Tautan-tautan Akses

Peran Warga Arab dalam Penanganan Pandemi Covid-19 di Israel


Para petugas medis yang merawat pasien Covid-19 di rumah sakit Wolfson Medical Center di Israel. Banyak dari perawat dan dokter Israel adalah warga keturunan Arab.

Setelah tujuh minggu berada dalam keadaan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), jumlah perebakan virus corona di Israel, seperti di banyak negara lain, terlihat mengecil. Pada hari Senin (11/5), di negara berpenduduk sembilan juta orang itu lebih dari 250 orang meninggal dan jumlah infeksi baru menurun dengan cepat. Tidak seperti perang lainnya di Israel, di mana pasukannya berada di barisan terdepan, kali ini sistem medis yang memimpin di garis depan, dan warga Arab Israel merupakan bagian dari barisan itu.

Warga Arab Israel menonjol dalam bidang medis dan banyak yang mengatakan peran mereka dalam krisis yang kini berlangsung bisa mengisyaratkan adanya perubahan dalam masyarakat Israel.

Para staf medis yang memakai masker mempersulit pasien Covid 19 untuk berhubungan secara pribadi dengan dokter dan perawat mereka. Oleh karena itu, para staf medis memakai stiker pada gaun yang menunjukkan wajah penuh mereka - dan nama, baik dalam bahasa Yahudi maupun Arab.

Dokter-dokter Arab Israel mengatakan bahwa mereka selalu merasa setara dan dihormati di rumah sakit. Kini mereka berharap itu akan meluas ke seluruh Israel.

Dr. Ahmed Naama, dokter Arab Israel yang menjabat sebagai kepala Unit Gawat Darurat, Rumah Sakit Hadassah, mengatakan, “Jadi sekarang, semua media di seluruh Israel, di seluruh dunia menunjukkan siapa yang berada di garis depan, kan? Dokter bagian gawat darurat, misalnya, kami ada di garis depan. Dokter-dokter Arab dan Yahudi selalu ada di sana, tetapi sekarang, karena krisis global, seperti iklan, mereka ada di mana-mana. Jadi, saya pikir kesadaran telah meningkat dalam periode ini.”

Dr. Naama merasa sangat nyaman dalam masyarakat Israel tempat dia dilahirkan. Tetapi warga negara Arab Israel lainnya, yang merupakan 21% dari populasi Israel, mengeluhkan adanya diskriminasi.

Menjembatani kesenjangan ini adalah tujuan dari organisasi koeksistensi Israel yang baru-baru ini memproduksi video tentang kontribusi warga Arab Israel yang bekerja di bidang perawatan kesehatan dalam perang melawan COVID-19. Video itu telah beredar secara viral dan ditonton lebih dari dua juta kali di Israel.

Tidak lama sebelum krisis corona meletus, hasil pemilihan nasional terbaru menunjukkan partisipasi yang lebih besar oleh warga Arab dalam masyarakat Israel, memberikan suara dalam jumlah besar dan memenangkan 15 kursi parlemen yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Thabet Abu Ras adalah warga Arab Israel yang bekerja untuk sebuah LSM Abraham Initiatives. “Krisis corona meningkatkan Israelisasi warga Arab. Mereka menjadi lebih Israel. Mereka merasa seperti orang Israel. Kami mengalami krisis yang sama dan kami benar-benar memberikan sumbangan kami dalam melawan krisis ini,” katanya.

Di rumah sakit Hadassah, para pasien dan dokter selalu bersama-sama, baik sebagai orang Yahudi maupun Arab.

Naela Hayek bekerja sebagai perawat kepala di Unit Perawatan Intensif (ICU) di Rumah Sakit Hadassah. Ia mengatakan, “Saya kira ini adalah kehidupan kami sehari-hari. Saya bekerja di sini dengan Moshe, saya bekerja di sini dengan Haitham, begitulah setiap hari. Bagi saya sebagai perawat, itu normal. Mungkin ini perlu diketahui oleh semua orang dan seluruh dunia, bahwa orang-orang Arab merawat semua pasien. Setiap perawat tahu bahwa kami bekerja sama dan kami adalah perawat.”

Satu-satunya perbedaan adalah, virus corona sekarang memberi lebih banyak orang kesempatan untuk melihat koeksistensi itu, sehingga meningkatkan harapan bahwa kesadaran ini akan berlanjut lama setelah virus menghilang. [lt/ii]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG