Tautan-tautan Akses

Perjuangan untuk Selamatkan Gajah-Gajah Afrika Alami Kemajuan


Dalam foto yang diambil hari Rabu, 21 Maret 2018, segerombolan gajah membentuk lingkaran perlindungan terhadap apa yang dianggap ancaman, persis setelah salah satu gajah ditembak dengan peluru bius dalam sebuah operasi untuk memasang kalung pelacak GPS di Taman Nasional Mikumi, Tanzania (foto: AP Photo/Ben Curtis)

Gajah tampak berjalan terhuyung-huyung dan terjungkal di rerumputan yang tinggi di Tanzania bagian selatan, dimana beberapa kasus perburuan terburuk terjadi di sana.

Namun bukan pembunuh yang menyasar gajah tersebut namum seorang petugas pelestari lingkungan, yang melumpuhkan gajah itu dengan sebuah panah berisi obat bius. Tak lama kemudian terdengar gajah itu mendengkur dengan kereas, dan mereka menopang gading gajah dengan cabang pohon untuk membantunya bernafas. Mereka kemudian mengalungkan cincin pelacak GPS seberat 12 kilogram di sekitar kulitnya lehernya yang kasar dan menyuntikkan antidot, yang membuat gajah itu kembali sadar dan berdiri kembali. Setelah memeriksa alat dengan gadingnya, gajah itu kembali berjalan santai ke kerumunan gajah lainnya.

Operasi ini adalah bagian dari upaya yang telah berlangsung sepanjang tahun dan melacak 60 gajah di dan di sekitar Suaka Perburuan Selous di Tanzania, yang diakui secara luas sebagai ‘Ground Zero’ dalam perburuan liar yang telah membat populasi gajah Afrika menurun drastis pada tahun-tahun belakangan. Associated Press mengunjungki kawasan dimaksud untuk menyaksikan bagaimana perjuangan untuk menyelamatkan gajah-gajah di benua itu mendapatkan momentum, dengan menurunnya pembantaian satwa dan beberapa kelompok gajah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan populasi. Pasar gading legal di seluruh dunia mengalami penyusutan, dan penegakkan hukum telah memberantas beberapa sindikat perdagangan ilegal utama, ujar para pakar.

Namun masih terlalu dini untuk mengumumkan pulihnya populasi. Para pemburu liar beralih ke kawasan-kawasan baru dan para pedagang liar ini beradaptasi dengan bantuan korupsi yang telah berakar. Tingkat kepunahan gajah tahunan masih melebihi tingkat kelahirannya. Dan perambahan oleh pemukiman manusia mengurangi jangkauan hewan itu untuk bergerak leluasa.

“Kecendrungan perburuan liar sudah mengalami penurunan, namun masih banyak hal yang harus kita lakukan sebelum kami dapat merasa nyaman tentang masa depan gajah,” ujar Chris Thouless dari Save the Elephants, sebuah kelompok yang berpusat di Kenya, dimana populasi gajah telah mengalami peningkatan kembali.

Dalam sebuah gerakah untuk menekan permintaan, Inggris bulan ini telah mengumumkan larangan perdagangan gading gajah. Di China, perdagangan gading dan produk-produk gading gajah termasuk ilegal terhitung sejah tahun 2018. Dan di AS, larangan terhadap perdagangan gading terlepas dari barang-barang yang telah berusia lebih dari 100 tahun berlaku sejak tahun 2016.

Apabila perburuan liar dapat dikendalikan di sini di Tanzania, ada harapan pembantaian gajah dapat dipangkas di tempat lainnya di benua tersebut.

Populasi gajah Afrika telah mengalami kemerosotan dari hitungan jutaan pada sekitar tahun 1900-an menjadi hanya sekitar 415.000-an dewasa ini. Cerdas dan emosional, dengan perilaku sosial yang sangat maju, gajah telah diburu untuk diambil gadingnya selama berabad-abad. Larangan atas perdagangan komersial gading gajah secara internasional berlaku sejak 1990, namun banyak negara yang terus mengizinkan pembelian dan penjualan gading gajah secara domestik.

