Tautan-tautan Akses

Perayaan Hari Tari Dunia di Surakarta Berlangsung Meriah

  • Yudha Satriawan

Salah satu tarian dipentaskan dalam Perayaan Hari Tari Sedunia di kampus ISI Surakarta, 29 April 2017 (Foto: VOA/Yudha)

Perayaan Hari Tari Sedunia (World Dance Day) berlangsung meriah. Antusiasme masyarakat tetap tinggi meski jumlah peserta dan venue atau lokasi pentas merosot dibanding perayaan serupa tahun lalu.

Ribuan orang menari dalam ratusan kelompok di Kompleks Institut Seni Indonesia atau ISI Surakarta selama 24 jam nonstop, Sabtu (29/4) hingga Minggu (30/4) .

Secara bergantian, kelompok tersebut menampilkan tarian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia maupun tari kontemporer di dalam bangunan hingga di jalanan. Tak hanya itu, ada tiga orang seniman yang akan menari selama 24 jam nonstop.

Ketua penyelenggara World Dance Day atau Hari Tari Sedunia di kampus ISI Surakarta, Wahyudiarto, mengatakan tari menembus batas wilayah menyebarkan nilai kemanusiaan dan ekspresi seni. Menurut Wahyu, ada hampir 200 grup kesenian berbagai daerah dan perwakilan negara sahabat yang ikut perayaan tersebut di Solo.

“Melalui tari, kita bergerak, melalui tari kita berpindah, dari waktu ke waktu, dari ruang ke ruang, dari daerah ke daerah, dari wilayah ke wilayah, dari negara ke negara, hingga ke seluruh jagat raya. Tari berpindah untuk menyebarkan nilai kemanusiaan, humanisme, menyebarkan nilai keadilan, untuk kita semua," kata Wahyudiarto.

"Hari ini pula, ada sekitar 190-an grup kesenian berbagai daerah di Indonesia, lintas negara, bermigrasi ke Solo, menyebarkan nilai kemanusiaan, humanisme yang sangat penting bagi kita semua," imbuhnya.

Salah seorang penonton perayaan Hari Tari Sedunia di Solo, Monika Sari, mengungkapkan peementasan ragam tarian ini sangat menarik. Menurut Monika, penyajian tema dan pementasan tarian yang berbeda tiap tahun menambah pengetahuan tentang seni berbagai daerah di Indonesia maupun dunia.

“Sangat menarik. Tidak membosankan penyajian tariannya. Sangat beragam. Perayaan ini bagi kami generasi muda, lebih mengetahui budaya daerah, budaya Indonesia, bahkan budaya dunia lewat tarian agar kita bisa melestarikannya. Ini menjadi pengalaman tersendiri bagi kami, menambah wawasan nusantara," kata Monika Sari.

Perayaan Hari Tari Sedunia di kampus ISI Surakarta diikuti berbagai kalangan masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Warga beragam etnis, lintas agama, hingga lintas profesi. Komunitas warga kampung hingga komunitas sanggar seni bergantian menyajikan pementasan tarian di kampus ini. Para penonton pun diajak ikut menari bersama.

Sementara itu, Budayawan, Romo Mudji Sutrisno, saat ditemui di lokasi perayaan kampus ISI Solo, mengatakan sekarang ini Indonesia sedang sakit secara budaya.

“Inti tari itu kan menggerakkan tubuh tapi tubuh yang digerakkan dengan ruh, rasa, itu akan mengatasi segala emosi, rasionalisasi, ya karena Indonesia saat ini sedang sakit secara budaya. Karena hanya pakai pikiran, perasaan emosional," kata Romo Mudji Sutrisno.

"Nah, perayaan ini sebenarnya bisa menjadi oasis merajut kembali Nusantara menjadi Indonesia adalah kultural. Maknanya, merayakan hidup kita, tubuh ini jangan dipakai untuk hal-hal mematikan, kekerasan, dan sekarang sedang terjadi budaya senang dengan kematian, kekerasan, dan tari adalah budaya yang pro kehidupan,” jelasnya.

Perayaan serupa juga digelar pemkot Solo di 2 lokasi di Solo yaitu Kompleks Pasar Antik Triwindu dan kawasan cagar budaya Istana Mangkunegaran. Kepala Dinas Kebudayaan Pemkot Solo, Sis Ismiyati mengatakan perayaan tahun ini berbeda karena pengurangan venue atau lokasi pentas tarian.

“Untuk perayaan Hari Tari Sedunia, 29 April, pemkot Solo sudah menyiapkan berbagai kegiatan. Tidak seperti tahun lalu dan sebelumnya yang menjadi venue atau lokasi adalah jalanan sepanjang 500 meter, tahun ini kita pindah ke Pamedan Mangkunegaran dan Kawasan Pasar antik triwindu Solo, bukan di jalur utama atau jalan protokol lagi," jelas Sis Ismiyati.

"Tidak ada lagi pentas di mall, pasar tradisional, atau bandara kami evaluasi ternyata tidak efektif. Semua kita pusatkan di dua lokasi venue itu. Masyarakat menyaksikan pementasan hari tari sedunia yang berbeda dibanding tahun sebelumnya, ada tari kolosal dari sanggar seni berbagai daerah, sekolah, dan lainnya.jumalh peserta sekitar 700-an,” tambahnya.

Jumlah ini merosot drastis dari perayaan Hari Tari sedunia tahun 2016 lalu yang mencapai 6.000 penari dengan 11 venue atau lokasi pentas termasuk di berbagai pusat perbelanjaan atau mall, pasar tradisional, hingga bandara. Pemkot Solo tak lagi menggunakan pusat perbelanjaan atau mall, pasar tradisional, dan bandara tersebut sebagai lokasi menari. [ys/gp]

XS
SM
MD
LG