Tautan-tautan Akses

Perempuan Vietnam Lawan Budaya Kerja Patriaki


Beberapa perempuan Vietnam di TK Persahabatan Vietnam-Korea menjelang KTT Korea Utara-AS di Hanoi, Vietnam, 26 Februari 2019. (Foto: Reuters)

Bersikap tegas, kemukakan pendapat, raih kesempatan. Dunia kerja terus memberi tahu perempuan apa yang dilakukan agar berhasil dalam lingkungan yang kompetitif. Tetapi perempuan Vietnam menolak tuntutan itu dan menyatakan status quo yang berlaku adalah budaya kerja patriarki.

Sebagai pengganti budaya ini, perempuan kini memanfaatkan keterampilan baru - seperti kemampuan mendengarkan, atau memberi perhatian kepada kelompok yang menurut mereka tidak cukup mendapat perhatian dari pengusaha.

"Saya ingin menjadi pemimpin seperti ibu saya. Seseorang yang memiliki kinerja baik dalam pekerjaan dan juga dalam mengurus keluarga, membesarkan lima anak," kata Ha Thu Thanh, kepala perusahaan akuntan publiki Deloitte Vietnam.

Pendiri Forkast News, Angie Lau, mengatakan ada keterampilan tertentu yang biasanya dikaitkan dengan perempuan, tetapi ketrampilan itu juga harus dianjurkan untuk pria.

“Para perempuan di sini mempunyai keterampilan yang mutlak diperlukan untuk perekonomian masa depan - empati, kerentanan, kepekaan, kasih sayang, kebaikan, kemampuan mendengarkan,” katanya pada konferensi perempuan Forbes di kota Ho Chi Minh. "Ini adalah keterampilan yang belum tentu kita miliki sejak lahir, tetapi sebenarnya didorong dan dipupuk untuk wanita."

Para pekerja perempuan makan siang bersama rekan-rekan pria di pabrik garmen Maxport di Provinsi Thai Binh, Vietnam, 13 Juni 2019. (Foto: Reuters)
Para pekerja perempuan makan siang bersama rekan-rekan pria di pabrik garmen Maxport di Provinsi Thai Binh, Vietnam, 13 Juni 2019. (Foto: Reuters)

Kerentanan dan kebaikan bukanlah wahana yang jelas dalam karier seseorang untuk maju. Tetapi kondisi itu bisa menjadi produk sejarah yang sudah ketinggalan zaman: Sebagian besar budaya kantor mulai dibentuk beberapa dasawarsa lalu, sewaktu perempuan dihalangi mengembangkan profesi tertentu, sehingga memberi peluang pria untuk membentuk budaya itu.

Lau mencatat baik perempuan maupun laki-laki telah disosialisasikan untuk percaya bahwa mereka secara alami memiliki sifat yang berbeda, bahwa satu jenis kelamin lebih berkuasa, atau yang lain lebih emosional. Jadi dengan laki-laki yang sudah memimpin begitu lama, tidak mengherankan bahwa kantor-kantor lebih mendukung sifat-sifat yang dianggap maskulin, seperti memenangkan persaingan sampai membual kalau meraih kemenangan.

Perempuan menantang ide-ide lama tentang pemahaman sukses dalam profesi. Alih-alih dari hanya sekadar menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, mereka justru mengubah lingkungan itu guna melibatkan mereka, sehingga lingkungan itu juga menghargai perangkat keterampilan yang lebih luas.

Para pekerja perempuan di pabrik sepatu di Kota Dong Van, Vietnam, 22 April 2019. (Foto: Reuters)
Para pekerja perempuan di pabrik sepatu di Kota Dong Van, Vietnam, 22 April 2019. (Foto: Reuters)

"Tujuan kami bukan untuk membandingkan diri kami dengan laki-laki, bukan untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk," kata Amanda Rasmussen, Kepala operating officer ITL Corp, perusahaan logistik di Vietnam.

"Manfaatkanlah hal-hal yang membuat Anda unik, apakah itu berupa sikap kolaboratif, empati atau kemampuan untuk bersikap tegas atau kemampuan untuk peduli terhadap orang-orang di sekitar Anda.”

Ketika perempuan harus berani untuk angkat bicara, laki-laki juga harus menyadari bahwa mereka acapkali mengabaikan perempuan dalam rapat dan sudah waktunya mereka membela kaum Hawa, demikian tulis rector perguruan tinggi Barbara Stocking di dalam sebuah kolom opini Financial Times. [ps/jm]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG