahnya. Dan saya percaya, itu urusan pribadi. Saya rasa apa yang dilakukannya memang amat buruk. Sekali lagi, Islam tidak pernah mengajar kita membunuh orang," tutur Nazar Oudah, seorang jamaah di masjid dekat Patterson.

Kembali ke kota New York, parade perayaan tradisional Halloween berjalan di bawah keamanan yang lebih ketat, tanpa insiden berbahaya. Pejabat pada awalnya mengatakan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa serangan itu merupakan bagian dari rencana yang lebih luas, namun bertambah banyak polisi bertugas di jalanan.

Andrew Cuomo, Gubernur New York mengatakan, "Anda akan melihat mereka (polisi) di bandara, di terowongan, bukan karena ada bukti adanya ancaman yang terus berlanjut atau ancaman tambahan, ini hanya karena kewaspadaan dan kesiagaan."

Tidak lama setelah serangan itu, Presiden Trump mencuit, "Kita tidak boleh membiarkan ISIS kembali, atau masuk negara kita setelah mengalahkan mereka di Timur Tengah dan tempat lain."

Trump kemudian berkata, "Saya baru saja memerintahkan Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk memperketat Program Pemeriksaan Ekstrim yang sudah ada. Secara politik itu benar dan baik, tetapi tidak untuk ini!"

Sumber penegak hukum mengatakan kepada media, tersangka telah tinggal di Amerika sejak 2010. Penyidik kemungkinan melacak keberadaannya sebelum dan sesudah dia tiba di Amerika. [ps/al]

XS
SM
MD
LG