Meningkatnya permintaan konsumen di China memicu gelombang baru perburuan

Di Tanzania sendiri, populasi gajah mengalami kemerosotan sebesar 60 persen hingga 43.000 antara tahun 2009 dan 2014, menurut pemerintah. Sebagian pembantaian terjadi di ekosistem yang berdampingan seperti Taman Nasional Selous dan Mikumi. Seorang pemandu wisata mengatakan kepada The Associated Press bahwa beberapa tahun yang lalu, ia dan kliennya menyaksikan keluarga gajah saat matahari terbenam di taman nasional Selous. Mereka kembali keesokan harinya dan menyaksikan pemandangan horor bangkai gajah yang dibantai untuk gading-gadingnya.

Pembantaian di Tanzania tampaknya telah berkurang. Sebuah hitungan di kawasan Selous-Mikumi tahun lalu menambahkan 23 bangkai gajah yang menjadi korban perburuan liar, hanya 20 persen jumlah yang ditemukan empat tahun sebelumnya. Dan peburuan liar gajah Afrika telah mengalami penurunan hingga ke tingkat pra-2008 setelah mencapai puncaknya pada tahun 2011, menurut Konvensi Perdagangan Internasional untuk Spesies yang Terancama Punah.

Ini adalah tren positif, namun ada spekuasi tentang minimnya jumlah gaja yang dapat diburu di banyak daerah.

“Semua kelompok gajah yang “mudah” diburu sudah punah,” ujar Drew McVey, manajer kelompok konservasi WWF untuk Afrika Timur.

​Pelacakan, perlindungan gajah

Di kawasan Selous di Tanzania, lebih banyak anak gajah yang baru lahir tampak dan gajah-gajah yang percaya diri bergerak lebih luas di luar kawasan yang tidak dipagar, yang secara resmi tidak dilindungi, ujar Edward Kohi, peneliti utama pada Institut Penelitian Satwa Liar Tanzania dan pemimpin dari program pemasangan kalung GPS yang didanai oleh WWF. Kalung ini dirancang agara jagawana dapat melacak pergerakan kelompok gajah, dan memobilisasi untuk melindungi mereka apabila mereka bergerak ke titik rawan perburuan liar. Dengan menerima data yang ditransmisikan lewat satelit pada telepon pinatr, para jagawana dapat mencegat gerombolan gajah yang bergerak ke arah pemukiman manusia atau ladang tanaman.

Adam Rajeta, seorang petani dan penggembala ternak yang tinggal di sekitar Taman Nasional Mikumi, mengatakan kadangkala gajah menimbulkan kekacauan.

“Saat musim panen, mereka bergerak mendekati rumah-rumah kami,” ujar Rajeta. “Saat mereka bergerak mendekat, kami menabuh tambur dan membuat kegaduhan untuk membuat mereka takut sehingga melindungi diri kami. Hanya karena belas kasih Tuhan gerombolan gajah itu meninggalkan kawasan tempat kami tinggal.”

Pedagang gading ilegal beradaptasi

Selain itu juga sudah ada gerakan untuk memberantas perdagangan ilegal. Presiden Tanzania, John Magufuli, yang mulai berkuasa pada tahun 2015, mengambil tindakan tegas dan pihak berwenang telah menangkap mereka yang diduga terkait dengan sindikat perdagangan ilegal.

Namun, perjuangan melawan perdagangan gading ilegal mirip seperti menekan balon – saat dicapai kemajuan di satu daerah, seperti Tanzania, perburuan liar meningkat di daerah lainnya seperti, suaka margasatwa Niassa di Mozambik yang terletak di sebelah selatan, yang terhubung dengan taman nasional Selous lewat koridor satwa liar. Dan penyitaan internasional atas gading selundupan tampaknya terus terjadi, tanda-tanda kemungkinan upaya percepatan oleh pedagang liar untuk memindahkan persiapan sebelum bisnis ini menjadi terlalu sulit untuk dikerjakan.

Beberapa gang pemburu liar di Niassa terdiri dari warga Tanzania dan “ada banyak pergerakan di sepanjang perbatasan” termasuk perdagangan liar lainnya, termasuk kayu dan mineral, ujar James Bampton, direktur organisasi yang berbasis di New York, Wildlife Conservation Society, untuk Mozambik. Kelompok ini bekerjasama dengan pemerintah Mozambik untuk mengelola taman nasional Niassa.

