Tautan-tautan Akses

Pengusaha Internasional Pamerkan Produk Terobosan di SXSW


Stan perusahaan asal Bali, Avani, di SXSW, Austin, Texas.

Setiap tahun, pengusaha teknologi berbakat dari seluruh dunia datang ke konferensi South by Southwest (SXSW) di Austin, Texas untuk membuktikan kemampuan mereka. Wartawan VOA Tina Trinh bertemu dengan sebagian di antaranya untuk mencari tahu apa yang mereka lakukan supaya menonjol.

Di tengah keramaian konferensi South by Southwest di Austin, Texas baru-baru ini, ide-ide aneh justru menonjol.

Seperti tes DNA bagi kucing yang digagas oleh Basepaws. Salah seorang pendiri dan CEO-nya Anna Skaya mengatakan, "Orang-orang menyambut baik gagasan tes genetika hewan peliharaan. Ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Kami adalah salah satu perusahaan pertamayang melakukannya."

Lewat konferensi ini, Anna Skaya ("SKAI-yuh") dan timnya berhasil memperoleh dana awal untuk perusahaan rintisan Basepaws yang baru berusia tujuh bulan. Skaya berasal dari Rusia. Dia bertemu rekan sejawatnya, yang juga seorang imigran, di Amerika.

"Kami senang sekali bisa menjalin hubungan internasional. Misalnya, kami mendapatkan banyak kontak dari dunia sains dan berhasil meraih perjanjian yang menguntungkan karena bisa menjalin hubungan dengan para ilmuwan dan pelaku bidang teknologi di luar AS," ungkap Skaya.

Perspektif internasional juga membantu memberikan inspirasi bagi produk-produk terobosan, seperti plastik yang mudah terurai hayati atau biodegradable yang diciptakan perusahaan rintisan Indonesia, Avani. Pendirinya, Kevin Kumala adalah seseorang yang hobi berselancar dan pernah mempelajari biokimia di AS sebelum pulang ke tanah air.

Pendiri Avani, Kevin Kumala, diwawancarai VOA di SXSW, Austin, Texas.
Pendiri Avani, Kevin Kumala, diwawancarai VOA di SXSW, Austin, Texas.

"Sewaktu saya pulang ke Bali, saya tidak lagi berselancar di ombak, melainkan di sampah plastik (yang mencemari pantai), dan itu sangat menjijikkan," kata Kumala.

Kumala mengembangkan plastik ramah lingkungan terbuat dari singkong yang mudah terurai di air dan bahkan bisa menjadi makanan bagi satwa laut.

Di sisi lain pameran, para perwakilan perusahaan rintisan China Philm mendemonstrasikan filter foto dan video bagi perangkat mobile. Salah seorang pendirinya Yin Zhang menceritakan tentang tantangan mendirikan perusahaan rintisan di China.

"Apabila Anda memiliki perusahaan rintisan kecil dengan performa yang cukup di AS, Anda bisa hidup sejahtera. Tapi di China, ada lebih banyak kompetisi. Jadi untuk setiap satu gagasan yang Anda kerjakan, mungkin ada 10 perusahaan rintisan lain yang mengerjakan hal yang serupa," jelas Zhang.

Lalu apa kuncinya supaya tetap unggul? Terus mengikuti teknologi terbaru seperti teknologi machine learning atau pembelajaran mesin, yang digunakan dalam aplikasi Philm.

"Kami mengoptimalkan jaringan saraf artifisial agar bisa bekerja sangat cepat dalam sistem mobile, itu adalah teknologi inti kami," tambah Zhang.

Terlepas dari negara asal mereka, di South by Southwest, para pengusaha muda ini punya semangat yang sama untuk terus mengembangkan teknologi dan inovasi. [vm/al]

XS
SM
MD
LG