Tautan-tautan Akses

Perang Saudara dan Campur Tangan Arab Saudi di Yaman


Seorang wanita membawa bayinya yang baru lahir di kamp yang diperuntukkan pengungsi akibat peperangan, dekat Sanaa, Yaman, 25 April 2017 (foto: REUTERS/Khaled Abdullah)

Berdasarkan catatan dari berbagai fasilitas kesehatan dan rumah sakit di Yaman, perang saudara dan campur tangan Arab Saudi di Yaman telah menewaskan sedikitnya 10.000 orang sejak tahun lalu.

Perang saudara dan campur tangan Arab Saudi di Yaman telah menewaskan sedikitnya 10.000 orang sejak tahun lalu. Kata Koordinator Kemanusiaan PBB Jamie McGoldrick, angka ini diperoleh dari berbagai fasilitas kesehatan dan rumah sakit di Yaman.

Apa yang sebenarnya terjadi di ujung selatan semenanjung Arab itu, dan apa sebabnya pemerintah Saudi melancarkan perang melawan kelompok Houthi yang menguasai sebagian besar Yaman? Dan apa hubungannya dengan sikap pemerintah Amerika yang mendukung Arab Saudi?

Andrew Coburn, wartawan senior majalah Harper’s yang terbit di Amerika mengatakan, pemerintah Saudi yang beraliran Sunni ketakutan melihat kekuatan kelompok Houthi yang beraliran Syiah, yang konon mendapat dukungan Iran, dan merupakan musuh besar Arab Saudi.

“Arab Saudi takut bahwa Iran akan membangun pangkalan di perbatasan selatannya. Tapi ini sebenarnya hanyalah ketakutan yang tidak beralasan, alias paranoia, karena Iran tidak punya maksud seperti itu. Iran memang punya hubungan dengan kelompok Houthi yang merupakan kelompok agama minoritas, di Yaman bagian utara yang berbatasan dengan Arab Saudi.”

Hanya dua minggu setelah koalisi yang dibentuk Arab Saudi melancarkan serangan atas Yaman dengan menggunakan pesawat dan bom buatan Amerika, wakil menteri LN Amerika Tony Blinken pada waktu itu pergi ke Riyadh untuk minta penjelasan.

“Blinken bertanya kepada para pejabat Saudi, apa yang hendak kalian capai dengan pengeboman ini? Pihak Saudi menjawab, “kami ingin memusnahkan kelompok Houthi,” yang dianggapnya sebagai kekuatan pro-Iran di Yaman.”

Tony Blinken, kata Andrew Cockburn, menyampaikan kepada pihak Saudi bahwa ia sepakat kelompok Houthi harus dicegah supaya jangan berkuasa di Yaman, dan pemerintah Saudi melihat sikap Amerika itu semacam persetujuan tersirat untuk melancarkan pengeboman siang-malam di Yaman.

Tapi menurut Indeks Pembangunan Manusia PBB, Yaman adalah salah satu negara paling miskin di dunia, pada urutan ke-154 dalam daftar 187 negara. Satu dari tiap lima warga Yaman atau 20 persen penduduknya kelaparan, dan satu dari tiap tiga orang tidak punya pekerjaan. Tiap tahun 40.000 anak-anak mati sebelum berusia lima tahun, dan para pakar mengatakan, negara itu akan kehabisan sumber-sumber air minum dalam waktu dekat.

Senator Partai Demokrat Chris Murphy sangat menentang dukungan Amerika atas kampanye pengeboman Arab Saudi di Yaman. Katanya kepada stasiun televisi CNN:

“Ada keterlibatan Amerika dalam tiap kematian warga sipil di Yaman. Mengapa? Karena pemerintah Saudi tidak akan bisa menggunakan pesawat tempur dan menjatuhkan bom tanpa bantuan Amerika. Mereka menggunakan senjata buatan Amerika yang kita jual kepada pemerintah Saudi. Dinas intelijen kita membantu pihak Saudi untuk memilih sasaran untuk diserang.”

Kita, kata senator Murphy lagi, telah memutuskan untuk ikut perang secara tidak langsung di Yaman, untuk melawan pemberontak Houthi yang sama sekali tidak merupakan ancaman bagi keamanan Amerika.

Kata Senator Murphy, Kongres Amerika bisa menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi, tapi wartawan Andrew Coburn mengatakan, ini akan bertentangan dengan kebijakan pemerintah Amerika untuk mendukung industri senjatanya.

Kata Andrew Cockburn, wartawan majalah Harper’s kepada stasiun televisi Democracynow:

“Pemerintah Amerika telah mengumumkan penjualan senjata kepada Arab Saudi bernilai 60 milyar dollar, paling besar dalam sejarah Amerika. Penjualan itu mencakup pesawat tempur F-15, bom dan peluru kendali dan segala peralatan yang terkait. [ii]

XS
SM
MD
LG