Pencurian gading gajah, pemrosesan lokal

Populasi gajah di Niassa mungkin kurang dari 2.000 ekor, ujar Bampton. Ini adalah sebagaian kecil dari perkiraan jumlah yang ada sepuluh tahun yang lalui di tempat bernaung utama bagi gajah di Mozambik. Pencurian berkala dari gading yang disita dan cula badak di Mozambik juga meningkatkan keprihatinan, tentang kemungkinan adanya kolusi dengan para pemburu liar.

Perkembangan lain yang mengkhawatirkan adalah adanya bukti peningkatan pemrosesan gading gajah menjadi perhiasan dan perhiasan kecil di Afrika, ketimbang metode lama yang mengapalkan gading mentah keluar dari benua itu. Dengan metode ini, para pedagang ilegal dapat mengapalkan gading dalam jumlah kecil yang membuatnya sulit untuk dideteksi dan menghindari meningkatnya penyelidikan terhadap operasi pengukiran gading gajah di Asia.

Tantangan untuk melindungi satwa liar tampak jelas bagi jurnalis AP yang melakukan perjanalan bersama tim yang melakukan pemasangan kalung di taman nasional Mikumi yang berdampingan dengan taman nasional Selous, sebuat situs pusaka dunia PBB.

Lewat udara, truk, atau dengan berjalan kaki

Rencana untuk mengerahkan helikopter untuk membantu mencari dan menggiring gajah gagal. Kendaraan terjebak di lumpur. Suatu pagi, seorang petugas satwa liar terkejut dan lari tunggan langgang ke kendaraannya setelah sebelumnya memasuki WC dengan tanda “Pria” di landasan udara yang tidak beraspal. Seekor singa betina yang telah bersandar di dinding WC itu tiba-tiba keluar.

Tim ini kadang-kadang harus melacak pergerakan gajah dengan berjalan kaki, dengan mempelajari tapak kaki besar yang bundar, cabang-cabang pohon yang putus, dan kotorang gajahyang masih segara sebagai petunjuk keberadaan hewan tersebut.

Hanya dua ekor dari lima ekor gajah yang direncanakan berhasil dipasangi kalung dalam kurun waktu tiga hari ini di taman nasional Mikumi. Tim pelestari satwa ini mencegah untuk menembak induk gajah dengan panah bius, sebaliknya mereka memilih gajah-gajah betina yang lebih muda yang mereka ketahui akan mengikuti kelompok itu. Mereka juga akan memasangkan kalung pada gajah jantan yang bergerak sendirian.

Gerombolan gajah itu menunjukkan keterikatan sosial pada suatu ketika, mundur untuk membentuk lingkaran pertahanan setelah mendengar letupan senjata panah bius. Saat seekor betina tertembak, gajah-gajah lainnya tampak mencoba untuk membantu rekannya yang pusing karena obat bius sebelum menyingkir.

Para terduga pedagang liar merupakan ancaman tidak hanya bagi kelompok gajah. Pada bulan Agustus 2017, seorang pelestari lingkungan, Wayne Lotter, yang dianggap telah membantu pihak berwenang Tanzania untuk membongkar operasi beberapa penyelundupan gading gajah, terbunuh di Dar es Salaam dalam sebuah kejadian yang tampaknya sebuah pembunuhan. Delapan orang ditangkap untuk kasus pembunuhan itu, termasuk dua orang pejabat bank dan beberapa pengusaha.

Kawasan Selous-Mikumi di Tanzania dikenal sebagai salah satu ladang pembantaian gajah Afrika terbesar, namun kawasan yang luasnya mencapai 60.000 kilometer persegi itu masih menawarkan harapan untuk hewan terbesar di dunia itu.

Dalam kurun waktu 50 hingga 100 tahun mendatang, ujar Kohi, ketua tim pemasangan kalung gajah, “saat populasi manusia melonjak, ini akan menjadi slaah satu bidang penting untuk pelestarian gajah.” [ww]

XS
SM
MD
LG