Tautan-tautan Akses

Perempuan di Seluruh Dunia Tuntut Pemerintah Akhiri Penganiayaan terhadap Perempuan


Pawai "Hari internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan" di Paris, Perancis, 23 November 2019.

Perempuan di berbagai penjuru Eropa dan tempat-tempat lainnya, Senin (25/11) berdemonstrasi untuk menuntut tindakan pemerintah dalam menghadapi penganiayaan terhadap perempuan dewasa dan anak-anak yang meluas.

PBB menyatakan sepertiga kaum perempuan mengalami kekerasan fisik atau seksual dalam hidup mereka. Separuh perempuan yang tewas akibat kekerasan adalah korban dari mitra atau anggota keluarga mereka. Badan dunia itu telah menetapkan 25 November sebagai "Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan".

Perempuan di Seluruh Dunia Tuntut Pemerintah Bertindak Akhiri Penganiayaan terhadap Perempuan
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:01 0:00

Menurut laporan wartawan VOA Zlatica Hoke, sejumlah negara memperingati hari tersebut dengan mengumumkan langkah-langkah untuk melindungi perempuan, sementara yang lainnya berusaha membungkam suara perempuan.

Berbagai kegiatan untuk menandai "Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan" berkisar mulai dari protes di jalan-jalan hingga acara renungan serta pameran. Di Belgia, panitia memamerkan sepatu-sepatu merah, perlambang perempuan yang tewas akibat kekerasan.

PBB memperingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan harus dihapuskan karena hal tersebut mengancam perdamaian dan keamanan global.

Rally perempuan di pusat kota Istanbul, Turki, 25 November 2018. (Foto: dok).
Rally perempuan di pusat kota Istanbul, Turki, 25 November 2018. (Foto: dok).

Maria Luiza Ribeiro Viotti dari Kantor Eksekutif Sekjen PBB mengemukakan, "Budaya kekerasan terhadap perempuan juga memiliki konsekuensi serius terhadap upaya-upaya kita memberantas kemiskinan dan mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Kekerasan mencegah perempuan berpartisipasi dalam semua bidang di tengah masyarakat.”

Pemerintah Perancis memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumumkan langkah-langkah baru guna melindungi perempuan.

"Tahun depan, pemerintah akan menginvestasikan lebih dari satu miliar euro bagi semua tindakan yang terkait dengan kesetaraan antara lelaki dan perempuan. Dari jumlah tersebut, 360 juta euro akan didedikasikan untuk perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan, dalam satu tahun.” Demikian komentar Perdana Menteri Perancis Edouard Philippe.

Interpol memperingatkan masyarakat mengenai kewajiban moral mereka untuk melaporkan perdagangan dan eksploitasi perempuan dewasa dan anak-anak apabila mereka menyaksikannya.

Jurgen Stock, Sekjen Interpol mengatakan, "Tujuh puluh satu persen korban perdagangan manusia di seluruh dunia adalah perempuan dewasa dan anak-anak, dengan tiga perempatnya mengalami eksploitasi seksual. Imbauan Interpol merupakan peringatan bahwa menyeret pelaku ke muka hukum merupakan bagian fundamental dari kerjasama penegak hukum internasional.”

Nigeria meluncurkan daftar pelaku kejahatan seksual nasionalnya yang pertama pada hari Senin, yang bertujuan mengakhiri budaya yang lebih melindungi pemerkosa bukannya korban.

Polisi anti huru-hara Turki membubarkan pengunjuk rasa saat arak-arakan para aktivis hak-hak perempuan bergerak mmenuju Taksim Square di Istanbul, Turki, 25 November 2019.
Polisi anti huru-hara Turki membubarkan pengunjuk rasa saat arak-arakan para aktivis hak-hak perempuan bergerak mmenuju Taksim Square di Istanbul, Turki, 25 November 2019.

Leymah Roberta Gbowee, salah seorang penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2011 mengatakan, "Inilah waktunya bagi kelompok-kelompok perempuan dan lelaki dan setiap organisasi yang bertujuan baik untuk menekankan kembali kepada anggota masyarakatnya, bahwa pemerkosaan bukanlah isu keadilan ilahi. Menyerahkannya kepada Tuhan bukanlah pilihan, mencari keadilan itulah opsinya.”

Tetapi tidak semua orang menyambut baik langkah-langkah baru untuk melindungi perempuan. Partai Vox di Spanyol yang berhaluan ekstrem kanan menolak menandatangani deklarasi semua partai yang mengecam kekerasan terhadap perempuan.

Javier Ortega dari Vox Party mengemukakan, "Ada juga lelaki yang mengalami kekerasan oleh perempuan dan dibunuh oleh istri mereka dan mereka juga harus dilindungi.”

Pihak berwenang Turki melarang demonstrasi di Istanbul, tetapi kemudian mengizinkan unjuk rasa di jalur yang dibatasi. Polisi menggunakan semprotan cabai untuk membubarkan demonstran yang keluar dari jalur itu. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG