Tautan-tautan Akses

Pengungsi Rohingya di Bangladesh Terancam Menderita dalam Musim Dingin


Anak-anak pengungsi Muslim Rohingya Muslim antri pembagian makanan di kamp Ukhiya, Bangladesh. Anak-anak, yang jumlahnya mencapai 55 persen dari populasi Rohingya, sangat rentan sangat rentan terhadap ancaman musim dingin. (Foto: dok)

Badan pengungsi PBB melancarkan operasi bernilai jutaan dolar untuk mencegah ribuan pengungsi Rohingya di Bangladesh kedinginan selama musim dingin mendatang.

Badan pengungsi PBB (UNHCR) di Jenewa, Swiss hari Minggu melaporkan organisasinya akan mulai membagi-bagikan tahap pertama dari hampir 200.000 pakaian hangat untuk membantu para pengungsi Rohingya yang baru tiba untuk menghadapi musim dingin mendatang.

Lebih dari 646.000 Rohingya, yang melarikan diri dari penganiayaan dan kekerasan di Myanmar, telah tiba di Cox's Bazar, Bangladesh sejak akhir Agustus. UNHCR mengatakan khawatir akan kondisi tempat tinggal yang kumuh dan kurangnya perlindungan dari berbagai ancaman, termasuk ketidakmampuan mereka bertahan dari suhu yang lebih dingin dalam beberapa minggu dan bulan mendatang.

Juru bicara UNHCR, Babar Baloch, mengatakan musim dingin di Bangladesh lebih ringan dibandingkan kawasan lain. Tapi, dia mengatakan suhu sangat rendah pada malam hari dan warga Rohingya tidak mempunyai pakaian yang memadai dan tempat penampungan untuk berlindung.

“Anak-anak, yang jumlahnya mencapai 55 persen dari populasi Rohingya, sangat rentan. Begitu pula dengan perempuan yang jumlah lebih dari separuh pengungsi di Bangladesh. Sekitar 10 persen dari pengungsi mengalami disabilitas atau kondisi kesehatan serius atau lansia yang sangat berisiko,” ujarnya.

Selanjutnya, Baloch mengatakan UNHCR berupaya memperbaiki kualitas tempat-tempat pengungsian di kamp-kamp dan telah mendistribusikan ribuan perlengkapan tempat pengungsian baru sebagai bagian dari strategi ini. Dia mengatakan para pengungsi juga menerima bantuan seperti selimut, perlengkapan dapur dan penerangan.

Baloch mengatakan UNHCR mendistribusikan bahan bakar memasak yang terbuat dari gabah untuk menggantikan kayu bakar. Dia mengatakan ini akan melindungi anak-anak dan lingkungan. Menurutnya, anak-anak pengungsi yang mengumpulkan kayu di hutan-hutan terdekat sangat rentan jadi korban serangan dan perkosaan.

Selain itu, katanya pengumpulan kayu bakar bisa membahayakan lingkungan dengan mengurangi jumlah lahan. [vm/jm]

XS
SM
MD
LG