Tautan-tautan Akses

Perancis Siap Hancurkan Kamp Pengungsi 'The Jungle'

Kamp migran 'Jungle' di Calais, Perancis, yang dijadwalkan akan dihancurkan akhir tahun. (VOA/L. Bryant)
1/8 Kamp migran 'Jungle' di Calais, Perancis, yang dijadwalkan akan dihancurkan akhir tahun. (VOA/L. Bryant)
Salah satu dari banyak pagar yang dibangun sekitar Calais, Perancis, untuk mencegah migran naik truk, kereta api dan feri ke Inggris. (VOA/L. Bryant)
2/8 Salah satu dari banyak pagar yang dibangun sekitar Calais, Perancis, untuk mencegah migran naik truk, kereta api dan feri ke Inggris. (VOA/L. Bryant)
Zimako Jones (kanan) dari Nigeria, yang mendirikan sekolah migran di kamp 'Jungle (hutan)' di Calais, berbicara dengan para tenaga pengajar sukarela. (VOA/L. Bryant)
3/8 Zimako Jones (kanan) dari Nigeria, yang mendirikan sekolah migran di kamp 'Jungle (hutan)' di Calais, berbicara dengan para tenaga pengajar sukarela. (VOA/L. Bryant)
Frederic Van Gansbeke di toko roti miliknya di Calais, Perancis. (VOA/L. Bryant)
4/8 Frederic Van Gansbeke di toko roti miliknya di Calais, Perancis. (VOA/L. Bryant)
Seorang migran sedang belajar di sekolah Zimako Jones, salah satu dari beberapa sekolah darurat di kamp Jungle di Calais, Perancis. (VOA/L. Bryant)
5/8 Seorang migran sedang belajar di sekolah Zimako Jones, salah satu dari beberapa sekolah darurat di kamp Jungle di Calais, Perancis. (VOA/L. Bryant)
Kata-kata dalam Bahasa Arab dan Perancis di papan tulis di sekolah migran di Calais, Perancis.(VOA/L. Bryant)
6/8 Kata-kata dalam Bahasa Arab dan Perancis di papan tulis di sekolah migran di Calais, Perancis.(VOA/L. Bryant)
Gereja di kamp migran Jungle di Calais, Perancis.(VOA/L. Bryant)
7/8 Gereja di kamp migran Jungle di Calais, Perancis.(VOA/L. Bryant)
Pembangunan tembok yang dibiayai Inggris sekitar pelabuhan Calais, yang dijadwalkan selesai akhir tahun. (VOA/L. Bryant)
8/8 Pembangunan tembok yang dibiayai Inggris sekitar pelabuhan Calais, yang dijadwalkan selesai akhir tahun. (VOA/L. Bryant)
Previous slide
Next slide

Para migran - umumnya laki-laki dari Afghanistan, Sudan, Ethiopia dan Eritrea - akan diangkut bus ke tempat penampungan sementara, di mana mereka bisa meminta suaka.

Pejabat-pejabat Perancis siap mengosongkan dan menghancurkan kamp pengungsi yang disebut "The Jungle," dekat kota pelabuhan Calais di bagian utara.

Pemindahan sedikitnya 6.486 orang -- kelompok bantuan memperkirakan 8.300 migran, yang hidup dalam kondisi kumuh itu diperkirakan berlangsung seminggu.

Para migran tersebut akan ditawari tempat di pusat-pusat pengungsian di seluruh Perancis dan kesempatan mendapatkan suaka. Tetapi ada kekhawatiran sebagian migran menolak pindah karena mereka tetap ingin ke Inggris, melintasi Selat Inggris dari Calais.

Inggris sudah mulai menerima sekitar 1.300 anak yang tinggal di kamp sendirian. Kamp itu bermunculan 18 bulan lalu di daerah berpasir. Belum jelas berapa banyak anak yang akan diterima Inggris. Namun Kementerian Dalam Negeri Inggris mengatakan hari Minggu (23/10), kelompok pertama dari 70 anak, yang tidak punya kerabat di Inggris, tiba di negara itu.

Sementara itu, ketegangan meningkat di kamp. Pejabat-pejabat Perancis membagikan ribuan selebaran dalam beberapa bahasa, mendesak migran menepis impian ke Inggris dan memberitahu mereka agar datang ke hanggar di dekat kamp itu Senin pagi dengan barang-barang mereka.

Dari sana, para migran - umumnya laki-laki dari Afghanistan, Sudan, Ethiopia dan Eritrea - akan diangkut bus ke tempat penampungan sementara, di mana mereka bisa meminta suaka. Sekitar 145 bus akan dikerahkan dalam tiga hari.

Kementerian Dalam Negeri Perancis mengatakan "tidak ingin menggunakan kekerasan, tetapi jika ada migran yang menolak pindah, atau LSM membuat masalah, polisi mungkin terpaksa campur tangan." [ka]

This item is part of
XS
SM
MD
LG