Tautan-tautan Akses

Perwira Tinggi Militer Iran Lakukan Lawatan Pertama ke Turki Dalam 38 Tahun

  • Dorian Jones

Kepala Angkatan Bersenjata Turki Jenderal Hulusi Akar dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Baqeri dalam acara penyambutan di Ankara, Turki, 15 Agustus 2017.

Perwira Tinggi Militer Iran melakukan kunjungan langka ke Turki. Kedua negara yang bertetangga ini meningkatkan persaingan di Irak dan Suriah, namun keduanya berusaha mencari kesamaan pandangan.

ISTANBUL - Mayor Jenderal Mohammad-Hossein Baqeri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, tiba di Ankara bersama delegasi perwira tinggi militer dan politisi untuk melakukan pembicaraan selama tiga hari. Ini merupakan kunjungan pertama seorang kepala staf angkatan bersenjata Iran ke Turki sejak Revolusi Iran tahun 1979.

Mantan duta besar Turki untuk Irak, Unal Cevikoz yang sekarang mengepalai Ankara Forum Policy. Ia mengatakan konflik di Irak dan Suriah telah memperuncing persaingan regional.

“Iran semakin menjadi pemain sangat penting kawasan terutama di Irak dan Suriah,” kata Cevikoz. “Tampaknya Iran mempunyai tujuan tertentu. Jika dilihat hubungan Turki dengan Iran dalam kaitan dengan situasi di Irak dan Suriah, tampak jelas Turki dan Iran tidak sehaluan,” tambahnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menempatkan diri sebagai pembela hak-hak Muslim Suni di kawasan dan selama ini selalu terdepan dalam mengkritisi kebijakan Iran di Irak dan Suriah.

Erdogan mengecam keras perlakuan milisi Irak yang dukungan Teheran terhadap kelompok Muslim Sunni. Turki adalah salah satu pendukung kuat pemberontak Suriah yang bertempur melawan pemerintah Suriah yang didukung Iran.

Kunjungan Jenderal Baqeri di Turki terjadi pada saat Teheran, Ankara dan Moskow sedang bekerjasama dalam yang disebut Proses Astana untuk mengakhiri perang saudara di Suriah. Konflik ini diperkirakan turut dibicarakan dalam kunjungan Jenderal Baqeri.

Para pejabat Rusia, Turki dan PBB saling berjabat tangan setelah memberikan pernyataan tentang pembicaraan upaya damai di Suriah. Pembicaraan bertempat di Astana, Kazakhstan, 24 Januari 2017. (foto:dok).
Para pejabat Rusia, Turki dan PBB saling berjabat tangan setelah memberikan pernyataan tentang pembicaraan upaya damai di Suriah. Pembicaraan bertempat di Astana, Kazakhstan, 24 Januari 2017. (foto:dok).

Kolumnis politik Semih Idiz dari website Al Monitor mengatakan, hal-hal yang bakal dibicarakan termasuk daerah kantong Suriah, Idlib yang merupakan satu dari kawasan terakhir yang masih dikuasai pemberontak.

“Idlib berpotensi rawan. Di sana terjadi perkelahian antara dua kelompok radikal Islamis,” kata Idiz. “Satu dipandang lebih moderat dan didukung Turki, dan yang satu lagi mempunyai sikap yang lebih dekat dengan negara Islam ISIS. Tidak jelas bagaimana itu akan berakhir dan bagaimana (Presiden Suriah) Assad akan memanfaatkannya.”

Idlib berbatasan dengan Turki, dan ada kekhawatiran yang semakin meningkat di Ankara jika Idlib direbut pasukan pemerintah Suriah, Turki akan dibanjiri pengungsi yang termasuk radikal jihadis. Pekan lalu Turki menutup pintu perbatasannya dengan Idlib karena alasan keamanan.

Aspirasi suku Kurdi di kawasan itu juga diperkirakan akan dibicarakan oleh delegasi Iran tadi di Ankara. Kedua negara mempunyai jumlah besar penduduk dari kelompok minoritas suku Kurdi yang melakukan perlawanan. Referandum kemerdekaan oleh Kurdi-Irak bulan depan bisa menjadi titik-temu sebab Teheran maupun Ankara sama-sama menentang keras referendum itu. [al]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG