Tautan-tautan Akses

Polemik dalam Aturan Berbusana


Kaum perempuan melakukan aksi protes atas UU Aturan Berbusana di Kampala, Uganda, 26 Februari 2014.

Aturan berbusana (dress codes) di sekolah adalah hal lumrah di Amerika. Demikian menurut The American Civil Liberties Union. Meski demikian, banyak mahasiswa yang menilai bahwa aturan berbusana ini ini merupakan diskriminasi terhadap perempuan sehingga dapat menciptakan stereotip.

Pada tahun pelajaran 2015 - 2016, 53 persen sekolah negeri mewajibkan siswa-siswanya untuk mematuhi aturan berbusana. Demikian menurut The National Center for Education Statistics. Namun beberapa perempuan di Amerika dan di seluruh dunia menolak peraturan ini karena beranggapan aturan berbusana lah tidak adil dan menyasarkan ke perempuan.

Bahkan siswa-siswa di sebuah SMA di Texas memprotes dan melanggar kode berpakaian ini pada 2018. Kini, semakin banyak perempuan yang melawan atas penerapan aturan berbusana ini. Aturan tersebut dinilai mendikte pekaian dan tampilan mereka.

Di Cornell University, New York, seorang mahasiswa menyerahkan tesisnya dengan berbungkuskan celana dalam guna memprotes atas keluhan bahwa dirinya hanya mengenakan celana pendek.

“Mahasiswa perempuan biasanya disasarkan karena di Amerika. Kita hanya memiliki perspektif sangat terbatas atas apa yang bisa diterima untuk perempuan. Jadi kita punya kebiasaan untuk mengatur pakaian mereka, perilaku mereka," ujar seorang mahasiswa dari University of Illinois, Adrienne Dixson.

Sementara Letitia Chai dari Cornell University juga merasa tidak nyaman dengan adanya aturan berbusana seperti ini. Chai adalah seorang mahasiswa internasional dari Korea. Menurutnya, perempuan diminta untuk menyesuaikan cara mereka berpakaian untuk memenuhi tuntutan laki-laki. Ia pun pernah memicu perdebatan ketika dia mempertontonkan protesnya di Facebook lewat live-streaming pada 2018.

“Saya minta agar kita semua kompak dan bersimpati karena topik ini melibatkan semua identitas sosial kita, dan berhubungan dengan inti jati diri kita. Karena saya tidak sekedar orang Asia, saya juga tidak sekedar perempuan," kata Letitia Chai

Sementara Adrienne Dixson dari University of illinois mengatakan, “Dengan cara itu dia memperoleh perhatian yang diperlukan …. Apakah akan saya lakukan seperti itu … mungkin tidak.”

Jo Paoletti, seorang pakar fashion dari University of Maryland, berpendapat, isu ini tidak sekedar terkait gender, tetapi lebih terkait dengan gaya berpakaian.

"Saya merasa pandangannya terlalu pribadi dan sempit. Sudah tentu, laki-laki juga kena sasaran dalam hal seperti gaya rambut, celana yang kedodoran, dan hal itu juga banyak menyangkut masalah rasial," kata Jo Paoletti.

Protes yang dilancarkan Chai merupakan bagian perdebatan yang semakin besar di dunia.

Pada Desember 2011, dua perempuan di Johannesburg, Afrika Selatan diserang karena memakai rok pendek. Beberapa bulan kemudian, ratusan warga Afrika Selatan ikut menggunakan rok pendek untuk memprotes pelecehan seksual tersebut.

“Kalau Anda ingin melihat perempuan sebagai obyek seks terlepas dari apakah mereka mengenakan baju atau rok, Anda tetapi menilai mereka sebagai obyek seks. Hal ini tidak terkait dengan apa yang Anda kenakan, ini tidak ada hubungannya dengan memakai rok mini," tegas Miranda Komane dari Kongres Nasional Afrika.

Bahkan Menteri Afrika Selatan untuk Urusan Perempuan, Anak-Anak dan Orang Cacad Lulu Xingwana, juga ikut bersuara atas hal tersebut.

“Laki-laki boleh berpakaian menurut selera mereka. Kadang-kadang tanpa baju dan menonjolkan perut besar mereka, kadang-kadang mereka mengenakan celana pendek. Tidak ada mengganggu mereka, tidak ada yang mendikte mereka apa yang harus mereka kenakan. Mereka seharusnya menghormati hak-hak perempuan, karena hak perempuan adalah HAM,” katanya.

Banyak yang menyaksikan live stream Chai mengatakan bahwa dia terlalu berani dengan protesnya. Pakar pendidikan dan bisnis mengatakan berpakaian secara profesional penting guna mencerminkan kekuatan dan wibawa. Mereka menolak anggapan berpakaian seadanya tidak bermasalah.

Sementara pihak lain memuji upaya untuk memajukan pembahasan tentang hak-hak perempuan untuk berpakaian sesuai selera pribadi tanpa disertai penilaian. [ew/ah]

XS
SM
MD
LG