Tautan-tautan Akses

Perkawinan Sesama Jenis Jadi Isu Utama Pilpres Costa Rica


Seorang pemilih perempuan memasukan surat suara dalam pemilihan presiden Costa Rica, di sebuat tempat pemungutan suara di San Jose, 4 Februari 2018.

Warga Costa Rica, Minggu (4/2), memberikan suara dalam pemilihan presiden yang diguncang oleh sebuah keputusan pengadilan internasional yang mengatakan negara itu harus mengizinkan pasangan sesama jenis untuk menikah.

Kandidat Evangelis, Fabricio Alvarado, baru-baru ini meraih popularitas sangat besar dalam jajak pendapat yang diadakan setelah ia mengambil sikap keras menentang perkawinan gay, yang juga ditentang oleh dua per tiga warga Costa Rica.

Saingan terdekat Fabricio adalah pebisnis Antonio Alvarez dari kelompok oposisi National Liberation Party, dan Carlos Alvarado yang memimpin Citizen’s Action Party.

Tetapi prospeknya tidak terlalu baik karena tidak seorang pun dari 13 kandidat yang disebut dalam jajak pendapat itu meraih lebih dari 17 persen suara, dan survei itu mengisyaratkan bahwa lebih dari seperti pemilih masih belum memutuskan siapa yang akan dipilih.

Jika tidak ada kandidat yang mendapat 40 persen dari total suara, maka dua kandidat yang memperoleh suara terbanyak akan melaju ke putaran berikutnya pada 1 April.

Keputusan Inter-American Court of Human Rights Januari lalu memainkan peran utama dalam kampanye pemilu itu. Pengadilan itu juga memerintahkan Costa Rica untuk memberikan hak serupa kepada pasangan sesama jenis, seperti hak waris dan hak untuk mengadopsi anak-anak.

Analis politik Fransisco Barahona mengatakan kepada Associated Press, ini merupakan “kejutan eksternal” bagi Costa Rica, sebuah negara mayoritas Katolik dengan jumlah penduduk penganut Evangelis yang terus meningkat.

Alvarado, seorang wartawan, pengkhotbah dan penyanyi Gereja, menyebut putusan pengadilan Inter-American Court itu sebagai “pelanggaran kedaulatan” dan dukungan baginya bertambah besar dalam jajak pendapat karena pemilih konservatif tertarik pada pendiriannya. [em/ii]

XS
SM
MD
LG