Tautan-tautan Akses

Penjual Popcorn Asal Pakistan Buat Pesawat Sendiri


Muhammad Fayyaz (kanan) berbicara dengan para pengunjung sambil berdiri di sebelah pesawat mini hasil karyanya di Desa Tabur, Provinsi Punjab, 8 April 2019. (Foto: AFP)

Mesinnya dari alat pemotong aspal, sayapnya dari karung goni, roda-rodanya diambil dari roda becak. Seorang penjual popcorn atau berondong menarik perhatian Angkatan Udara Pakistan karena berhasil membuat pesawat sendiri.

Dilansir kantor berita AFP, kisah Muhammad Fayyaz membuat banyak orang di negara di mana jutaan warga seperti dirinya, memiliki akses pendidikan terbatas dan berjuang untuk mendapat kesempatan.

“Saya benar-benar mengangkasa di udara. Saya tidak bisa merasakan lainnya,” kata Fayyaz menceritakan penerbangan pertama dengan menggunakan pesawat yang dia bangun hanya dengan menonton tayangan TV dan cetak biru online.

Sebelumnya Pakistan pernah dikejutkan oleh cerita-cerita keajaiban ilmiah. Salah satunya yang paling menghebohkan adalah ketika seorang ahli mesin mengatakan pada 2012 bahwa dia menciptakan mobil yang berbahan bakar air. Kisah itu kemudian dibantah oleh para ilmuwan.

Namun Fayyaz bersikeras dia bisa terbang dan klaimnya diperhatikan serius oleh angkatan udara. Fayyaz mengungkapkan, perwakilan dari Angkatan Udara Pakistan sudah berkali-kali mengunjunginya dan bahkan mengeluarkan sertifikat untuk memuji hasil karyanya.

Banyak pengunjung berdatangan ingin melihat pesawat hasil karyanya yang sekarang terparkir di lapangan di rumahnya di Desa Tabur, di Provinsi Punjab.

Mimpi Pesawat Jet

Pria berusia 32 tahun itu saat kecil bermimpi untuk bergabung dengan Angkatan Udara. Namun ketika ayahnya meninggal, dia harus berhenti sekolah saat kelas delapan dan bekerja serabutan untuk menghidupi ibu dan kelima saudaranya yang lebih muda.

Saat dewasa, mimpinya untuk terbang tidak pupus. Dia kemudian bertaruh untuk mimpi baru dan menggunakan semua yang dia miliki untuk menciptakan karyanya.

Siang hari, dia bekerja sebagai penjual berondong jagung. Malam hari, dia bekerja sebagai penjaga keamanan. Dia menabung setiap rupee yang bisa dia sisihkan.

Hal pertama yang harus dia lakukan adalah mengumpulkan informasi. Fayyaz memulai dengan menonton episode Investigasi Kecelakaan Udara dari National Geographic untuk mendapatkan informasi mengenai daya dorong, tekanan udara, daya putar, dan tenaga penggerak.

Akses internet yang murah di kota tetangga membantu mengisi kekurangan. Fayyaz mengklaim dia menyambung cetak biru yang dia temukan online untuk ciptaannya.

Muhammad Fayyaz (kanan) berdiri di sebelah pesawat mini hasil karyanya di rumahnya di Desa Tabur, Provinsi Punjab, 8 April 2019.
Muhammad Fayyaz (kanan) berdiri di sebelah pesawat mini hasil karyanya di rumahnya di Desa Tabur, Provinsi Punjab, 8 April 2019.

Dia juga menjual sebagian lahan milik keluarga dan mengambil pinjaman sejumlah 50 ribu rupee atau sekitar Rp 10,3 juta dari sebuah lembaga simpan pinjam. Hingga sekarang Fayyaz masih mencicil pinjaman tersebut.

Dia dengan kreatif memanfaatkan dana minim itu. Membeli karung goni dari grosir dan membujuk seorang karyawan bengkel, yang melihatnya mencari bahan-bahan, untuk membuatkannya baling-baling.

Selanjutnya adalah uji coba. Beberapa peralatan harus diganti, desain harus diubah, kabel-kabel harus disusun ulang.

Meski keluarganya khawatir dia terobsesi, Fayyaz tidak menyerah. Hasilnya? Pesawat mungil, rapuh dan dicat biru terang.

Ditahan Bersama Kriminal

Februari tahun ini, setelah dua tahun menghadapi cemoohan, Fayyaz siap.

Fayyaz mengaku teman-temannya membantunya memblokir sebuah jalan kecil yang dia gunakan sebagai landasan dalam upaya terbang pertama pada bulan Februari itu.

Pesawat sempat mencapai kecepatan 120kph sebelum lepas landas, kata Ameer Hussain, seorang saksi yang mengaku mengendarai sepeda motor di sebelah pesawat itu, kepada AFP.

“Pesawat itu terbang antara dua dan dua setengah kaki di atas tanah,” katanya. “Pesawat itu terbang sekitar dua-tiga kilometer sebelum mendarat.”

AFP belum berhasil memverifikasi klaim tersebut.

Namun, Fayyaz mencoba lagi di depan para penduduk desa yang mencemooh usahanya.

Dia memilih Hari Pakistan, 23 Maret untuk hari besarnya. Polisi mengatakan ratusan orang berkerumun dekat pesawat mungilnya. Banyak di antara mereka menggenggam bendera nasional Pakistan.

Belum juga Fayyaz menyalakan mesinnya, polisi tiba dan menahannya serta menyita pesawatnya.

“Saya merasa saya sudah melakukan perbuatan terburuk di dunia, saya merasa seperti orang paling buruk di Pakistan,” katanya. “Saya ditahan bersama para kriminal.”

Pengadilan membebaskan Fayyaz dengan denda 3.000 rupee atau sekitar Rp 618.000 rupiah.

Ketika AFP mengunjungi kantor polisi setempat, para pejabat mengatakan dia ditangkap karena pesawatnya dianggap mengancam keselamatan.

Polisi Zafar Iqbal menjelaskan: “Pesawat dikembalikan sebagai tanda itikad baik. Bila dia sudah punya izin terbang, dia bebas untuk terbang.”

Nasib apes Fayyaz ternyata berbuah ketenaran di media sosial. Beberapa netizen memanggilnya “pahlawan” dan “inspirasi.”

Perwakilan dari Angkatan Udara Pakistan sudah dua kali mengunjunginya untuk melihat pesawat itu. Komandan lapangan udara setempat memberikan sertifikat yang memuji “semangat dan ketangkasannya” dalam membangun “pesawat mini dasar.” [ft/dw]

XS
SM
MD
LG