Tautan-tautan Akses

Peran Perempuan Dalam Jurnalistik di Pakistan


Para wartawan sedang meliput aksi memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia di Islamabad, Pakistan, 3 Mei 2018. (Reuters: Faisal Mahmood)
Para wartawan sedang meliput aksi memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia di Islamabad, Pakistan, 3 Mei 2018. (Reuters: Faisal Mahmood)

Industri media di Asia Selatan, khususnya di Pakistan, dijalankan oleh laki-laki. Tetapi beberapa tahun terakhir ini, semakin banyak perempuan yang memasuki dunia ini. Perempuan meraih kesempatan dan mengambil risiko dengan berada di belakang mikrofon dan kamera untuk meliput berbagai topik.

Sebuah ledakan bom pada 21 November lalu membuat wartawan Kiran Khan luka-luka, tetapi tidak memadamkan hasratnya dalam bidang jurnalistik. Kepala biro AAP News itu mengatakan.

“Ayah saya sangat kesal dan ia meminta saya berhenti. Ia mengatakan saya telah mencapai tujuan hidup untuk menjadi wartawan, tetapi kini saatnya untuk berhenti,” kata Kiran Khan, kepala biro AAP News menceritakan pembicaraan dengan ayahnya.

“Saya bertanya kepadanya ‘apakah ayah merasa putrimu ini selemah itu?’ Sejak saat itu ayah tidak pernah lagi meminta saya berhenti dari pekerjaan saya sebagai wartawan,” tuturnya.

Para jurnalis meneriakkan slogan-slogan dalam unjuk rasa menentang PHK di Karachi, Pakistan, 26 Februari 2019. (Foto: Akhtar Soomro/Reuters)
Para jurnalis meneriakkan slogan-slogan dalam unjuk rasa menentang PHK di Karachi, Pakistan, 26 Februari 2019. (Foto: Akhtar Soomro/Reuters)

Khan saat ini bekerja sebagai kepala biro, tetapi ia mengatakan selalu berada di bawah tekanan hebat sebagai wartawan profesional.

“Saya selalu mendapat ancaman, jadi kita harus bisa mengelola tekanan itu. Belum lagi tekanan dari keluarga yang selalu menanyakan mengapa harus meliput hal ini. Juga tekanan pekerjaan yang mengharuskan kita meliput tepat waktu dan akurat. Kita terus diuji dengan berbagai tekanan itu, tetapi kita terus bekerja,’’ ujarnya.​

Iqra Baiq memasuki dunia jurnalistik pada 2011 dengan harapan dapat menjadi wartawan politik. Tetapi saat ini ia meliput di bidang budaya dan hiburan.

"Dulu saya diharuskan mengenakan pakaian tertentu, memakai riasan yang bagus, menjadi lebih rapi dan secara terang-terangan diberitahu bahwa mungkin setelah itu baru saya mendapat pekerjaan di bidang ini," kata Baiq.

"Tapi saya bertahan dan tidak menyerah. Ini adalah kantor keempat di mana saya bekerja sebagai wartawan dan orang-orang menyukai pekerjaan saya,’’ ujarnya.

Mahasiswa psikologi di luar Pusat Trauma untuk wartawan di Peshawar, Pakistan 24 November 2014. Kekerasan ekstreme dan ancaman membuat banyak wartawan Pakista menderita stres pasca trauma.
Mahasiswa psikologi di luar Pusat Trauma untuk wartawan di Peshawar, Pakistan 24 November 2014. Kekerasan ekstreme dan ancaman membuat banyak wartawan Pakista menderita stres pasca trauma.

Khan dan Baiq telah mengasah keterampilan jurnalistik mereka selama hampir satu dekade di industri ini.

Sementara disisi lain Mania Shakeel baru memulai karirnya. Ia mengatakan tujuannya adalah mengubah persepsi bahwa perempuan tidak bisa menjadi wartawan yang kredibel.

"Perempuan sering dinilai sebagai perempuan dulu, baru kemudian sebagai wartawan. Sayangnya, kita harus mulai dengan meyakinkan massa bahwa perempuan juga bisa lari dalam cuaca panas dan mengejar berita, perempuan bisa berdiri di dekat lokasi ledakan bom dan melakukan live report. Memastikan bahwa perempuan memang kuat,” kata Mania menegaskan.

Terlepas dari semua tantangan itu, segelintir wartawan perempuan di Pakistan telah melakukan apapun supaya dapat unjuk gigi di industri yang didominasi laki-laki di negara itu. [em]

XS
SM
MD
LG