Tautan-tautan Akses

Pentagon: Dokumen Rahasia yang Bocor Timbulkan “Risiko Serius”


Seorang anggota pasukan Ukraina berdiri di dekat sebuah tank di dekat garis depan pertempuran di Kota Bakhmut, Ukraina, pada 10 April 2023. (Foto: Reuters/Oleksandr Klymenko)
Seorang anggota pasukan Ukraina berdiri di dekat sebuah tank di dekat garis depan pertempuran di Kota Bakhmut, Ukraina, pada 10 April 2023. (Foto: Reuters/Oleksandr Klymenko)

Juru bicara Pentagon, pada Senin (10/4), mengatakan bocornya sejumlah dokumen sangat rahasia tentang perang di Ukraina menimbulkan risiko “sangat serius” terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.

Dokumen itu mencakup informasi sensitif tentang perang Rusia di Ukraina, serta tentang beberapa sekutu AS. Bocornya sejumlah dokumen tersebut telah mendorong Departemen Kehakiman untuk melakukan investigasi akan kebocoran itu.

Asisten Menteri Pertahanan untuk Urusan Publik, Chris Meagher, mengatakan kepada wartawan, materi yang telah beredar di berbagai situs media sosial itu “berpotensi menyebarluaskan disinformasi.”

“Kami masih menyelidiki bagaimana hal ini dapat terjadi, serta ruang lingkup dampaknya. Ada langkah-langkah untuk mengkaji lebih seksama bagaimana jenis informasi ini didistribusikan dan kepada siapa saja,” tambah Meagher.

Meagher mengatakan dokumen yang bocor itu tampaknya memiliki format yang mirip dengan dokumen yang digunakan untuk memberikan pembaruan informasi kepada para pemimpin senior, tetapi sebagian foto atau gambar tampaknya telah diubah. Ia menambahkan perubahan itu tampaknya dilakukan untuk mengecilkan perkiraan korban perang Rusia di Ukraina.

Dokumen Sangat Rahasia Beredar di Sosmed Sejak Februari

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Llyod Austin telah diberi informasi tentang kebocoran dokumen ini pada tanggal 6 April ketika surat kabar The New York Times memberitakan hal tersebut.

Dokumen yang bersifat sangat rahasia tersebut pertama kali muncul di media sosial Discord pada akhir Februari, dan kemudian menyebar ke berbagai situs media sosial lainnya, termasuk Telegram dan Twitter. Namun hal ini tidak menarik banyak perhatian hingga saat The New York Times memberitakan hal itu minggu lalu.

Sementara itu di Gedung Putih, juru bicara Dewan Keamanan Nasional John Kirby mengatakan, pada Senin (10/4), kepada wartawan bahwa masih banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang kebocoran dokumen itu.

“Kami tidak tahu siapa di balik bocornya dokumen-dokumen ini. Kami tidak tahu motifnya. Dan kami tidak tahu berapa banyak lagi dokumen yang berada di luar sana,” ujarnya.

Kirby menambahkan bahwa Presiden Joe Biden telah diberitahu tentang masalah tersebut akhir pekan lalu, dan terus menjalin kontak dekat dengan para pejabat keamanan nasional.

AS Sudah Hubungi Sekutu

Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Vedant Patel mengatakan pejabat-pejabat Amerika Serikat telah menghubungi sekutu mereka terkait bocornya dokumen sangat rahasia itu, “termasuk memastikan komitmen kami untuk menjaga informasi intelijen.”

Departemen Pertahanan memimpin penyelidikan antar-departemen untuk menyelidiki insiden bocornya dokumen sangat rahasia tersebut, sementara Departemen Kehakiman telah memulai penyelidikan pidana.

Kebanyakan dokumen yang bocor itu terkait perang di Ukraina dan sejumlah informasi sensitif tentang kapabilitas tempur negara itu. Namun dokumen itu juga memuat informasi tentang sekutu-sekutu AS, termasuk Israel, Turki dan Korea Selatan. [em/jm]

Wartawan VOA Jeff Seldin dan Nike Ching berkontribusi pada artikel ini. Sebagian informasi dalam artikel juga berasal dari The Associated Press, Agence France-Presse dan Reuters.

Forum

XS
SM
MD
LG