Tautan-tautan Akses

Persaingan Kepentingan Ekonomi dan Lingkungan di Eropa Pasca Covid-19


Kawasan Passeig de Colom di Barcelona, Spanyol tampak sepi akibat kebijakan lockdown Covid-19 (foto: ilustrasi).
Kawasan Passeig de Colom di Barcelona, Spanyol tampak sepi akibat kebijakan lockdown Covid-19 (foto: ilustrasi).

Karantina wilayah di banyak negara Eropa terkait virus corona menyebabkan berkurangnya tingkat polusi pada lingkungan. Akan tetapi dalam beberapa bulan mendatang sejumlah kebijakan dapat memperjelas apakah aktivitas ekonomi akan membantu atau merusak pemulihan lingkungan.

Kota-kota di Eropa di mana jalan-jalan biasanya terlihat ramai, sekarang tampak sepi karena orang-orang harus tetap berada di rumah akibat pandemi virus corona.

Alberto González Ortiz, pakar kualitas udara pada Badan Lingkungan Hidup Eropa (European Environment Agency) menyatakan polusi udara menurun sejak karantina wilayah diterapkan kota-kota di seluruh benua itu.

“Di beberapa kota, dari minggu ke minggu terjadi pengurangan lebih dari separuh tingkat konsentrasi bahan-bahan yang menimbulkan polusi. Penurunan itu tidak sama di semua kota. Karena beberapa langkah karantina wilayah (lockdown) tidak sama atau tidak begitu intens di semua negara, dan tidak dimulai pada waktu yang bersamaan,” kata Ortiz.

Tahun 2019 tercatat sebagai tahun terpanas di Eropa. Namun karena jutaan orang harus berada di rumah, tingkat konsumsi bahan bakar lebih rendah karena berkurangnya mobilitas, maka tingkat emisi, kadar karbon dan tingkat polusi di udara mengalami penurunan.

Sejumlah negara Eropa perlahan-lahan berencana melonggarkan beberapa aturan keras untuk menjalankan kembali roda perekonomian. Sebagian orang khawatir jika kembali ke rutinitas dengan cepat seperti sebelum pandemi COVID-19 mungkin akan mengganggu pemulihan lingkungan yang baru saja terjadi.

Imke Lübbeke dari kelompok peduli lingkungan World Wildlife Fund (WWF) mengemukakan belum ada alasan untuk merayakan pemulihan yang terjadi ini.

“Beberapa hasil itu masih bersifat sementara setelah karantina wilayah diberlakukan di banyak negara dan kota berkaitan dengan penyebaran COVID. Tapi itu bukanlah pengurangan emisi secara struktural atau solusi terhadap polusi udara. Kami bekerja keras untuk mempertegas bahwa krisis perubahan iklim dan semua krisis lingkungan tidak akan hilang begitu saja apabila krisis COVID terselesaikan,” ujarnya.

Para pemimpin Uni Eropa membahas paket pemulihan ekonomi yang menurut sebagian kalangan akan menelan biaya sekitar $ 2 triliun. Sejumlah pemerintah menjanjikan miliaran dollar untuk bisnis, termasuk sejumlah industri yang mencemari lingkungan.

Direktur Jaringan Aksi Iklim Eropa Wendel Trio menyatakan momen bersejarah itu merupakan kesempatan bagi sejumlah pemerintah untuk memastikan pemulihan dan perbaikan lingkungan saat ini bisa berkelanjutan.

Ia mengatakan, “Baik produsen mobil maupun perusahaan penerbangan, misalnya, terlihat enggan menerima sejumlah perubahan yang diperlukan masyarakat peduli iklim supaya emisi gas karbon dihentikan. Saya pikir inilah waktunya untuk menjelaskannya pada mereka. Jika ingin mendapat uang dari masyarakat, jika ingin pembayar pajak menanggung biaya masa depan, maka masa depan mereka juga harus bermanfaat bagi masyarakat.”

Kekhawatiran di antara sejumlah kelompok advokasi iklim dan lingkungan adalah pemulihan ekonomi akan dinilai lebih tinggi daripada upaya mengatasi perubahan iklim.

BusinessEurope, sebuah grup pelobi perusahaan besar mengirim surat kepada Uni Eropa untuk menunda sejumlah peraturan terkait perubahan iklim.

Sebuah pidato terkait iklim oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel, Senin (27/4) menunjukkan hal-hal yang akan didorong oleh anggota Uni Eropa yang paling berpengaruh itu untuk menyeimbangkan masalah kerusakan lingkungan dengan aktivitas pemulihan ekonomi. [mg/ii]

Recommended

XS
SM
MD
LG